Hoaks dan Media Sosial

  • Whatsapp

Oleh: Hermianto
Dosen dan Tim Peneliti pada Stisipol Pahlawan 12 Sungailiat, Bangka

Perkembangan teknologi komunikasi, baik cetak maupun elektronik, sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat di suatu tempat. Teknologi sebagai jawaban atas pemikiran manusia menjadi alat untuk membantu memecahkan persoalan yang ada. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan dan perkembangan teknologi akan berdampak pada kehidupan sosial yang ada hingga mempengaruhi aspek yang lebih besar lagi yakni kebudayaan terutama pada perubahan sistem nilai dan norma baik positif maupun negatif suatu masyarakat.

Dampak positif terjadi apabila pemanfaatan teknologi digunakan untuk hal baik, bersifat profesional dan berintegritas. Artinya, penggunaan teknologi telah membawa kehidupan sosial masyarakat ke arah yang lebih baik dan membangun. Namun, cukup disayangkan bahwa kondisi seperti ini sebagian besar hanya terjadi di negara maju dengan tingkat pemahaman dan pendidikan yang cukup tinggi. Sedangkan dampak negatif terjadi apabila pemanfaatan teknologi dengan segala kemudahannya dipergunakan untuk kejahatan dan/ atau hal-hal yang tidak mendidik.

Kesalahan dalam memanfaatkan internet dapat menjadikan Teknologi Informasi sebagai sarana untuk melakukan kejahatan, termasuk penyebaran informasi fiktif atau hoaks. Secara umum, Hoaks ini dapat dipahami sebagai usaha untuk ‘mengakali’ pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu. Padahal, sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu. Karena itu, hoaks ini bertujuan membuat dan menggiring opini publik, serta membentuk persepsi, juga untuk having fun yang menguji kecerdasan/kecermatan para pengguna internet (media sosial).

Saat ini, teknis distribusi hoaks sudah semakin terbantu dengan perkembangan teknologi informasi, sehingga dalam hitungan detik saja sudah berpotensi viral ke seluruh pelosok dunia. Data Kemenkominfo menyebutkan, ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi palsu. Bahkan dalam Siaran Pers No. 01/HM/KOMINFO/01/2019 tanggal 2 Januari 2019 menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika terdapat 62 konten hoaks yang tersebar di internet dan media sosial berkaitan dengan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden dan wakil presiden.

Ciri dan Distribusi Hoaks
Direktur Informasi dan Komunikasi Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Purwanto pada bulan Maret 2018, menyebutkan informasi hoaks sudah mencakup 60 persen dari konten media sosial di Indonesia (Kompas.com). Menurut Riset Distribusi Hoaks di Media Sosial 2018 yang dikeluarkan DailySocial.id, informasi hoaks paling banyak ditemukan di platform Facebook (82,25%), WhatsApp (56,55%), dan Instagram (29,48%). Banyak responden (44,19%) tidak yakin memiliki kepiawaian dalam mendeteksi berita hoaks. Mayoritas responden (51,03%) memilih untuk berdiam diri (dan tidak percaya dengan informasi) ketika menemui hoaks. Sekitar 72% responden memiliki kecenderungan untuk membagikan informasi yang mereka anggap penting. Sebagian besar responden (73%) selalu membaca seluruh informasi. Namun, hanya sekitar setengah (55%) yang selalu memverifikasi keakuratan (fact check).

Walaupun belum terdapat data yang pasti terkait umur orang dalam penyebaran hoaks, namun dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat seperti dilansir dari Daily Mail, orang yang berusia 65 tahun atau lebih menyebar hoaks tujuh kali lebih banyak dibanding kaum muda atau milenial yang berusia 18 hingga 29 tahun selama Pilpres AS 2016 (dunia.tempo.co). Namun, yang pasti penyebaran berita bohong tersebut tidak mengenal usia yang dilakukan anak muda, maupun orang tua (berusia dewasa).

Penyebaran berita hoaks, siapapun dapat melakukannya dan apapun pekerjaannya. Dan juga fakta menariknya, tidak ada satu pun orang yang benar-benar ‘kebal’ terhadap hoaks. Siapa saja bisa menjadi korban sesatnya informasi hoaks. Era media sosial seperti saat ini, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memproduksi, mendistribusi dan mengonsumsi hoaks. Untuk itu, perlu dikenali ciri dari berita hoaks tersebut.

Berdasarkan informasi yang Penulis pahami, berita hoaks memiliki ciri sebagai berikut: Pertama, berita hoaks biasanya memiliki karakteristik surat berantai dan biasanya bersikeras untuk menyebarkan suatu paham tertentu; Kedua, biasanya berita hoaks tidak menyertakan tanggal kejadian atau tidak memiliki tanggal yang realistis atau bisa diverifikasi; Ketiga, biasanya berita hoaks tidak memiliki tanggal kadaluwarsa pada peringatan informasi; Keempat, tidak ada organisasi yang dapat diidentifikasi yang dikutip sebagai sumber informasi; Kelima, jika dilihat dari cara penulisannya memakai tehnik hypnowriting, yang mana tulisannya dibuat menonjol dan terkesan untuk menekankan sesuatu.

Lalu, mengapa orang begitu mudah percaya dengan berita bohong? Menurut Laras Sekarasih (2017), ada dua faktor yang dapat menyebabkan seseorang cenderung mudah percaya pada hoaks. Pertama, adanya perasaan terafirmasi dan anonimitas pesan hoaks itu sendiri. Perasaan afirmasi timbul jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki sehingga menyebabkan keinginan untuk melakukan pengecekan kebenaran terlebih dahulu menjadi berkurang. Penyebaran hoaks, selain karena adanya perasaan terafirmasi, juga dipengaruhi oleh anonimitas pesan hoaks itu sendiri. Sebagai contoh, seringkali ada awalan pesan ‘sekadar share dari grup sebelah’. Anonimitas ini menimbulkan pemikiran bahwa jika informasinya salah, bukan tanggung jawab saya, hanya sekadar share saja.

Kedua, terbatasnya pengetahuan. Tidak atau kurangnya pengetahuan tentang informasi yang diterima dapat memengaruhi seseorang untuk menjadi mudah percaya. Sebagai contoh mengenai informasi yang ramai disebarkan melalui broadcast message berisi ajakan untuk mengunduh aplikasi tertentu atau donasi melalui perusahaan tertentu. Kepercayaan terhadap informasi-informasi tersebut bisa jadi dikarenakan tidak ada pengetahuan sebelumnya mengenai aplikasi atau perusahaan yang dimaksud.

Berdasarkan uraian yang ada, hoaks ini sulit sekali dihilangkan. Namun, hoaks ini dapat diredam. Seperti kata pepatah, dimana ada kehidupan, di situ ada penyakit. Begitu pula, selama ada jaringan internet, di situ akan selalu ditemui hoaks. Pemerintah telah berbagai upaya dalam mengatasi berita hoaks ini, diantaranya pemblokiran akun palsu yang terindikasi menyebar konten negatif dan juga melakukan sosialisasi memproduksi pemberitaan kontra informasi palsu secara akurat dari data dan fakta yang ada dengan menggandeng beberapa lembaga agama, perguruan tinggi, dan tokoh masyarakat.

Namun, pada sisi lain penyebaran berita hoaks ini juga sangat tergantung pada kondisi individu, yaitu kondisi jasmaniah dan rohaniahnya. Karena itulah, penerimaan infomasi perlu didukung dengan frame reference (kerangka rujukan) dan field of experience (lapangan pengalaman) dari individu tersebut. Wallahu A’lam. (***)

Related posts