Hingga Maret, Bangka Catat 42 Kasus DBD

  • Whatsapp

SUNGAILIAT – Sepanjang Januari hingga Maret 2020, terdapat 42 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang tercatat di Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka. Kabid Pengendalian Penyakit, Nora melalui Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, Sopianto mengatakan, daerah yang paling banyak kasus DBD tersebut terdapat di daerah Kecamatan Petaling yakni mencapai 11 kasus.

Read More

“Dari 12 puskesmas kita, cuma tiga daerah yang belum ada kasus yakni Puding Besar, Riau Silip dan Bakam. Yang paling banyak kasusnya hingga saat ini daerah Petaling,” ungkapnya kepada Rakyat Pos, Kamis (25/3/2020).

Meskipun begitu, Sopianto mengatakan tidak ada korban yang meninggal dunia dari kasus DBD tersebut, dimana pada tahun 2019 lalu terdapat dua orang pasien meninggal akibat DBD.
“Tahun lalu ada 158 kasus. Mudah-mudahan tahun ini tidak ada yang sampai meninggal. Kita juga terus melakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk-red) melalui puskesmas masing-masing,” terangnya.

Selain itu, pihaknya terus mensosialisasikan penanggulangan perkembangbiakan jentik nyamuk kepada masyarakat melalui gerakan 3M Plus, yakni menutup, menguras, menimbun tempat penampungan air. Masyarakat diharapkan dapat memeriksakan kesehatannya ke fasilitas kesehatan (faskes) terdekat apabila mengalami gejala DBD.

“Kalau ke faskes kan, nantinya bisa diberikan penanganan. Itu agar bisa diberikan pemeriksaan lebih lanjut. Kalau nanti ada gejala pilek, demam, jangan takut kalau itu Corona, karena DBD juga seperti itu, cuma kalau corona ada sesak nafas,” terang Sopianto.

Pihaknya akan meminta puskesmas yang sudah ada kasus DBD agar lebih intensif melakukan pemeriksaan dan pemberantasan sarang nyamuk. “Kita selalu melakukan pemeriksaan jentik secara berkala, pemberantasan sarang nyamuk terlebih lagi daerah yang sudah ada kasusnya,” jelasnya.

Ia mengaku pihaknya sudah bekerjasama dengan lintas sektoral dan puskesmas dalam hal Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) setiap tiga bulan sekali sesuai program. “Kita juga punya Jumantik (Juru Pemantau Jentik), tapi ini semua tergantung dengan kebiasaan dari masyarakat kita juga. Terlebih lagi seperti saat ini yang lagi musim penghujan,” tegas Sopianto. (mla/1)

Related posts