Hilangkan Keluhan Belajar dari Rumah

  • Whatsapp
Berlian Sitorus
Statistisi BPS Babel

Penerimaan siswa baru dengan pelbagai kisah pro dan kontra telah berlalu. Sekarang, proses belajar mengajar sudah dimulai. Namun sampai kini, anak didik di zona merah belum diizinkan masuk sekolah. Termasuk anak penulis, masih belajar dari rumah. Ternyata tak hanya anak, orang tua dan guru pun ikut belajar. Timbullah beberapa keluhan.

Minggu pertama, guru mengirimkan video perkenalan lewat aplikasi WhatsApp. Guru kelas mengenalkan diri bersama pengajar lain. Ditayangkan juga lingkungan sekolah, mulai dari gerbang depan hingga ke ruang kelas. Intinya, orientasi sekolah. Hari terakhir (Sabtu), Guru kelas mengirimkan video “Tepuk Corona”, pembelajaran  tentang Covid-19. “Untuk menambah wawasan anak-anak, termasuk bagaimana pencegahannya,” pungkas Guru.

Ada tiga komplain orang tua pada minggu pertama ini. Pertama, suara guru pada rekaman video tidak terdengar jelas. Mungkin Ponsel terlalu jauh saat merekam. Atau, bisa jadi persoalan pada mikrofonnya. Pengaruh angin pun bisa jadi mengurangi kualitas rekaman suara. Dari pengalaman ini, guru perlu belajar membuat rekaman video. Seandainya, instansi terkait bisa membantu fasilitas alat perekam dan tutorialnya, tentu hasilnya akan lebih baik. Mungkin dinas pendidikan, lembaga penjamin mutu pendidikan, dewan pendidikan, komite sekolah, dan sebagainya bisa berperan langsung.

Keluhan kedua, kala jadwal pelajaran dikirimkan dalam format file word. Ada orang tua yang belum bisa membuka file dokumen yang dikirimkan oleh guru. Mungkin, pada ponsel orang tua siswa belum terpasang aplikasi word. Pengalaman ini, tentu memaksa orang tua melek teknologi. Sayangnya, masalah seperti ini, tidak teridentifikasi saat pertemuan guru dengan orang tua pada hari pertama. Ke depan perlu bimbingan singkat bagi para orangtua yang masih “gaptek”.

Baca Lainnya

Komplain ketiga soal buku tematik bantuan dari Kemendikbud yang dipinjamkan kepada setiap siswa. Ternyata, ada halaman yang bolong. Ada juga yang halamannya sudah terlepas. Mengatasi keluhan ini, perlu ahlinya, mungkin dari kearsipan dan perpustakaan. Edukasi penggunaan dan perawatan buku tentu bisa meminimalkan kerusakan. Namun, mengingat penggunanya adalah siswa kelas satu SD, perlu juga disiapkan buku pengganti.

Pada minggu kedua, guru mulai mengirimkan tugas untuk dikerjakan dan dikumpulkan sebelum pukul 18.00. Ada orang tua yang minta toleransi waktu dengan alasan masih bekerja. Memang, pada saat rapat orang tua, sudah ada juga pembahasan tentang batas waktu pengumpulan tugas. Sudah diputuskan untuk memberikan toleransi waktu. Sayangnya, beberapa orang tak kunjung mengirimkan tugas pada hari yang sama.

Model belajar dari rumah seperti ini, memang membutuhkan alokasi waktu orang tua mendampingi anak. Pengalaman kami saat belajar bahasa mandarin, perlu waktu satu jam untuk mencari kosakata dan lafal. Kemudian, menghafal dan merekamnya habis waktu satu jam. Jadi, dua jam tersita untuk satu tema. Padahal, hari itu ada dua tema. Jadi, memang sangat mungkin anak tertinggal kalau orang tua tak punya waktu untuk mendampingi. Persoalannya adalah jam kerja orang tua. Kalau PNS, badan usaha maksimal 8 jam kerja per hari. Kalau bekerja sendiri tentu bisa membagi waktu untuk buah hati. Tinggal bagi pekerja non formal, perlu kebijakan dari pemilik usaha untuk memberikan toleransi jam kerja. Ini demi masa depan.

Akhirnya, tak ada gading yang tak retak. Keluhan itu ada yang bisa diantisipasi sebelum terjadi, ada juga yang belajar dari pengalaman. Kita perlu gerakan bersama menghadapi Covid-19. Jangan biarkan satu anak pun tertinggal. Semoga pandemi segera berlalu.(***).

Related posts