Hentikan Teror Sampah Plastik

  • Whatsapp

Oleh: Ana Tri Fadhilah, Anisyah, & Nur Rahma Maharani
Mahasiswi STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta

Sampah plastik tidak hanya menjadi problematika di wilayah daratan saja, akan tetapi kini semakin menyebarluas di wilayah perairan Indonesia. Perairan Indonesia yang luasnya mencapai dua pertiga dari total luas daratan semakin tercemari oleh sampah plastik. Sampai saat ini, sampah plastik mencapai kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Dimana dari tahun ke tahun penghasilan sampah plastik selalu meningkat.
Sampah plastik juga menjadi problematika yang tak berujung dengan akibat dan dampak yang semakin memprihatinkan. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2018 memproyeksikan penghasilan sampah plastik nasional sebesar 65,8 juta ton (2017), 66,5 juta ton (2018), lalu meningkat menjadi 67,1 juta ton (2019).
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatakan jenis sampah yang dihasilkan didominasi oleh sampah organik yang mencapai sekitar 60 persen dan sampah plastik mencapai 15 persen. Sementara menurut Word Ekonomic Forum menyatakan ada 150 juta ton plastik di lautan saat ini. Adapun dari hasil penelitian Jenna R Cambage (Universitas Georgea) dan kawan-kawannya menuliskan ada 275 juta metric ton sampah plastik di 192 negara berpantai.
Dari 275 juta metric ton sampah itu, sebanyak 4,8 sampai 12,7 juta metric ton nyemplung ke Samudra. Sedangkan di perairan Indonesia, berdasarkan hasil riset tim peneliti LIPI pada Desember 2018 dengan pemantauan atas 13 pesisir di Indonesia menyebutkan dalam perhitungan kasarnya diperkirakan 100-400 ribu ton sampah plastik per tahun masuk ke laut.
Mirisnya, sampah plastik ini semakin berdampak buruk bagi keseimbangan ekosistem laut. Seperti halnya, kasus yang terjadi pada tahun 2018, ditemukan bangkai paus Sperma di perairan pulau Kakota, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Sampah satwa malang tersebut mencapai total berat basah sampah 5,9 kg. Kasus lain terjadi juga di Perairan Kosta Rika, ditemukan sebuah penyu yang tersumbat hidungnya dengan sampah sedotan sepanjang 12 cm. Kasus ini sempat viral dalam sebuah unggahan video di youtube. Kasus ini kemudian diteliti oleh Cristine Viggner, seorang Biologis Kelautan dari Universitas Kelautan Texas, Amerika Serikat.
Kasus serupa terjadi di juga pada 2018 dengan sebuah unggahan video viral seorang wisatawan mancanegara yang memperlihatkan kondisi perairan di Nusa Penida, Bali yang tercemar dengan sampah-sampah plastik. Saat itu, wilayah konservasi mengrove di Muara Angke tercemar oleh lebih dari 50 ton sampah yang sebagian besar merupakan sampah plastik.

Penyebab
Menurut data dari Deputi Pengendalian Pencemaran Negara Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tahun 2008, diketahui bahwa setiap idividu rata-rata menghasilkan 0,8 kilogram sampah dalam satu hari, dimana 15 persen adalah sampah plastik. Dengan asumsi ada sekitar 220 juta penduduk di Indonesia, maka sampah plastik yang tertimbun mencapai 26.500 ton/hari, sedangkan jumlah timbunan sampah nasional diperkirakan mencapai 176.000/hari. Jumlah sampah plastik sendiri mencapai 5,4 juta ton/tahun. Sedangkan pada tahun 2009, volume timbunan sampah di 194 kabupaten dan kota di Indonesia mencapai 666 juta juta liter atau setara 42 juta kilogram.
Pada tahun 2013, jumlah sampah plastik baik di industri maupun rumah tangga mengalami peningkatan sekitar 22,58 persen dari tahun sebelumnya. Menurut Industry Update Volume 9 (2013), konsumsi plastik di Indonesia diproyeksikan mencapai 1,9 juta ton yang didominasi oleh plastik makanan yang mencapai 60 persen, sementara sisanya digunakan oleh industry besar untuk pembuatan alat-alat rumah tangga, pipa, furniture, elektronik, bagian kendaraan, dan lainnya. Menurut Menteri Kelautan, perusahaan industry Indonesia memproduksi plastik sebanyak 175 ribu ton setiap harinya.
“Tahun 2030, sampah akan lebih banyak daripada ikan kalau sampah tidak dikurangi. Mau makan sampah? Karena itu, sudah ada rencana aksi nasional penanganan sampah plastik di laut. Sebagai pribadi, sebagai Menteri, kita semua, harus buat ini sebagai program nasional,” ujar Mentri Kelautan dan Perikanan.

Penanganan
Dalam mengatasi banyaknya sampah plastik, perlu adanya kerjasama antara lembaga pemerintah, lembaga daerah maupun masyarakat. Semua pihak harus berperan aktif dalam mewujudkan hal itu. Dari sekian cara yang dilakukan, kunci utama dalam mengurangi pembengkaan sampah plastik dapat dilakukan dengan cara daur ulang, pengurangan (reduksi), dan pemanfaatan sampah plastik. Karena tidak bisa dipungkiri, bahwa sampah plastik termasuk jenis bahan yang sulit terurai.
Data dari Kementrian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan bahwa sampah plastik seperti styrofroam dapat terurai menjadi mikro plastik kurang lebih 450 tahun, adapun kantong plastik akan terurai antara 10-20 tahun, kemasan sachet akan terurai 20 tahun, botol plastik 50-80 tahun, dan sedotan plastik 20 tahun. Kasus ini menjadi polemik bagi bangsa Indonesia yang kini dikenal sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua setelah China. Hal ini akan menjadi ancaman serius bagi biota, mikroorganisme, dan ekosistem terutama ekosistem laut.
Mengatasi problematika tersebut, tindakan serta kebijakan pemerintah sebaiknya lebih tegas dalam memberikan sanksi dan hukuman bagi para pelaku yang melanggar undang-undang yang mengatur tentang pembuangan sampah plastik. Sehingga disini yang memiliki andil utama adalah pemerintah. Undang-undang yang mengatur tentang penanggulangan sampah plastik seharusnya lebih diperketat dan dipertegas.
Untuk itu, pemerintah mengeluarkan Perpres Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan Strategis Nasional yang kemudian Kebijakan Strategis Daerah (Jakstrada). “Jadi, sekarang hampir semua daerah sudah memiliki Jaksrada dalam pengelolaan sampah. Regulasi lain juga terdapat di Perpres Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut, yang berisi tentang rencana aksi pengurangan sampah plastik,” jelas Direktur Pengelolaan Sampah Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Novrizal Tahar.
Pemerintah juga berusaha mengelola sampah dari hulu sampai hilir. Di bagian hulu, pemerintah megajak produsen bicara tentang keamanan produknya. Pihak swasta ditekankan untuk mengurangi produksi dan penggunaan plastik sekali pakai secara signifikan. Inisiatif pihak swasta seperti perusahaan produsen barang kebutuhan sehari-hari harus lebih dari sekedar melakukan daur ulang akan tetapi juga terkait pengurangan produksinya.
Sementara di hilir ada masyarakat yang berperan sebagai konsumen. Di bagian ini, pemerintah mendorong masyarakat untuk memilih produk yang ramah lingkungan, seperti membawa kantong belanja sendiri, tumbler sendiri, tidak memakai sedotan plastik maupun dengan mengurangi penggunaan styrofoam. Masyarakat sebagai konsumen juga harus berusaha mereduksi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-harinya. Sehingga metode hulu dan hilir melibatkan peran pemerintah dan masyarakat. Tindakan ini akan menjadi sesuatu yang luar biasa ketika masyarakat sadar akan hal itu.
Masyarakat harus sadar akan permasalahan dan ancaman sampah plastik. Masyarakat juga harus turut aktif mensukseskan perannya demi tercapainya lingkungan yang bersih dari sampah. Karena semuanya tidak akan maksimal tanpa adanya kerjasama dengan semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat. (***).

Related posts