by

Hati Layu di Ranting yang Rapuh

-Cerpen-198 views

Karya: Rusmin

Setiap sore, wanita tua itu selalu memandang ranting yang tumbuh di pohon beringin halaman rumahnya. Ranting itu tampak sangat kecil diantara ganasnya pohon beringin besar yang sudah berumur itu.
Setidaknya semenjak dia masih balita, pohon itu telah menjadi ornamen rumah mereka. Dan ranting yang memparasitkan diri di pohon itu tak pernah patah walaupun amat kecil. Seolah menjadi penghias pohon beringin tua itu.
Setiap memandang ranting ini, wanita itu selalu terbayang dengan satu nama. Cagal. Ya, Cagal adalah lelaki yang dulu pernah mengisi hatinya saat mareka masih muda. Lelaki flamboyan itu selalu menghiasi hari-harinya dengan cerita-cerita yang indah dan memperlakukannya bak bidadari.
Saat itu dia sebagai wanita sangat terhargai mengingat banyak sekali teman-temannya yang ingin merebut hati Cagal. Tapi Cagal selalu menomorsatukan dirinya hingga dia merasa sebagai wanita pilihan dari para wanita lainnya. Apalagi diksi Cagal selalu puitis dan membuatnya tersanjung ke langit tujuh.
“Kalau saja saat ini aku sudah bekerja, tentu aku akan meminangmu untuk kujadikan permaisuri dalam hidupku. Dan aku sangat bahagia bersamamu menyongsong masa depan yang terbentang indah,” ujar Cagal saat mareka sedang berduaan di bawah pohon tua di depan rumahnya.
“Ah. Gombal. Rayuanmu sangat gombal,” jawab wanita itu.
“Suatu hari akan menjadi saksi perkataanku ini biar kamu tahu betapa aku sangat menyanyangimu hingga maut memisahkan kita,” jawab lelaki itu.
Dan sebuah cubitan penuh kasih sayang mendarat di lengan kokoh lelaki itu dari jari lembut wanita yang membuat mulut lelaki itu mengerang seolah-olah merasakan kesakitan yang luarbiasa.
Kini sudah tiga puluh tahun dirinya tak pernah bertemu dengan lelaki yang selalu berbicara puitis dengannya. Semenjak mereka tamat SMA, lelaki itu tak pernah berkabar. Entah kemana angin membawanya pergi sehingga baunya pun tak terasa di telinga. Dan sebagai wanita dirinya pun enggan menanyakan kabar lelaki itu. Dirinya masih ingat pesan yang disampaikan lelaki itu saat mereka bercerita di bawah pohon beringin tua itu.
“Kamu harus bermartabat sebagai wanita. Kodrat wanita itu menunggu pinangan dan bukan meminang lelaki. Dan kamu tidak perlu mendatangi lelaki. Tapi lelaki yang harus mendatangi kamu. Dan saya percaya kamu adalah wanita bermartabat,” ungkap lelaki itu.
Diksi itu selalu diingatnya sehingga dia sebagai wanita merasa malu untuk menanyakan kabar tentang lelaki itu. Tak terkecuali kepada angin yang bisa mengantarkan pesannya. Tak terkecuali kepada matahari yang bisa menerangi jalannya untuk bertemu dengan lelaki itu. Dan tak terkecuali kepada indahnya rembulan yang bisa menjadi cahaya petunjuk arah jalan ke tempat lelaki itu berada.
Sore itu angin berhembus dengan sepoi. Hembusannya meniupkan kesegaran di jiwa wanita tua ini. Derai ranting di pohon beringin tua itu menambah keindahan. Sementara gemercik dedaunan pohon tua itu melahirkan sebuah alunan yang sangat indah bak komposisi musik klasik ala Mozart.
Wanita tua itu memandang kegagahan pohon beringin tua. Ada kenikmatan yang tak terperikan yang dia rasakan bila berada di bawah pohon itu. Seolah-olah semua kegundahan hilang. Seakan-akan semua keresahan hatinya lenyap dibawa angin yang dilahirkan dari pohon beringin itu.
Dan wanita tua itu kaget. Jantungnya hampir copot. Sesosok lelaki tua dengan rambut yang memutih hadir di hadapannya. Dia sangat mengenal lelaki itu. Sangat kenal. Dia adalah Cagal. Lelaki idamannya.
“Aku datang memenuhi janjiku dulu. Aku akan melamarmu ketika aku sudah bekerja,” ujar Cagal.
“Apakah engkau belum beristri?” tanya wanita tua itu.
“Aku datang dengan status lajang. Aku masih membujang. Dan aku pulang hanya untuk melamarmu. Apakah engkau bersedia menerima lamaran aku lelaki tua ini?” tanya Cagal.
Rona memerah menghiasi pipi wanita tua itu. Ada rasa kebahagian yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Penantiannyapun tak sia-sia. Sementara ranting di pohon itu masih tetap bertengger di dahannya.
Angin senja itu bertiup sungguh menyejukkan. Tak terkecuali menyejukkan hati wanita tua dan Cagal yang bergandengan tangan menuju rumah. Ya, rumah yang akan menjadi tempat mereka menatap hidup dengan sisa-sisa usia yang kini sudah merenta. (***)

Comment

BERITA TERBARU