Hati-hati Mandi di Pantai Timur Bangka

  • Whatsapp
Mikron Antariksa

Ombak Laut Cina Selatan Ekstrim

SEMENTARA ITU, masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) yang kerap menghabiskan waktu liburan di pantai diimbau untuk berhati-hati ketika berwisata ke utara dan timur Pulau Bangka. Sebab, dari utara Bangka ke arah tenggara atau Pantai Timur Bangka (Sungailiat) menuju Pangkalpinang, rawan terjadi gelombang tinggi. Mengingat wilayah ini bersentuhan langsung dengan Laut Cina Selatan.

Imbauan itu disampaikan Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Bangka Belitung (Kalakhar BPBD Babel), Mikron Antariksa saat ditemui Rakyat Pos, Jumat (12/7/2019. Dia menegaskan, mulai dari Pantai Matras hingga ke arah Pangkalpinang, tanpa penghalang menuju Laut Cina Selatan. Sedangkan jika ke arah bawah menuju Selatan, di Selat Gaspar dan Delat Karimata, tertutupi oleh Pulau Belitung dan Kalimantan.
“Pantai yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan ini ombaknya lebih ekstrim, enggak normal, kadang landai, kadang menggulung,” kata Mikron.

Oleh karena itu, ia meminta pengunjung pantai-pantai seperti Matras, Tanjung Pesona, Pantai Rebo, Tikus Emas, Rambak, dan lainnya yang berada dalam satu garis dari ujung utara menuju ke arah Pangkalpinang, agar lebih waspada jika hendak mandi di laut.
“Di sana ombaknya besar, jadi harus hati-hati kalau mandi, bisa terseret gelombang,” ingatnya.
Belum lagi, dampak dari badai di tengah laut di perairan Laut Cina Selatan, yang terkadang berimbas ke pesisir pantai di wilayah Bangka.

“Kita mana tau kalau di laut Cina Selatan itu ada badai, buntutnya itu bisa berimbas ke pantai kita,” ulasnya.
Dari data yang ada di BPBD Babel, kata Mikron, sebenarnya terjadi penurunan jumlah korban di laut dari tahun 2014 hingga 2018. Yakni dari 34 orang korban pada 2014, menjadi 22 orang di tahun 2015, lalu turun lagi cuma 8 korban di 2016, kemudian naik menjadi 15 orang pada 2017 dan turun 12 orang di 2018.
Ia mengaku, BPBD kekurangan tenaga untuk memantau sejumlah lokasi pantai di Babel. Disesalkannya juga baru Kabupaten Bangka Tengah (Bateng) yang sudah memiliki BPBD sendiri, sementara kabupaten lainnya di Babel masih bergabung dengan OPD lain.

“Ada beberapa kejadian yang terjadi baru-baru ini baik di Belitung, maupun di Bangka, mewarning kita harus siap dalam hadapi perubahan. Yang terjadi bukan dari sisi banyaknya tamu (wisatawan), tapi iklim dan cuaca ekstrem,” tegasnya.
Setiap OPD terkait kebencanaan lanjutnya juga harus siap, sementara BPBD yang sebetulnya bertugas dari sisi mitigasi pengurangan risiko bencana, sudah harus disiapkan.

“Kelemahan BPBD belum ada berdiri sendiri, di Bangka masih bersatu ke Satpol-PP. Tahun depan mudah-mudahan terbentuk, kalau sudah ada mereka juga bisa membuat rencana kontijensi dan rencana aksi serta mitigasi terhadap daerah kunjungan wisata, jalur evakuasi, dan lainnya,” harap Mikron.

Ia melihat, selama ini yang sering aktif membantu ketika terjadi musibah di laut, adalah swadaya masyarakat dan juga BPBD, Basarnas, serta pihak terkait lainnya.
“Banyak relawan dari masyarakat, petugas yang ditempatkan khusus belum memadai, karena jumlah personil masih kekurangan, tak menutup kemungkinan berdayakan relawan masyarakat,” sebutnya.

Semestinya, lanjut dia hal ini juga harus menjadi perhatian pemerintah dan stakeholder terkait, untuk menyiapkan petugas yang standby berada di pantai, apalagi di musim liburan seperti sekarang ini.
“Tidak ada yang stay disana, banyak tempat wisata dikelola swasta. Mestinya swastanya dan pemerintah yang harus koordinasi, apabila sudah membuka kerjasama itu kita bisa buat jalur evakuasi atau proram perencanaan mitigasi seperti apa,” sarannya.

Mikron meminta maaf kepada masyarakat, karena tak bisa berbuat banyak bahkan sebelum terjadi musibah, hal ini dikarenakan kekurangan personil dan ditambah belum ada BPBD di daerah.

“Kami saat ini membuka diri ke pariwisata, kami mohon maaf kepada masyarakat karena kekurangan belum punya BPBD. Jika ada bisa akan langsung menunjukkan eksistensinya, bergerak lebih cepat,” imbuhnya.
Ia berharap dinas terkait, seperti Dinas Pariwisata melakukan langkah antisipasi dengan menyiapkan petugas di lokasi pariwisata, dan BPBD akan siap membantu serta melatih teknik dan lainnya.

“Yang harus dilakukan kecendrungan kegiatan pencegahan dan kesiapsiagaan. Kalau sudah terjadi kita mau ngomong apa, hanya ungkapan duka cita, makanya kedepan mari bersama kita menguatkan ini,” sebutnya.(nov/1)

Related posts