Hati-hati, Ini Lima Pantai di Bangka yang Sering Telan Korban Jiwa

  • Whatsapp

PANGKALPINANG– Liburan ke pantai terutama yang ada di Pulau Bangka memang mengasyikkan. Apalagi, jika bersama keluarga menikmati pemandangan ombak dengan pasir putihnya, berenang dan lain sebagainya.

Namun, bagi masyarakat atau wisatawan yang hendak berlibur ke pantai wilayah Bangka, mesti berhati-hati dan waspada ketika berkunjung ke sejumlah pantai, pasalnya di wilayah pantai itu sering menelan korban jiwa.

Menurut Kalakhar BPBD Babel, Mikron Antariksa di Pulau Bangka, tepatnya dari utara Bangka ke arah tenggara atau Pantai Timur Bangka (Sungailiat) menuju Pangkalpinang rawan terjadi gelombang tinggi mengingat wilayah ini bersentuhan langsung dengan Laut Cina Selatan.

“Mulai dari Pantai Matras hingga ke arah Pangkalpinang, tanpa penghalang menuju Laut Cina Selatan. Sementara jika ke arah bawah menuju selatan, di Selat Gaspar dan Selat Karimata, tertutupi oleh Pulau Belitung dan Kalimantan. Pantai yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan ini ombaknya lebih ekstrem, enggak normal, kadang landai, kadang menggulung,” kata Mikron, Jumat (12/7/2019).

Oleh karena itu, dia meminta pengunjung pantai-pantai seperti Pantai Matras, Tanjung Pesona, Rebo, Tikus Emas, Rambak dan lainnya yang berada dalam satu garis dari ujung utara menuju ke arah Pangkalpinang untuk berhati-hati ketika berenang mengingat bisa terseret gelombang.

“Belum lagi jika ada dampak dari badai di tengah laut di perairan Laut Cina Selatan, yang terkadang berimbas ke pesisir pantai di wilayah Bangka. Kita mana tau kalau di laut Cina Selatan itu ada badai, buntutnya itu bisa berimbas ke pantai kita,” ulasnya.

Dari data yang ada di BPBD, kata Mikron, terjadi penurunan jumlah korban di laut dari tahun 2014 hingga 2018. Dari 34 korban (2014), menjadi 22 (2015), 8 (2016) dan naik menjadi 15 orang (2017) kemudian turun menjadi 12 (2018).

“Ada beberapa kejadian yang terjadi baru-baru ini baik di Belitung, maupun di Bangka, mewarning kita harus siap dalam hadapi perubahan, yang terjadi bukan dari sisi banyaknya tamu, tapi iklim dan cuaca ekstrem,” terangnya.

Mikron menilai, selama ini yang sering aktif membantu ketika terjadi musibah di laut, adalah swadaya masyarakat dan juga BPBD, Basarnas, serta pihak terkait lainnya.

“Banyak relawan dari masyarakat, petugas yang ditempatkan khusus belum memadai, karena jumlah personil masih kekurangan, tak menutup kemungkinan berdayakan relawan masyarakat,” sebutnya.

Semestinya, lanjut Mikron, hal ini juga harus menjadi perhatian pemerintah dan stakeholder terkait, untuk menyiapkan petugas yang standby berada di pantai, apalagi di saat musim liburan.

“Tidak ada yang stay disana, banyak tempat wisata dikelola swasta, mestinya swastanya dan pemerintah yang harus koordinasi, apabila sudah membuka kerja sama itu kita bisa buat jalur evakuasi atau proram perencanaan mitigasi seperti apa,” sarannya.

Dia berharap dinas terkait, seperti dinas pariwisata juga melakukan langkah antisipasi dengan menyiapkan petugas di lokasi pariwisata dan BPBD akan siap membantu serta melatih teknik dan lainnya.

“Yang harus dilakukan kecenderungan kegiatan pencegahan dan kesiapsiagaan, kalau sudah terjadi kita mau ngomong apa, hanya ungkapan duka cita, makanya kedepan mari bersama kita menguatkan ini,” sebutnya.(nov)

Related posts