by

Harmoni Pendidikan Karakter dalam Keluarga

-Opini-238 views

Oleh: Ari Sriyanto, S.Pd.I
Guru PAI dan Budi Pekerti SMAN 4 Pangkalpinang

Ari Sriyanto, S.Pd.I

Keluarga adalah kekerabatan yang dibentuk atas dasar perkawinan dan hubungan darah. Kekerabatan yang berasal dari satu keturunan atau hubungan darah merupakan penelusuran leluhur seseorang, baik melalui garis ayah maupun ibu ataupun keduanya. Hubungan kekerabatan seperti ini dikenal sebagai keluarga luas (extended family) yaitu ikatan keluarga dalam satu keturunan yang terdiri atas kakek, nenek, ipar, paman, anak, cucu, dan sebagainya.

Keluarga merupakan lembaga yang utama dan pertama bagi proses awal pendidikan anak-anak untuk mengembangkan potensi yang dimiliki seorang anak ke arah pengembangan kepribadian diri yang positif dan baik. Orang tua (ayah dan ibu) memiliki tanggung jawab yang besar dalam mendidik anak-anak dalam keluarga. Fungsi-fungsi dan peran orang tua tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan fisik anak berupa kebutuhan makan dan minum, pakaian, tempat tinggal tapi juga tanggung jawab orang tua jauh lebih penting dari itu adalah memberi perhatian, bimbingan, arahan, motivasi, dan pendidikan, serta penanaman nilai.

Anak adalah tambang emas bagi orang tua, yaitu orang tua yang mampu membentuk anak-anaknya sebagai anak yang shalih dan shalihah, yang membanggakan orang tua di dunia ini dan mengangkat derajad kelak di akhirat. Kullu mauludi yuladu ‘alaa fitrah,…artinya: setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan suci, (ibarat sehelai kertas putih), demikian bunyi sebuah hadits. Kiranya anak-anak membutuhkan sang pendidik untuk menjadi insan kamil alias manusia yang sempurna.

Tumbuh berkembangnya generasi suatu bangsa pertama kali berada di lingkungan keluarga utamanya buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar. Mengajari mereka kalimat laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al¬-Quran dan As-Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada sang Pencipta, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi.

Juga di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengajarkan apa yang diperintahkan.”

Dari penjelasan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerjasama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.

Nampaknya telah terjadi pergeseran dalam mengartikan sebuah kesuksesan, apakah kesuksesan karir anak-anak adalah meraih hidup yang “berkecukupan”? Cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.

Tatkala usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan, siapa yang mau mengurus , kalau tidak pernah mendidik anak-anaknya sendiri? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah orang tua banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?
Saat malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan do’a, padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat apa-apa karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan, kalau selama ini tidak pernah mengajarkan itu kepada anak-anaknya?

Maka, yang utama dalam membangun karakter keluarga, khususnya anak, nilai yang pertama kali ditanamkan adalah aqidah, sebagaimana Luqman menasehati anaknya untuk mendirikan shalat dan tidak melakukan syirik. Setelah mengenal tauhid, anak-anak diajarkan masalah akhlak. Dinamika kehidupan anak-anak belakangan ini, jika hanya dibebankan kepada ibu sangatlah berat. Sebanyak apapun hasil kerja dari seorang ayah, tidak akan menggugurkan kewajiban sang ayah dalam mendidik anak-anaknya.

Anak tidak bisa dipisahkan dari keluarga, dengan keluarga orang dapat berkumpul, bertemu dan bersilaturahmi. Dapat dibayangkan jika manusia hidup tanpa keluarga. Tanpa disadari secara tidak langsung, telah menghilangkan fitrah seseorang sebagai makhluk sosial. Hal ini sejalan dengan pernyataan Selo Soemarjan, keluarga adalah sekelompok orang yang dipersatukan oleh pertalian kekeluargaan, perkawinan atau adopsi yang disetujui secara sosial dan pada umumnya sesuai dengan peranan-peranan sosial yang telah dirumuskan dengan baik.

Selain itu, keluarga menjadi tempat untuk mendidik anak agar pandai, berpengalaman, berpengetahuan, dan berperilaku dengan baik. Kedua orang tua harus memahami dengan baik kewajiban dan tanggung jawab sebagai orang tua. Orang tua (ayah dan ibu) tidak hanya sekedar membangun silaturahmi dan melakukan berbagai tujuan berkeluarga, seperti reproduksi, meneruskan keturunan, menjalin kasih sayang dan lain sebagainya.

Tugas keluarga sangat urgen, yakni menciptakan suasana dalam keluarga proses pendidikan yang berkelanjutan (continues progress) guna melahirkan generasi penerus (keturunan) yang cerdas dan berakhlak (berbudi pekerti yang baik). Baik di mata orang tua, dan masyarakat. Pondasi dan dasar-dasar yang kuat adalah awal pendidikan dalam keluarga, dasar kokoh dalam menapaki kehidupan yang lebih berat, dan luas bagi perjalanan anak-anak manusia berikutnya.

Keluarga sebagai sebuah lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga diharapkan senantiasa berusaha menyediakan kebutuhan, baik biologis maupun psikologis bagi anak, serta merawat dan mendidiknya. Keluarga diharapkan mampu menghasilkan anak-anak yang dapat tumbuh menjadi pribadi, serta mampu hidup di tengah-tengah masyarakat. Sekaligus dapat menerima dan mewarisi nilai-nilai kehidupan dan kebudayaan.

Di dalam pendidikan anak dalam keluarga perlu diperhatikan dalam memberikan kasih sayang, jangan berlebih-lebihan dan jangan pula kurang. Oleh karena itu, keluarga harus pandai dan tepat dalam memberikan kasih sayang yang dibutuhkan oleh anaknya. Pendidikan keluarga yang baik adalah pendidikan yang memberikan dorongan kuat kepada anaknya untuk mendapatkan pendidikan-pendidikan agama. Harmoni keluarga yang indah, orang tua yang menjadi teladan dan sosok idola bagi anak, suasana keluarga penuh keceriaan dan saling memperhatikan tanpa kecurigaan bagaikan kehidupan di dalam surga adalah dambaan setiap keluarga untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak guna menghantarkan sukses dunia dan akhirat.(****).

Comment

BERITA TERBARU