Hari Ulang Tahun Bukan Happy Birthday

  • Whatsapp

Oleh : Rani Dian Sari
Mahasiswi Sosiologi FISIP Universitas Bangka Belitung

Rani Dian Sari

Entah sejak kapan perayaan hari ulang tahun kehilangan makna yang sebenarnya. Perayaan ulang tahun atau yang lebih dikenal dengan kata ultah ditandai dengan berbagai agenda yang tidak bermakna di hari ultah seseorang yang sedang marak dikalangan remaja. Entah sejak kapan pula melempar sagu dan telur busuk kepada orang yang ultah di hari itu, seolah-olah wajib dilakukan. Do’a dan ucapan selamat ulang tahun disertai dengan lemparan telur busuk dan sagu serta terdapat banyak kejahilan didalamnya. Pada intinya, dihari hari ultah seseorang tersebut, kejutan yang seharusnya istimewa berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan.
Masih berbekas diingatan, tentang kasus remaja yang buta akibat dilempari telur busuk dihari ultahnya yang belum lama ini terjadi? Seorang remaja yang berusia belasan tahun sepulang sekolah dikerjai teman-teman dengan dilempari sagu dan telur busuk berakhir pada kebutaan. Pasalnya telur busuk yang terkena matanya terdapat bakteri. Lantas pihak mana yang mendapat kerugian dalam hal ini? Masih pantaskah hari ulang tahun dinamakan hari bahagia jika hal ini tetap dilakukan? Lantas, siapa yang akan bertanggungjawab terhadap hal demikian? Pertanyaan-pertanyaan di atas cukup mengingatkan kita bahwa tradisi semacam ini membawa dampak yang kurang baik dalam masyarakat terkhusus remaja. Kasus semacam itu juga cukup mengingatkan kita bahwa hal semacam ini tidak terjadi lagi dikalangan remaja saat ini.
Penulis bukan hendak memberi pendapat bahwa itu salah, tetapi apa gunanya jika kejutan semacam itu terjadi pada saat hari ulang tahun seseorang? Tak ubah seperti agenda balas dendam yang silih berganti sesudahnya. Apa yang salah sehingga tradisi ini kian marak dikalangan remaja yang berulang tahun? Bahkan jika ditelusuri bersama, tidak ada yang mengetahui dari mana tradisi ini muncul sehingga menjadi hal yang sering dilakukan dalam masyarakat. Bila kemudian remaja mengartikan bahwa melempar sagu dan telur busuk adalah sebuah perayaan, maka hal itu tak ubah seperti kejahatan, karena pada dasarnya tak ada yang suka jika diperlakukan demikian. Padahal, jika kita mengenal perayaan ulang tahun terdahulu, sangat berbeda dengan perayaan ulang tahun dimasa sekarang. Perayaan ulang tahun dahulu berlangsung damai dalam artian tidak ada kejahilan diluar batas seperti saat ini terjadi. Tidak ada sagu yang bertebaran maupun telur busuk yang menempel pada tubuh orang yang berulang tahun. Bahkan tidak ada kejutan yang bersifat kejahilan didalamnya, seolah-olah yang berulang tahun adalah target yang hendak dikerjai.
Tidak hanya itu, kini perayaan ulang tahun tak ubah seperti penagihan traktiran makan teman-teman yang bukan berulang tahun di hari tersebut. Entah kapan tradisi ini berbalik arah. Jika dulu yang berulang tahun adalah yang akan ditraktirkan, maka kini tidak lagi. Yang berulang tahun seakan wajib mentraktirkan teman-temannya. Jika memang objek yang dituju adalah orang mampu untuk mentraktir yang demikian, maka hal itu tidak jadi persoalan. Namun jika objek yang dituju tidak mempunyai materi untuk hal demikian, maka itu akan memberatkan objek yang dituju. Jika itu memang benar adanya, lantas bisakah lagi hari ulang tahun disebut sebagai hari bahagia?
Jika tradisi ini terus menerus berlanjut dalam artian terus dilakukan dikalangan remaja kita, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi pergeseran nilai dan budaya dalam masyarakat kita. Pertama, terjadinya pergeseran nilai dan budaya dalam masyarakat yang seharusnya tidak dilakukan menjadi hal yang biasa untuk dilakukan. Kemudian hal ini akan berdampak terhadap kualitas masyarakat dalam menyaring segala budaya baru yang masuk dikalangan masyarakat itu sendiri. Permasalahan ini tentunya perlu dikaji bersama dalam mengontrol perilaku remaja yang kurang bisa menyaring budaya yang tidak diketahui asal usulnya. Hal ini guna meningkatkan kualitas remaja dalam upaya peningkatan kualitas generasi mendatang, maka perlu adanya peningkatan pemahaman, pengetahuan, serta sikap dan perilaku positif remaja tentang nilai-nilai dan budaya bagi remaja itu sendiri. Pada dasarnya semua hal tersebut kembali lagi kepada individu dalam membentengi diri masing-masing serta menyaring setiap tindakan yang ada. Hingga saat ini, perubahan dalam perayaan hari ulang tahun kehilangan makna yang sebenarnya.(****).

Related posts