Hari Sakral, Penaklukan Konstantinopel dan Akhirnya PSBB

  • Whatsapp
MOHAMMAD RAHMADHANI
Mahasiswa S2 UIN Sunan Gunung Jati Bandung Asal Babel

Entah kebetulan atau tidak, tanggal 29 Mei 2020 Pemerintah memberlakukan “New Normal” di sebagian wilayah Indonesia. Ternyata, di hari dan tanggal yang sama tepatnya pada 29 Mei 1453/20 Jumadil Ula 857 Hijriah sama dengan 567 tahun yang lalu terhitung dari hari tersebut, terjadi peristiwa penting bagi peradaban islam di seluruh dunia.

Pasalnya, islam berhasil menaklukkan Kota Konstantinopel oleh Sultan Al Fatih dan pasukan yaniseri nya.

Diriwayatkan HR Tarmudzi bahwa “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik – baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik – baik pasukan”, (HR. Tarmidzi).

Keyakinan tinggi akan bisyaroh Rasulullah SAW Muhammad Al Fatih terus semangat untuk menaklukkan Konstantinopel sebagai mediasi dakwah memperkenalkan tauhid “Ashhadulalla illahaillah wa asyhaduanna muhammadarrasulullah”, secara seksama kita pahami syahadat merupakan pondasi islama paling utama.

Baca Lainnya

Dalam sejarah islam, ternyata penaklukan kota ini sebelumnya telah ditanamkan oleh ayahnya Sultan Murad. Maka dipersiapkan Sultan Muhammad Al Fatih sebagai sebaik – baik pemimpin. Sultan Al Fatih, dibimbing oleh dua syaikh yang selalu menanamkan ketaqwaan, mental, dan ilmu serta meyakikan bahwa dia lah sultan yang dimaksud dalam hadist tersebut.

Yang menarik dari sifatnya ialah selalu mempersiapkan visi dan misi besar. Dirinya juga sosok yang cerdas tak pernah masbuq (telat salat jamaah) selalu menunaikan salat berjamaah. Sejak baligh, dirinya tidak pernah putus salat berjamaah dijadikan sebagai mahkota dan tidak pernah putus salat rawatib dijadikan sebagai perisainya.
Untuk mencapai visinya, maka segala dipersiapkan baik aspek senjata, kekuatan pasukan, keamanan dan keuangan.

Sebelum pada penaklukan sesunnguhnya, mari simak kronologis sebelum hari penaklukan itu. Pada tanggal 27 Mei lubang cukup besar telah dibuat oleh Sultan Muhammad Al Fatih bersama pasukan. Keesokan harinya, pada tanggal 28 Mei 1453, Dia meminta pasukan untuk melakukan puasa sunnah dan membaca Alquran, demi mendekatkan diri dan meminta pertolongan pada Kholik.

Pengepungan telah terjadi lebih dari 40 hari. Maka di hari Selasa 29 Mei 1453 M, Sultan Muhammad Al Fatih memimpin tahajud dan berkhutbah di hadapan 250 ribu pasukan. “Seandainya, penaklukan Kota Konstantinopel sukses, maka sabda rasulullah telah menjadi kenyataan. Kita akan mendapatkan bagian daripada janji yaitu kemulian dan penghargaan. Untuk itu, sampaikan kepada pasukan satu persatu kemenangan besar yang kelak kita capai ini akan menambah ketinggian dan kemulian islam. Untuk itu sampaikan kepada setiap pasukan hendaklah mereka menjaga syariat Allah dan jangan sampai mereka melanggar syariat Allah yang mulia ini,” kata Sultan kala itu dihadapan pasukannya.

Atas izin Allah SWT, Sultan Muhammad Al Fatih bersama 250 ribu pasukannya berhasil menduduki Kota Konstantinopel.

Catatan penting ini, kemudian penulis aktualisasikan dalam pembukaan kebijakan “New Normal” di Indonesia sebagaimana dilegalisasi ke Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21/2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk membatasi interaksi sosial selama pandemi Covid – 19.

Pemerintah sepakat mengakhir PSBB, dan memberlakukan “New Normal” ketika beberapa daerah berhasil menaklukan Covid – 19 jika R0 atau Rt di bawah satu persen, artinya transmisi Covid – 19 mulai terkendali.

Belajar dari analogi penaklukan di atas, tentunya sangat sederhana. Warga Indonesia dalam posisi berperang melawan pandemi ini, secara kebersamaan sangat penting menghimpun gotong royong dan mengenyampungpingkan keegoisan. Kemenangan yang besar ditentukan kesiapan mulai dari ketaqwaan kepada Allah SWT, Keilmuan dan aspek sosial seperti keuangan dan ekonomi, ketika ikhtiar dengan segenap keyakinan, hanya Allah SWT mengizinkan suatu kemenangan besar.

Jika kita aktualisasi dalam konsep kepemimpinan, hanya dua level mengapa orang mengikuti kita, pertama apa yang kita perbuat pada orang lain. Kedua, siapa diri kita. Kita harus mendewasakan diri memilah berdasarkan kebutuhan. Kalau islam pernah menguasai peradaban, yakinlah kita termasuk bagian dari generasi memiliki peradaban.(***).

Related posts