by

Harga TBS Sawit Anjlok, Pemerintah Bisa Intervensi

Menentukan Batas Harga Eceran Terendah
Pemerintah juga Harus Hidupkan BUMD

TOBOALI – Harga Komoditi lokal Bangka Selatan setelah karet, lada anjlok, sekarang juga mulai menunjukkan trend turun yaitu harga TBS sawit. Saat ini, harganya sudah ada yang di bawah Rp 1000 di sebagian desa di Bangka Selatan.

Perusahaan yang memiliki pabrik pengelolahan sudah mulai selektif terhadap kualitas TBS, seperti buah yang mengkel, buah dora, buah yang tidak fresh. Hal ini menyebabkan banyak para pembeli dan pengepul sawit yang merugi akibat kualitas buah yang tidak sesuai tersebut dikembalikan alias tidak diterima.

Belum lagi pemotongan yang besar dan adanya harga yang rendah akibat kualitas tersebut. Hal ini bisa saja terjadi dengan kapasitas produksi pabrik sawit yang terbatas tetapi produksi sawit terus meningkat baik berasal dari kebun perusahaan maupun dari produksi kebun masyarakat, sehingga dengan produksi sawit yang terus bertambah setiap tahunnya tidak diimbangi dengan bertambahnya jumlah pabrik membuat pabrik sehingga tidak punya kompetitor.

Demikian dikatakan Sekretaris DPD PKS Basel, Samsir kepada wartawan Jumat (25/5/2018). Menurutnya, perusahaan akan lebih selektif dan hanya akan membeli dan menerima TBS yang berkualitas baik, dan menolak TBS yang berkualitas rendah atau walaupun diterima tetapi dengan harga yang lebih rendah atau dengan potongan yang tinggi.

Politisi PKS ini mengungkapkan pemerintah bisa melakukan intervensi dengan membuat kebijakan menentukan Batas Harga Eceran Terendah (HET) meski tidak begitu membantu seperti yang sudah dilakukan di Kabupaten Bangka.

“Masalah harga ini, mekanisme pasar yang menentukan berlaku hukum supplay and demand, permintaan terbatas atau kurang (sesuai kapasitas produksi) tetapi persediaan over maka harga akan turun. Apalagi 5 atau 10 tahun mendatang banyak sawit masyarakat yang sudah mulai panen karena hampir 30 % masyarakat di desa yang berproses sebagai petani sudah berkebun sawit, jika tidak ada muncul investasi dari investor kelapa sawit yang mendirikan pabrik dan tidak ada upaya pemerintah melalui BUMD nya untuk mendirikan pabrik sawit (pabrik mini) harga TBS ini akan lebih turun lagi dari harga Rp 1000 per kg,” ujarnya.

Samsir berharap pemerintah harus membina petani sawit tentang cara berkebun sawit dari proses pemilihan bibit, pemupukan, pemeliharaan sampai proses cara memanennya sehingga menghasilkan tandan buah segar yang berkualitas tinggi.

“Pemerintah juga harus menghidupkan BUMD nya agar dapat mendirikan pabrik kelapa sawit mini, atau menarik investor dalam kelapa sawit khusus berinvestasi dalam pengelohan tandan buah segar ( TBS ) ini menjadi CPO ( bukan buka perkebunan baru ) dengan objek membeli dan mengolah hasil produksi kelapa sawit masyarakat serta sekalian menarik investor ke Bangka Selatan untuk Pabrik pengelohan CPO menjadi bahan jadi (minyak goreng dan lain-lainnya),” imbuhnya.

Di sisi lain, Samsir juga berharap pemerintah harus mengintervensi dengan membuat kebijakan tentang penetapan Harga Eceran Terendah ( HET ) untuk mengantisipasi adanya permainan harga antar pengusaha kelapa sawit agar tidak merugikan petani kelapa sawit bekerja sama dengan Apkasindo serta memperbaik sistim tata niaga sawit ini Bangka Selatan. (raw/3)

Comment

BERITA TERBARU