by

Harga Lada di Bangka Selatan Masih Anjlok

Perkilogram antara Rp52.000- Rp54.000

TOBOALI – Upaya Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Pemprov Babel) untuk menaikkan harga lada melalui sistem resi gudang (SRG) lada yang telah di-Launching oleh Gubernur Babel Erzaldi Rosman beberapa waktu lalu, nampaknya belum dirasakan petani.

Hal tersebut, dapat dilihat dari masih anjloknya harga lada di tingkat petani, khususnya di Bangka Selatan (Basel). Di beberapa pengepul lada di Basel, harga lada saat ini harga perkoligram berkisar antara Rp. 52.000- Rp. 54.000.

Harga tersebut tentunya membuat petani lada merasa tertekan apalagi dengan kondisi biaya produksi yang masih tinggi dan tidak berimbang dengan harga lada saat ini.

Padahal, petani lada sangat menaruh harapan akan membaiknya harga lada melalui sistem resi gudang. Wadi Petani lada asal Desa Jeriji Kecamatan Toboali justru mempertanyakan kabar resi gudang yang sebelumnya digembar-gemborkan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan harga lada.

“Kami sebagai petani ini bingung pak dengan pemerintah kita ini, ada resi gudang tapi belum jelas lagi sistemnya bagaimana. Kami juga belum mendapatkan sosialisasi terkait resi gudang yang katanya menjadi salah satu alterntif untuk menaikkan harga lada justru harga lada sekarang tambah anjlok, makanya kami tanya apa kabar resi gudang lada?” Ungkap wadi Selasa (14/8/2018).

Hal Senada juga diungkapkan Tomas petani lada asal Dusun Meleset desa Bencah Kecamatan Air Gegas. Dirinya berharap agar pemerintah segera mencari solusi yang jelas agar harga lada dapat segera membaik.
“Bayangkan saja pak, dengan harga yang sekarang, untuk hasil panen 1 ton lada saja kita butuh biaya upah panen sampai 200 kilo gram lada. Itu baru untuk upah panen saja. Terus biaya awal dan operasional sampai panennya bagaimana? Jadi banyaklah ruginya pak dengan kondisi harga lada yang ada sekarang,” keluhnya. (raw/3).

Comment

BERITA TERBARU