Harga Bawang Merah di Babel Melejit

  • Whatsapp

Dipicu Petani Brebes Mogok Bertanam

Pangkalpinang – Sepekan terakhir, bawang merah yang menjadi bumbu andalan untuk masakan, harganya melonjak naik hampir 50 persen. Kenaikan ini, ternyata dikarenakan petani bawang di Brebes mogok menanam bawang. Itu karena kebijakan pemerintah pusat yang memprogramkan beberapa daerah untuk menanam bawang, diprotes petani Brebes.

Read More

Kepala Dinas Pangan Pemerintah Provinsi Bangka Belitung (Pemprov Babel), Ahmad Damiri mengatakan, beberapa waktu lalu pihaknya sudah mengikuti rakor di pusat terkait kenaikan harga bawang ini. Dan dari rapat tersebut diketahui bahwa penyebab kenaikan harga bawang merah karena dipicu hal itu.

“Bawang merah ini, di daerah penghasil stok kurang karena dua bulan ini petani mogok nanam bawang. Mereka protes karena kebijakan Kementan semua daerah diinstruksi nanam barang,” kata Damiri.
Akibatnya, ketersediaan bawang berkurang, sementara daerah penghasil lainnya belum menghasilkan bawang secara optimal.

Karena di Brebes ketersediaan berkurang, distributor bawang di Babel pun, kata Damiri mengambil bawang dari berbagai daerah, seperti Sumatera Barat (Sumbar). Namun, bawang dari Sumbar ini, disebutkannya selain harganya yang lebih tinggi dari di Brebes, juga terkendala angkutan mahal.
“Bawang Padang harganya lebih tinggi dan ongkos pengiriman, karena bawang ini diangkut menggunakan pesawat,” terangnya.

Tak pelak, harga bawang di provinsi kepulauan ini menjadi lebih mahal dari biasanya. Dinas Pangan mencatat, kenaikan harga bawang merah ini terjadi sejak awal Maret 2019.

“Mulai naik itu awal Maret, sudah naik menjadi Rp38 ribu dari Rp26 hingga Rp27 ribu per kilogram, dan sekarang pantauan kami kisaran Rp42 ribu di distributor Haji Awi,” tandasnya.
Kenaikan harga bawang merah, menurut Damiri juga terjadi di beberapa provinsi lain di Indonesia. Seperti di Bali, yang awal April lalu berkisar di harga Rp32.000/kg.

Disinggung tentang produksi bawang lokal, Damiri menyebutkan di Babel produksi bawang merah tahun 2018 lalu hanya sekitar 20 ton. Dan pada saat ini bawang yang ditanam belum memasuki masa panen.

“Sebetulnya kita potensial untuk ditanami bawang merah, mudah-mudahan ke depan produksi bawang merah lokal semakin meningkat,” harapnya.

Dalam hitungan Dinas Pangan, kebutuhan akan bawang merah untuk masyarakat Babel, yakni setiap satu orang membutuhkan 2,76 kg per kapita per tahun. Dengan artian, dalam satu tahun 4.000 ton kebutuhan akan bawang merah, untuk kondisi hari biasa.

“Menjelang puasa terjadi kenaikan konsumsi (H-4) konsumsi bawang merah naik 26 persen, sehingga kebutuhan 5.086 ton. Sementara sebelum (H-3) lebaran terjadi kenaikan 55 persen, menjadi 6.000 ton,” pungkasnya. (nov/1)

Related posts