by

Hakim Berang Terdakwa Bos Zirkon Nyeletuk

-NEWS-323 views
Direktur PT Indorec Sejahtera, Ho Apriyanto alias Antoni usai menjalani sidang di Pengadilan Negeri Pangkalpinang, Senin (11/3/2019) sore dibawa kembali ke Lapas Tua Tunu. (Foto: Bambang Irawan)

4 Saksi tak Hadir ke Persidangan
Saksi Ahli Beratkan Antoni

PANGKALPINANG – Direktur PT Indorec Sejahtera, Ho Apriyanto alias Antoni kembali menjalani sidang untuk keempat kalinya di Pengadilan Negeri Pangkalpinang, Senin (11/3/2019) sore sekitar pukul 16.00 WIB.
Pengusaha pengolahan mineral ikutan timah jenis zircon, elminite dan monazite itu disidang dalam perkara ilegal minning ini dengan beragendakan mendengarkan keterangan saksi yang berjumlah empat orang.
Namun sayangnya, sidang kali ini tanpa dihadiri keempat saksi dan keterangan saksi dibacakan oleh jaksa penuntut umum (JPU) Kejadian Babel, Hidajaty.
Empat saksi yang semula akan dihadirkan dalam sidang yang dipimpin oleh ketua majelis hakim Corry Oktarina dan hakim anggota Iwan Gunawan serta Hotma Sipahutar ini, diantaranya dua penjual tailing, satu ahli dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kemen ESDM) serta satu saksi dari Depkumham.
Dua orang saksi penjual tailing ke perusahaan pemurnian zirkon PT. Indorec Sejahtera ini, yakni Zikri alias Jack dan Zaldi, sedangkan saksi ahli seorang PNS Kemen ESDM Suryono ST.
Awalnya, sidang ini berjalan lancar saat mendengarkan keterangan saksi yang dibacakan oleh JPU. Namun ketika ahli Analisis Teknik Pertambangan Minerba Kemen ESDM bersaksi, Antoni langsung “nyeletuk” ikut menjawab pertanyaan hakim.
Mendengar itu, hakim anggota Hotma Sipahutar nyaris berang dengan jawaban yang dilontarkan oleh Antoni. Hakim yang juga Humas PN Pangkalpinang itu langsung menegur terdakwa agar tidak menjawab.
“Saudara tidak berhak menanggapi keterangan saksi. Nanti ada giliran anda sendiri,” tegas Hotma.
Saksi ahli pun melanjutkan keterangannya di depan majelis hakim dan Antoni tak berani sedikitpun melontarkan kata-kata, hanya terdiam.
Lalu, ketua majelis hakim Corry Oktarina menanyakan kepada terdakwa, apakah keberatan dengan semua keterangan dari saksi.
“Dengan keterangan saksi yang dibacakan oleh JPU, saudara keberatan atau tidak. Jangan hanya bilang tidak keberatan,” tanya Corry.
Sementara Antoni tak banyak berkomentar dan hanya menjawab tidak keberatan. “Saya tidak keberatan, gak keberatan,” tandasnya.
Dalam persidangan itu, terungkap fakta menurut keterangan ahli bahwa PT. Indorec Sejahtera tidak memiliki Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi Khusus (IUP OPK).
“Beliau tidak melakukan penambangan, hanya melakukan pemurnian. Izin usaha pertambangan operasi produksi khususnya tidak ada,” tukas Suryono.
Kasus ini bermula pada Rabu tanggal 12 September 2018 sekira pukul 14.00 Wib, anggota Subdit IV Dit Reskrimsus Polda Babel melakukan pengecekan terhadap pabrik PT. Indorec Sejahtera di Jalan SLA Dusun Baturusa II Desa Baturusa, Kec. Merawang Kabupaten Bangka dan ditemukan adanya kegiatan penampungan dan pengolahan bahan mineral ikutan timah yaitu tailing (sisa cucian timah). Tailing itu kemudian dilakukan pengolahan menjadi mineral ikutan lainnya berupa Zirkon, Elminite dan Monazite.
Dan ternyata, kegiatan penampungan dan pengolahan mineral ikutan itu tidak dapat ditunjukan kelengkapan dokumennya dan dan tidak memiliki Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP) atau Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi Khusus (IUP OPK) untuk pengolahan dan pemurnian. Sehingga selanjutnya polisi mengamankan kegiatan tersebut dan barang bukti 104 ton Zirkon, 1000 ton Elminite dan 21 ton mineral Monazite.
Tidak hanya itu, diamankan juga peralatan yang digunakan antara lain: 20 (dua puluh) unit meja goyang, 1 (satu) set mesin Oven dan 1 (satu) set mesin ATS (mesin pemisah mineral ikutan) dan juga dokumen perusahaan berupa akta pendirian dan akta perubahan perusahaan serta nota penimbangan dan penerimaan bahan baku tailing.
Kepada polisi, Terdakwa Antoni mengaku mendapatkan mineral ikutan tersebut dari pengumpul atau penjual disekitar lokasi yakni Jack sebanyak 146.990 kg, Hamdan sebanyak 5.910 kg, Zaldi sebanyak 57.300 kilogram, dengan total tailing yang ditampung perusahaan sebanyak 1.169.090 kg sejak Juni 2018.
Dalam dakwaan disebutkan rencananya, semua barang bukti tersebut akan dijual ke luar negeri. Dan terdakwa didakwa melakukan menampung, memanfaatkan, melakukan pengolahan dan pemurnian, pengangkutan, penjualan mineral dan batubara yang bukan dari pemegang IUP, IUPK atau Izin sebagaimana dimaksud Pasai 37, Pasal 40 ayat (3), Pasal 43 ayat (2), Pasal 48, Pasal 67 ayat (l), Pasal 74 ayat (I), Pasal 81 ayat (2), Pasal 103 ayat (2), Pasal 104 ayat (3), atau Pasal 105 ayat (1) UU RI No. 04 Tahun 2009. Perbuatan terdakwa diancam sesuai Pasal 161 UU R.I Nomor 04 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara atau kedua Pasal 158 UU R.I Nomor 04 Tahun 2009. (bis/1)

Comment

BERITA TERBARU