Gubernur Ingin Terapkan Lada 13 Meter

No comment 459 views

Realisasikan Janji Kampanye

PANGKALPINANG – Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Erzaldi Roesman Djohan sepertinya ingin betul-betul merealisasikan janji kampanyenya untuk mewujudkan sistem tanam lada setinggi 13 meter, hal ini diungkapkannya ketika mengumpulkan pada petani, pengusaha lada di ruang rapat Pemprov Babel beberapa waktu lalu.

Menurut Erzaldi, sistem tanam lada ini jauh memberikan keuntungan bagi petani, karena petani tidak hanya mendapatkan lada putih saja, tetapi juga mendapatkan lada hitam yang juga memiliki pangsa pasar potensial.

“Saya sudah jadi gubernur sekarang, saya bisa menerapkan ini, bukan lagi kampanye, karena ketika kampanye banyak yang meremehkan lada 13 meter ini, Yoo kalau tidak percaya, ku mawak ikak ke Lampung, disana bahkan bisa 14 meter, dak perlu jauh-jauh ke Vietnam kalau mau bukti,” tegasnya yang diselingi dengan bahasa Bangka, dalam rapat tersebut.

Beberapa audiens tampak ada yang bersemangat menyambut usulan gubernur ini, dan ada pula yang hanya tersenyum sinis.

“8 meter yang bisa dipetik, itu dipetik buahnya direndam dicuci dan dijemur, jadi lada putih, yang tinggi tak sampai lagi di petik biarkan jatuh, itu akan jadi lada hitam,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga mendorong pengolahan lada di Babel, sehingga produk yang dihasilkan tidak hanya berupa lada butir, tetapi bisa juga dalam bentuk lada bubuk.

“Yang sedikit ini (lada bubuk) yang justru Untung besar, ini kita manfaatkan, kita olah baru dijual di pasaran, banyak yang mau lada bubuk,” sebutnya.

Ia juga mencontohkan, produk lada bubuk yang banyak beredar justru tak terasa pedasnya, karena sudah dicampur dengan bahan lain oleh perusahaan.
” Kalau lada Babel sudah terkenal pedasnya,” imbuhnya.

Ia berharap, sistem ini dapat diterapkan dan akan mulai diterapkan, bersama dengan dinas pertanian dan juga dibantu oleh tim advisory, yang akan bekerja untuk meningkatkan produktivitas lada serta pemasaran dan lainnya.

“Saya juga mau ada resi gudang, lada petani masukkan ke gudang, beri petani jaminan hidup, ketika harga tinggi baru lada ini dilepas,” tegasnya.

Erzaldi menegaskan, persoalan harga baik gubernur atau siapapun memang tak bisa menentukan harga, karena harga ditentukan oleh pasar dunia yang tergantung dari stok buyer, kurs dolar dan lainnya, tetapi dengan menjaga kualitas dan mempertahankan kuantitas, Erzaldi yakin bahwa lada Babel masih tetap menjadi idola.

“Gubernur dak bisa naikkan harga tapi bagaimana optimalisasi agar memberi keuntungan. Kita pakai brand Muntok White Pepper, karena itu sudah terkenal, kita perketat aturan dan lainnya, agar lada kita tidak hanya dimanfaatkan daerah lain dengan nama Muntok White Pepper, ladanya harus bersertifikat,” tegas Erzaldi.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan, Pertanian, Peternakan (Distanbunnak) Babel, Toni Batu Bara menambahkan, pihaknya akan terus berkoordinasi untuk resi gudang ini, apakah dibangun pemerintah, swasta atau lainnya.

Ia menilai, pola ini cukup efektif untuk mempertahankan harga lada, karena ketika harga lada rendah, lada ini disimpan di gudang dan petani diberikan jaminan untuk meneruskan usahanya dan ketika harga tinggi, lada ini baru dijual, serta sisa pembayaran baru diberikan ke petani.

“Kalau disimpan digudang, ada penjamin yang memberikan jatah ke petani, dikasih biaya hidup. Setelah harga bagus dan bisa dipantau, harga bagus ini dilepaskan, uang dikasih,” jelasnya.

Selain resi gudang, pihaknya juga terus berupaya untuk meningkatkan produktivitas lada di Babel, baik upaya mengatasi penyakit kuning, maupun menyediakan bibit berkualitas.

“Saya yakin kalau kita fokus dan serius ini akan berhasil, pak gubernur juga konsen memperhatikan lada ini, tinggal bagaimana keseriusan dan dukungan masyarakat untuk bersama-sama mensukseskannya,” demikian Toni.(nov/6)

No Response

Leave a reply "Gubernur Ingin Terapkan Lada 13 Meter"