Gubernur Akui IG Lada Babel Kurang Diawasi

  • Whatsapp

Pemprov Benahi Tata Kelola Pemasaran
Hilirisasi, Usaha Dongkrak Harga Lada

Pangkalpinang – Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Erzaldi Rosman mengaku tak tinggal diam menyikapi rendahnya harga lada yang turun drastis saat ini. Ia mengatakan sudah membentuk tim pengawas untuk membenahi tata kelola lada di Provinsi Babel.
“Tim sudah mulai berkerja, karena belum final saya belum bisa berkomentar biarlah tim bekerja,” ujarnya, akhir pekan kemarin.

Ia menegaskan, turunnya harga lada di Babel salah satu faktornya adalah pasar global, ketersediaan lada dunia yang banyak, sementara permintaan cenderung berkurang. Namun kondisi ini, tidak lantas membuat pemerintah menyuruh petani berhenti bertanam. Tetapi harus dimotivasi agar tetap semangat bertanam lada dengan pola-pola yang benar.
“Bagaimana pola manajemen pemasaran lada kita perbaiki dulu, jangan sampai ada lada dari luar masuk ke Babel pake nama lada kita,” ulasnya.

Setelah tim merumuskan tata kelola lada, dan dibuatkan Pergub, barulah nantinya dikoordinasikan dengan kabupaten/kota untuk menyamakan persepsi, untuk bergerak bersama.
“Setelah ada pergub, jual beli lada ndak sembarangan, untuk kebutuhan dalam negeri (perdagangan antar pulau) lada Babel harus dihilirisasi, dikemas dengan baik, dihaluskan, baru dijual, tidak berupa butiran, ini juga untuk meningkatkan harga lada,” sebutnya.
Lada Babel ini, tegasnya sudah memiliki Indikasi Geografis (IG) dan Hak Paten dari Kementerian Hukum dan HAM RI. Sehingga apabila lada Babel dicampur dengan lada lain, tidak diperbolehkan.

“Kita punya IG, ini yang kemarin kurang diawasi,” imbuhnya.
Sementara untuk ekspor kelak, menurutnya hanya boleh dilakukan melalui pintu keluar Pelabuhan Pangkalbalam dan Tanjungpandan. Sedangkan selama ini lada Babel diindikasikan diekspor melalui Jakarta maupun Surabaya.
“Mudah-mudahan dengan ini ada naik harga lada, karena ini salah satu cara buat brand kita lebih kuat,” pungkasnya.
Sementara itu, ekspor lada Provinsi Babel saat ini hanya berkisar 3000 ton pertahun. Jumlah ini masih jauh jika dibandingkan penjualan lada antar pulau.

“Kita tidak tahu 8000 ton lada putih yang diperdagangan antar pulau itu untuk kebutuhan di Indonesia atau justru diekspor kembali melalui provinsi lain,” kata Kepala Dinas Pertanian Pemprov Babel, Juaidi akhir pekan lalu.
Ia berharap, dengan perbaikan tata kelola dan pemasarannya, lada putih Babel benar-benar dikelola dengan baik dan dapat meningkat harga lada.

“Ada rencana untuk perdagangan lada antar pulau tidak diperbolehkan lagi, tujuanya agar lada bisa diekspor satu pintu khususnya di Babel saja. Dengan begitu bisa memperbaik tata kelola lada di Babel sehingga harga bisa membaik,” ulasnya.
Juaidi menjelaskan, produksi lada putih di Babel kini hanya 38 ribu ton pertahun. Namun angka ini cenderung bertambah setiap tahunnnya meski dirasakan menurun. (nov/1)

Related posts