Google Classroom dalam Persepsi Guru SMAN 1 Merawang

  • Whatsapp
Oleh: M. Dwi Hardani, M.Pd
Guru SMAN 1 Merawang

Di masa pandemi COVID-19 sekarang, mau tidak mau hampir seluruh aspek kehidupan mengalami dampak yang cukup signifikan. Tidak terkecuali dalam sektor pendidikan, di mana seluruh sekolah tidak diperbolehkan mengadakan pembelajaran secara tatap muka langsung melainkan harus melalui pembelajaran jarak jauh, utamanya dilakukan secara dalam jaringan (daring).

Salah satu aplikasi yang paling banyak digunakan oleh para guru dalam pembelajaran jarak jauh adalah aplikasi Google Classroom. Menurut Wikipedia, Google Classroom (bahasa Indonesia: Google Kelas) adalah layanan web gratis, yang dikembangkan oleh Google untuk sekolah, yang bertujuan untuk menyederhanakan membuat, mendistribusikan, dan menilai tugas dengan cara tanpa kertas. Tujuan utama Google Classroom adalah untuk merampingkan proses berbagi file antara guru dan siswa. Melalui Classroom, guru dapat dengan mudah melampirkan materi pembelajaran, menyisipkan kuis yang bisa langsung dinilai dan berinteraksi secara langsung di bagian forum kelas.

Di SMA Negeri 1 Merawang sendiri, Google Classroom menjadi pilihan utama sebagai aplikasi pembelajaran daring, dikarenakan oleh kemudahan-kemudahan yang ada di dalamnya. Dengan latar belakang guru yang mayoritas memiliki pengalaman mengajar antara 10 sampai dengan 15 tahun, dan penguasaan teknologi informasi sebatas pengguna tingkat dasar, pembelajaran jarak jauh secara daring bisa dikatakan merupakan sesuatu yang baru bagi guru-guru SMAN 1 Merawang. Hal ini ditunjukkan melalui survey sederhana yang penulis lakukan di mana lebih dari 50% guru menyatakan bahwa baru mengenal aplikasi pembejaran daring selama kurang dari lima bulan. Bisa dikatakan, semenjak merebaknya wabah virus Corona di Indonesia di bulan Maret 2020, baru itulah para guru mulai mengenal aplikasi pembelajaran daring tersebut. Bahkan jika diperbolehkan untuk memilih, mayoritas guru-guru, yaitu lebih dari 80%, akan lebih memilih untuk melakukan pembelajaran tatap muka dibandinkan dengan melakukan pembelajaran daring.

Ada beberapa kendala yang mendasari mengapa mayoritas guru lebih memilih pembelajaran tatap muka dibandingkan dengan pembelajaran daring. Kendala paling besar yang dirasakan oleh para guru dalam pembelajaran daring adalah sulitnya melakukan kontrol terhadap partisipasi peserta didik. Hal ini bisa dilihat dari sedikitnya peserta didik yang berpartisipasi aktif selama pembelajaran. Sebagai contoh dalam pembelajaran ada lima kelas yang dipegang oleh guru dengan jumlah siswa sekitar 150-an orang. Dari jumlah tersebut, peserta didik yang aktif bertanya maupun menanggapi pertanyaan dalam forum Google Classroom bisa dikatakan hanya separuhnya saja. Apalagi jika pembelajaran dimulai pada jam paling awal di pagi hari atau pada jam akhir di siang hari, dipastikan jumlah peserta didik yang aktif bahkan kurang dari separuh. Hal ini pada akhirnya tentu saja dapat berakibat pada menurunnya semangatnya pada guru dalam merancang pembelajaran daring.

Baca Lainnya

Kendala lain yang dirasakan oleh para guru dalam pembelajaran daring adalah melakukan proses penilaian. Seperti yang jamak kita ketahui, penilaian peserta didik mencakup ke dalam empat aspek penilaian, yaitu penilaian sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan. Tentu saja seharusnya keempat aspek tersebut tetap dinilai dalam pembelajaran daring. Namun, dari pengalaman para guru di SMA Negeri 1 Merawang dalam pelaksanaan pembelajaran daring, utamanya melalui aplikasi Google Classroom, penilaian terhadap aspek spiritual dan sosial dirasa sangat sulit untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan tidak adanya interaksi langsung, di mana biasanya guru akan melakukan pengamatan terhadap tiap-tiap peserta didik untuk menilai aspek spiritual dan sosial tersebut. Mayoritas para guru yakni 80% menyatakan sulit untuk menilai aspek spiritual dan sosial dalam pelaksanaan pembelajaran daring.

Aspek lain yang juga sulit dinilai dalam pembelajaran daring adalah aspek keterampilan. Penilaian keterampilan menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu, dengan maksud untuk mengetahui apakah pengetahuan yang sudah dikuasai peserta didik dapat digunakan untuk mengenal dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan sesungguhnya (real life). Penilaian keterampilan dilakukan dengan mengidentifikasi karateristik KD aspek keterampilan untuk menentukan teknik penilaian yang sesuai misalnya dengan teknik penilaian kinerja, praktik, proyek, produk dan portofolio. Tidak semua KD dapat diukur dengan teknik yang sama. Teknik yang berbeda-beda inilah yang membuat para guru merasa kesulitan saat menilai aspek keterampilan dalam pembelajaran daring. Sebanyak lebih dari 60% guru di SMA Negeri 1 Merawang mengatakan sulit untuk menilai baik itu unjuk kerja, praktik, proyek, produk maupun portofolio selama melaksanakan pembelajaran daring.

Namun, dibalik kesulitan tentu juga ada hal lain yang mudah untuk dilaksanakan dalam pembelajaran daring, yaitu penilaian terhadap aspek pengetahuan. Aspek pengetahuan merupakan aspek penting yang menjadi tolok ukur kemampuan siswa dalam memahami materi atau kompetensi yang telah diajarkan. Dalam penilaian pengetahuan, para guru dapat menggunakan teknik penilaian yang meliputi penilaian tes tulis, tes lisan dan penugasan. Tes tulis dapat dilaksanakan dengan menggunakan instrumen seperti pilihan ganda, benar salah, pilihan ya – tidak, menjodohkan, jawaban singkat, dan uraian. Semua teknik penilaian tersebut, dapat dengan mudah diaplikasikan dalam Google Classroom yang terintegrasi dengan aplikasi Googleform.

Melalui Googleform, para guru tidak perlu lagi repot untuk menilai pekerjaan tiap-tiap siswa secara manual. Cukup dengan mengatur bentuk soal disertai dengan kunci jawaban untuk masing-masing soal, nilai setiap siswa bisa langsung muncul begitu mereka selesai menjawab pertanyaan dalam Googleform tersebut. Bisa dikatakan hampir semua guru menyukai penilaian berbasis Googleform ini, dimana mayoritas guru yakni lebih dari 80% menyatakan bahwa mereka lebih menyukai penilaian melalui Googleform dibandingkan dengan penilaian manual. Sebagai contoh, guru yang mengajar mata pelajaran tertentu di lima rombongan kelas dengan jumlah siswa mencapai hampir 180 siswa akan sangat dimudahkan dengan penilaian berbasis Googleform, dimana guru tersebut cukup memberikan satu tautan/ link dan bisa langsung memperoleh nilai dibandingkan jika dengan penilaian manual yang mengharuskannya menilai 180 jawaban siswa. Tentu sesuatu yang sangat menghemat waktu dan tenaga.

Berdasarkan pemaparan hasil survey di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan yaitu secanggih apapun pembelajaran berbasis daring tidak akan dapat menggantikan pembelajaran biasa dengan tatap muka. Hal ini dikarenakan dalam proses pembelajaran tidak terbatas pada proses transfer pengetahuan dari guru kepada siswa, melainkan juga adanya proses pendampingan dan pembimbingan dalam melatih keterampilan yang perlu diketahui oleh siswa tersebut. Selain itu juga, dalam proses pembelajaran guru juga bertanggung jawab dalam melatih karakter siswa sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan, yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada akhirnya pembelajaran berbasis daring merupakan pelengkap, dan bukan sebagai pengganti dari pembelajaran berbasis tatap muka.(***).

Related posts