Gol yang Terlupakan

No comment 695 views


Oleh : Rusmin

” Sudah berapa kali Ayah katakan kepadamu bahwa Ayah tidak suka dengan hobbymu bermain sepakbola. Apa kamu tidak mendengar nasehat Ayah,” Kata Sukri kepada anaknya.
” Apakah kamu sudah tidak mau mendengar nasehat Ayah lagi sebagai orangtuamu,” tanya Sukri lagi.
” Sabar Pak. Sabar. Suatu waktu juga Anjas tidak akan bermain sepakbola lagi. Sekarang kan lagi liburan. Wajarlah dia memanfaatkan waktu liburnya dengan berolahraga,” sambung istrinya.
” Tapi olahraga itu bukan hanya sepakbola saja Bu. Lari juga olahraga dan menyehatkan badan,” jawab Sukri. Mendengar jawaban sang suami Sang istri hanya terdiam tanpa kata. Tak ada lagi diksi yang harus dikemukakannya. Senja makin menghitam. Para warga mulai ramai menuju masjid. Waktu sholat Magrib akan tiba.

Ketidaksenangan Sukri dengan hobby anaknya bermain sepakbola bukan tanpa alasan. Masa lalu yang kelam membuatnya harus melupakan masa-masa kejayaannya sebagai pesepakbola andal. Siapa yang tak mengenal Sukri saat era 80-an dimana sepakbola menjadi olahraga yang bukan hanya populer namun menjadi sarana pencitraan bangsa.

Sukri adalah striker hebat yang dimiliki bangsa ini. Kepiawaiannya mengolah si kulit bundar bukan hanya mempopulerkan namanya sebagai pesepakbola, namun membuat lawan menjadi kecut. Setiap peertandingan, Sukri selalu mencetak gol. Tak heran pemain belakang lawan selalu ekstra keras menjaganya sebagaimana bangsa ini esktra keras menghantam para koruptor yang menggerogoti hajat hidup orang banyak di negeri ini.

Kegagalannya mengeksekusi pinalti saat timnya melawan Tim lawan dalam final adalah awal kehancurannya dalam dunia sepakbola. Dirinya bukan hanya dihujat penonton tapi dianggap sebagai bagian dari mafia bola sebagai pengatur skor pertandingan.
” Tidak ada alasan bagi kamu untuk beralasan. Dan tidak ada alasan bagi kami untuk memaaafkanmu. Di negeri ini tidak ada yang percaya kalau kamu tidak bisa mencetak gol lewat pinalti. Tidak ada yang percaya. Kamu harus menyadari itu, Sukri. Kamu itu pemain nasional. pemain berkostum merah putih. Bukan pemain kampung,” teriak tim manager klub Sukri dengan nada keras. Sukri terdiam.
” Kamu kini dianggap bagian dari mafia bola. Sebagi pengatur skor pertandingan. Kamu harus pahami itu,” sambung manager klubnya sambil meninggalkan Sukri yang masih membisu diruang ganti pemain.
Sementara beberapa kawan seklubnya beruasaha menenangkan dirinya.
” Sudah Sukri nggak usah diambil hati omongan Pak Manager,” ujar kawannya.
” Iya. Dalam setiap pertandingan selalu ada yang menang dan kalah. Sebuah kewajaran,” kata sang pelatihnya dengan nada bijak.

Perbincangan Pak Manager dengan beberapa orang bertubuh tambun di sebuah cafe adalah awal dari bencana ini. Saat itu Sukri sedang melepaskan kepenatannya usai berlatih. Tanpa disadari, dia mendengar pembicaraan antara Manager klubnya dngan para cukong itu.
” Kalau tim Bapak bisa mengalah dengan tim lawan maka kami akan beri hadiah untuk Bapak,” ujar salah seorang dari pria berbadan tambun itu.
” Ini masalah martabat klub Bos. Kami tak bisa mengalah. Ketua klub sudah memerintahkan semua pemain untuk all out dalam pertandingan final nanti,” sanggah manager klub Sukri.
” Kami hanya minta pemain anda hanya mencetk satu gol saja ke gawang tim lawan. Hanya satu gol saja. Tak lebih dan tak kurang. Tapi jangan sampai tidak mencetak gol. Bangklut kami wo,: sela yang lainnya.
” Kami beri hadiah tiga kali lipat dari hadiah juara turnamen itu. Dan ini uang mukanya,” ujar seorang dari pria bertubuh tambun itu sambil menyerahkan beberapa bungkusan.
Manager Klub Sukri terdiam saat melihat uang itu. Sangat banyak. Pikiran kotor mulai menyinggahi otak kanannya.
” Hadiah ini bisa mencukupi kebutuhan hidupmu selama bertahun-tahun. Kamu tidak perlu kerja,” sambung yang lainnya sambil tertawa. Malam makin menghitam. Sukri pun meninggalkan cafe itu dengan sejuta tanya. Sejuta kegundahan.

Beberapa jam menjelang pertandingan, Sukri dipanggil pelatihnya. Atas perintah manager klub, Sukri tidak dimainkan sebagai line up utama.
” Kamu bermain pada babak kedua saja. Ini kesepakatan antara Ketua dan manager klub,” ujar sang Pelatih.
” Saya sudah paham Coach. Saya sudah paham. Kita sengaja mengalah kan,” jawab Sukri. Sang pelatih kaget mendengar jawaban anak asuhnya.
” Kok kamu tahu?,” tanya sang pelatih. Sukri tak menjawab.

Dalam final yang bergengsi itu, Sukri memang hanya diturunkan pada saat pertandingan hanya tinggal 15 menit saja dimana timnya sudah tertinggal 3-0. Dan saat sebuah kesempatan mencetak gol diperoleh timnya lewat pinalti, Sukri sebagai algojonya gagal mengeksekusinya dengan sempurna. Bola tendangan Sukri melayang di atas gawang. Sebagaimana melayangnya pikiran Sukri. Dan itu awal dari kariernya sebagai pesepakbola. Dirinya merasa terhina. Martabatnya sebagai pemain sepakbola tak berharga. Usai pertandingan itu Sukri memutuskan untuk berhenti bermain dan hidup dari sepakbola. Segala atribut kebanggaanya mulai dari sepatu, kostum dan emblem lainnya yang berbau sepakbola dibuangnya. Ditinggalkannya. Nonton sepakbola pun tak pernah lagi. Sukri fokus menata hidupnya sebagai petani di sebuah Desa yang jauh dari Kota.

Kini kenangan hitam itu seakan-akan dibangkitkan kembali oleh putra semata wayangnya, Anjas. Darah yang mengalir ditubuh Anjas adalah darah sepakbola yang dilimpahkannya lewat gen dirinya dalam kolaborasi lewat sebuah rahim sang istri.Semua orang mengisyaratkan anjas sebagai reinkarnasi dirinya saat masih aktif sebagai pesepakbola. Lincah dan gesit. Mencetak gol adalah ciri khas Anjas sebagaimana dirinya dulu saat masih aktif bermain sepakbola. Tak heran bila Anjas kini dipanggil Timnas Yunior untuk berlatih di luarnegeri.
” Pak Sukri tidak bisa menghalangi talenta Anjas. Dia pemain sepakbola hebat. Sekarang dipanggil timnas yunior untuk membela bangsa. Membela martabat bangsa di arena olahraga. Hanya martabat bangsa yang masih kita punyai Pak,” ujar pelatih Anjas saat mareka meminta izin dari Sukri untuk membawa Anjas putranya bertanding keluar negeri.
” Saya tidak ingin nasib saya menimpa Anjas coach. Saya tidak mau sebagai pesepakbola dia tidak bermartabat. Tidak dihargai,” jawab Sukri.
” Insya Allah Pak. Kami berusaha membina mareka agar memiliki ciri khas sebagai pesepakbola yang berharga diri dan bermartabat,” kata pelatih Anjas.

Sore yang teduh menghantarkan Anjas meninggalkan rumah mareka di sebuah kampung. Sukri melepaskan kepergian Anjas bersama Timnas dan para coachnya.dengan doa.
” Semoga kamu jadi pemain sepakbola yang berharga diri nak,” bisik Sukri ditelinga Anjas sesaat sebelum putranya memasuki mobil jemputan. Anjas mengangguk. Dan mobil jemputan Anjas pun meninggalkan jalan kampung menuju pentas dunia untuk memartabat nama bangsa di gelanggang olahraga. Ya, hanya untuk martabat bangsa dengan kostum merah putih dengan garuda di dada anak bangsa.

Rusmin
Toboali,Bangka Selatan

Print Friendly
No Response

Leave a reply "Gol yang Terlupakan"