Giat Mensosialisasikan Gerakan Anti LSL atau LGBT

  • Whatsapp

Oleh: Ares Faujian
Alumnus Pend. Sosiologi UNY & Penulis Senior Karya Muda Belitung

Waspada LSL!! Akhir bulan April lalu, Belitung dikejutkan (kembali) dengan kasus LSL atau Lelaki Suka Lelaki, atau disebut juga Lelaki Seks Lelaki. Bukan hanya karena keberadaan kasus LSL ini dianggap sebagai gejala sosial unik semata. Namun, kini masalah sosial tersebut telah merambah menjadi kasus masalah biologis yang berkepanjangan dan semakin bertambah. Yaitu kelompok minoritas yang secara keseluruhan berjumlah 70 orang, kini belasan orang diantaranya telah positif mengidap HIV/AIDS hingga akhir tahun 2018. Data ini didapat menurut informasi yang disampaikan oleh Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Belitung Rosmaida pada salah satu media massa lokal Belitung (Jumat, 26/04/2019). Dan perlu menjadi catatan, data ini belum menyangkut data dari Kabupaten Belitung Timur serta wujud penyimpangan sosial lain yang menghasilkan dampak yang sama seperti kelompok waria, geng motor dan kelompok-kelompok lainnya yang diindikasi memiliki efek serupa.

Memang miris sekali melihat bahwa Belitung sudah mengalami fenomena sosial seperti ini. LSL atau homoseksual ini dianggap wabah yang bisa merubah dan juga merusak tatanan keharmonisan sistem dan struktur sosial dalam masyarakat. Perilaku mereka yang menyimpang (deviant) adalah perilaku yang dianggap tak biasa, abnormal, tidak sesuai nilai-norma sosial, dan bisa mengarah kepada individuasi sosiopathik atau individu yang mengalami/sebagai penyakit sosial dalam masyarakat. Karena perilaku mereka yang berdampak negatif bagi diri sendiri dan orang lain serta semakin kontinyu dan masif. Termasuk menelan korban, karena penyakit kelamin yang dideritanya dari tahun ke tahun.

LSL adalah singkatan dari laki-laki seks dengan laki-laki yang diambil dari kata Men who have Sex with Men (MSM). LSL merupakan perilaku seksual laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, terlepas dari motivasi untuk terlibat dalam seks atau identifikasi dengan komunitas yang ada atau yang tidak tentu (WHO, 2011). Berdasarkan buku pedoman IMS (Infeksi Menular Seksual) Nasional terbitan Kementerian Kesehatan RI, LSL merupakan laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki lainnya, tanpa memandang orientasi seksualnya atau identitas jenis kelamin, dan apakah ia juga berhubungan seksual dengan perempuan. Sehingga perilaku LSL ini memang wajar berdampak pada masalah penyakit biologis (HIV/AIDS dan penyakit sejenis lainnya). Karena hubungan seks mereka yang tak wajar (melalui anus) sesama lelaki dan penyebaran penyakit HIV/AIDS yang juga bisa melalui sperma, jarum suntik (jika memakai narkoba) dan darah.

Secara rasional dan intuisi kita sebagai umat beragama, kita tahu bahwa perilaku semacam itu merupakan cerminan tindakan yang tak sesuai nilai dan kaidah sosial dalam masyarakat. LSL dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang. Di mana perilaku menyimpang adalah perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan diluar batas toleransi (Van der Zander).

Menurut Edward H. Sutherland (1947), penyimpangan bersumber pada pergaulan yang berbeda sebab seseorang belajar untuk menyimpang dari norma masyarakat melalui kelompok-kelompok berbeda, dimana dia bergaul. Dalam pengertian ini, ia juga menjelaskan bahwa teori sumber penyimpangan, diantaranya terdiri dari : (1) Perilaku menyimpang terjadi karena proses sosialisasi yang tidak sempurna, pesan yang dibawa agen-agen sosialisasi tidak searah; (2) Perilaku menyimpang juga terjadi akibat seseorang belajar mengenai perilaku menyimpang.

Ada beberapa ciri-ciri LSL yang dalam ihwal ini adalah gay. Di mana ciri-ciri ini didapatkan Penulis melalui observasi dan wawancara pribadi ketika menjadi mahasiswa pada tahun 2009. Singkat cerita, ketika akan menunggu proses wisuda, Penulis mengikuti kursus bahasa Inggris di salah satu lembaga bahasa terkemuka di Yogyakarta. Disaat itulah Penulis bertemu dengan peserta/siswa kursus lainnya, sebut saja dia GY yang ternyata adalah seorang gay. Berdasarkan pernyataannya, berikut adalah ciri-ciri gay, yaitu : (1) berpenampilan rapi dan menarik/modis; (2) suka perawatan tubuh, sehingga wajah tampak putih/bersih dan biasanya bertubuh atletis; (3) penampilan tampak lebih muda dari usianya; (4) suka memakai wangi-wangian; (5) bersuara (agak) lembut; (6) biasanya bergaya hidup bebas atau hedonis (tujuan hidup untuk kesenangan/keduniawian); (7) terdapat ciri (atribut) khusus yang menandakan sesama kaum mereka, misalnya bertindik dua/lebih di bagian telinga tertentu atau yang lain sesuai kesepakatannya. Menurut pernyataan gay yang kerja di salah satu hotel terkemuka di Yogyakarta ini, kalangan mereka ada yang menjadi lelaki dan ada yang menjadi perempuan (walaupun berjenis kelamin laki-laki). Dan tidak menutup kemungkinan peran ini bisa bertukar sesuai dengan situasi, kondisi dan “kebutuhan”.

Kehidupan GY terbilang seperti normal layaknya laki-laki biasa. Dia beragama, punya pekerjaan, punya istri, dan juga punya anak. Namun efek lingkungan kerjanya tidak bisa terbendung ketika ia memiliki bos atau atasan yang adalah seorang LSL. Dan mau tak mau, lambat laun via proses slow but sure. Bapak yang terlihat seperti usia 25-an namun telah berusia 35-an ketika itu, akhirnya juga menjadi bagian dari komunitas hitam LSL di sana. Penulis kurang tahu persis kapan GY menjadi LSL. Apakah sebelum atau setelah beristri (?). Karena ada beberapa LSL yang menikah hanya untuk mengamankan statusnya agar terlihat normal dan tidak dicurigai oleh masyarakat. Menurut St. Vembriarto (1973 : 79) dalam buku Pathologi Sosial, pribadi deviant seperti itu merupakan hasil daripada proses deferensiasi, yaitu (1) ada yang bermula sejak lahir; (2) ada yang berkembang dalam golongan deviant; dan (3) ada yang bermula setelah dewasa.

Pada saat ini, bukan hanya masalah penyakit biologis yang perlu kita waspadai dari keberadaan LSL. Kekhawatiran terbesar kita dengan status “AWAS!” adalah ketika fenomena sosial LSL ini menjangkit ke generasi muda, terutama pada usia pelajar (SD, SMP, SMA, PT). Tingkat intelektual dan emosial yang belum matang serta masih labil, adalah mangsa empuk bak singa mengejarsantap kawanan anak rusa bagi anak sekolahan yang belum banyak mengerti “apa-apa”. Iming-imingan uang, difasilitasi dengan gawai dan barang-barang mewah/bermerek, serta gaya hidup yang hedonis (party, clubbing, travelling, dll) merupakan umpan yang tepat bagi pelajar yang masih awam dengan kenikmatan sesaat. Terlebih jika pelajar tersebut memang terhimpit masalah pribadi, masalah ekonomi, dan masalah keluarga (broken home).

Status “AWAS! level atas” akan menjadi hantu yang sangat menakutkan bagi kita apabila kelompok LSL ini berprofesi seputar lingkungan sekolahan, seperti pendidik (guru), tenaga kependidikan (TU), dan pelatih/pembina ekstrakurikuler. Intensitas interaksi yang setiap hari dan ada rasa hormat serta keseganan dari peserta didik menjadi proses sosial deviant yang bertahap, lahap, namun pasti. Karena mereka (peserta didik, guru dan TU) bisa dipastikan akan bertemu setiap hari dan LSL pun bisa terjadi dengan cara paksa namun halus. Misalnya dengan ditakut-takuti masalah nilai, ancaman ketidaknaikan kelas, diperintahkan untuk melakukan “sesuatu”, dan lain sebagainya.

Faktor publik figur (artis, pemimpin, seniman, musisi, dll.) juga telah memperjelas warna “bendera pelangi” di Negeri Ibu Pertiwi ini, walau tidak mayoritas. Karena jika seseorang sudah menjadi idola, maka faktor simpati dan kesukaan akan melampaui batas-batas cara berpikir manusia normal. Yang mana insan tersebut tidak lagi melandaskan akal-pikir dan hatinya sebagai umat yang tahu dan taat norma beragama.

Pemerintah Indonesia tentunya tidak akan tinggal diam dengan fenomena LSL ini, termasuk pemerintah daerah di Pulau Belitung. Seluruh komponen insitusi terkait penyakit sosial ini tentunya harus berkomitmen, saling bersinergi dan terus-menerus giat mensosialisasikan gerakan anti LSL atau LGBT, termasuk via media massa dan di sekolah-sekolah. Karena kelompok ini tidak hanya bias dari nilai dan kaidah sosial secara umum, namun secara riset dan realitas kelompok ini terbukti dekat dan rentan dengan IMS seperti HIV/AIDS, Sifilis, dan lain sebagainya. Peran institusi terkait narkoba (Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Badan Narkotika Nasional, POLRI, dsb.) juga berpengaruh dalam solusi preventif (pencegahan) dan kuratif (pengobatan/penyembuhan/rehabilitasi) dari fenomena sosial ini. Penyebaran penyakit IMS bisa saja menyebar melalui jarum suntik yang mereka gunakan jika menggunakan narkoba, serta juga kurangnya edukasi berkelanjutan tentang narkoba sejak mereka duduk di bangku sekolah.

Selain melalui gerakan dan program kerja aparat dan birokrat yang berwenang, kita sebagai masyarakat juga harus responsif terhadap fenomena sosial ini. Tidak ada seorang manusia pun yang menginginkan anak, orang tua, kerabat, sahabat, teman, tetangga, saudara hingga orang yang kita sayangi terjebak dalam lingkaran setan LSL ini. Kadang semua terjadi begitu saja tanpa ada proses edukasi dan pengawasan dari keluarga sebagai agen sosialisasi pertama dan utama. Sebagai manusia yang menyayangi keharmonisan peradaban. Kita harus sering melakukan pendekatan dan interaksi tatap muka dengan mengajak curhat sanak keluarga kita, agar kita dapat mengetahui permasalahan apa yang terjadi dengannya. Karena seperti yang kita ketahui, satu masalah bisa menjadi pemantik timbulnya masalah-masalah yang lainnya. Termasuk fenomena LSL ini. Jadi, apakah Anda masih sayang dengan keluarga Anda?

Jika Anda membaca tulisan ini. Niatkanlah dalam hati untuk tidak mementingkan ego diri sendiri. Sayangilah orang tua, keluarga, kerabat, teman, dan orang-orang yang Anda kasihi. Jika Anda mengenal dan tahu dengan mereka LSL ini, jangan jauhi mereka. Buatlah mereka yang terlanjur tercebur menjadi tergugah dan berubah. Buatlah mereka bahagia dengan mensyukuri apa yang telah mereka punya. Saat ini mereka sedang dalam masalah, mereka butuh bantuan kamu. Mereka butuh perhatian kita. Semoga Anda adalah salah satu bagian penting dari solusi masalah yang mereka hadapi.

Jika Anda yang terjebak dalam fenomena sosial ini. Berusalah untuk berubah. Kabarkan secara perlahan permasalahan yang sedang Anda hadapi. Memang semua terasa berat, namun akan lebih berat lagi jika yang Anda lakukan ini berkelanjutan dan semakin tersesat ketika HIV/AIDS telah menjerat. Pikirkan dirimu, pikirkan keluargamu, pikirkan masa depanmu. Penulis yakin mereka yang kamu sayangi tidak menginginkan kamu seperti ini. Berubah dan berubahlah sahabat. Masih ada waktu. Kami ingin kamu sehat. Kami ingin kamu rehat dari masalah ini.

Sejarah telah mengajarkan kita betapa murkanya Allah SWT ketika Kota Sodom dan Gomara pada zaman Nabi Luth AS telah dibinasakan karena fenomena sosial dilegalkannya penyimpangan seksual pada masyarakat tersebut. Hal ini pun telah jelas terdapat pada QS. Hud Ayat 82 yang artinya “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan (batu belerang) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi”. Sehingga asal kata penyimpangan seksual sodomi diambil dari nama Kota Sodom yang masyarakatnya melakukan berbagai perbuatan yang cacat sosial tersebut. Semoga kita bisa berkaca dari sejarah dan dampak yang memang sudah nyata dirasakan hingga saat ini. Semoga pulau ini tetap menjadi syurga Negeri Laskar Pelangi, bukannya syurganya negeri “Bendera Pelangi”. Aamiin. Salam anti LSL dan salam anti LGBT.(***).

Related posts