Gerakan Sederhana Menjelang Pesta Besar

  • Whatsapp

Oleh: Karto, MM
Staf BK DPRD Bangka Belitung

Karto, MM

Esensi permasalahan praktik pemilihan calon pemimpin, baik tingkat satu hektar tanah maupun ratusan ribu hektar tanah bukanlah serta merta dosa si calon pemimpin yang melakukan praktik kecurangan demi keterpilihannya saja. Ada kontribusi kita masing-masing sebagai elemen masyarakat, sehingga lagu-lagu lama ini masih sering diperdengarkan. “kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tetapi juga karena adanya kesempatan”, sebuah kata-kata sederhana dalam acara di salah satu televisi swasta yang sempat booming dimasanya ini, bukanlah sekedar epilog belaka.
Kesempatan untuk melakukan praktik kecurangan adalah kesempatan yang diciptakan dan dijaga dengan rapi oleh oknum-oknum tersebut jauh hari sebelum acara pemilihan itu digelar. Problem-problem perekonomian rakyat yang janjinya akan mereka perjuangkan untuk terus membaik, faktanya bagi mereka adalah salah satu modal yang dijaga dengan baik keterpurukannya demi terbukanya kesempatan berkotor-kotoran itu sendiri. Bagi oknum-oknum jahat pencipta kesempatan tersebut, melemahnya perekonomian rakyat adalah senjata ampuh untuk menciptakan peluang berbuat curang di kemudian hari. Bagaimana tidak, efeknya sangat mujarab pada kebutuhan pemenuhan ‘ekonomi 24 jam’ di saat menjelang pesta pemilihan berlangsung. Lembarannya pun variatif, dua lembar, tiga lembar, atau bahkan lima lembar uang dengan senyuman khas Bung Karno dan Bung Hatta tersebut. Hal inipun berakibat terciptanya pola pikir bahwa ‘gesek jempol dan telunjuk’ adalah kode lumrah dikalangan masyarakat, baik pemilihan pemimpin skala anak maupun skala induk demi memenuhi kebutuhan ekonomi 24 jam tadi.
Hal inipun dipersulit dengan adanya sebagian kalangan cukup kritis, namun belum melakukan prinsip P.O.A.C secara menyeluruh. Planning, Organizing, Actuating, and Controlling, sebuah prinsip sederhana yang dapat diterapkan dalam segala bidang pembangunan. Beberapa dari mereka ini, malah langsung loncat ke prinsip controlling tanpa memulai dengan perencanaan dan gerakan nyata dalam upaya saling mencerdaskan agar terbebas dari jeratan rantai pilu ini.
Mereka-mereka ini, lebih memilih melakukan kegiatan controlling setelah acara inti usai, seperti membuat status sindiran di media sosial, beramai-ramai turun ke jalan, mengkritik di warung-warung, yang semua ini sebetulnya baik sekali untuk dilakukan sebagai kontrol, dengan catatan ‘setelah adanya andil lewat sebuah gerakan nyata menjaga terjadinya praktik kecurangan dimasyarakat sebelum berlangsungnya kegiatan pemilihan’. Adu opini yang menguras waktu sehingga lubang-lubang peluang tadi semakin menganga.
Gerakan-gerakan nyata yang dimaksudkan disini adalah bagaimana jika semua elemen masyarakat: tokoh agama, pemuda, tokoh adat, ibu-ibu pengajian,ibu-ibu rumpi warung, ibu-ibu arisan semuanya saling awas dan saling menjaga. Hey… itu tidak boleh!, hey jang itu curang! Bayangkan saja jika beribu-ribu warna almamater itu memilih kembali ke daerahnya masing-masing dalam waktu singkat saja sebelum pesta demokrasi itu digelar, saling menjaga, saling mencerdaskan, berteriak keras Hey bung, inilah pemimpin terbaik! hey kawan, bapak, mak, nek, kek jangan ambil uang itu! dan usaha-usaha itu dilakukan sebelum berlangsungnya kegiatan pemilihan.
Memang tak siapapun berani menjamin keberhasilan usaha-usaha ini, mengingat kompleksnya permasalahan ini. Tetapi paling tidak, rasa puas yang akan kita dapatkan, ketika mengontrol setiap tindakan pemimpin terpilih dikemudian hari, karena dia yang terpilih itu merupakan hasil jerih payah kita sebelumnya, berdarah-darah, bertangis-tangis, saling menjaga bersama masyarakat kita untuk tetap cerdas dan visioner dalam memilih yang terbaik diantara yang terbaik, hasil dari gerakan sederhana diawal sebuah pesta besar.
Sebentar lagi kita akan kembali dihadapkan pada pesta demokrasi pemilihan pelayan rakyat dan pengurus administrasi kedaerahan. Mari bersama-sama kita tutup dan kurangi kesempatan-kesempatan berkotor-kotoran di ajang ini. Mari bersama-sama membuat gerakan kecil membantu masyarakat mempelajari setiap kandidat. Semoga dengan begini akan menimbulkan rasa percaya diri kepada para calon kandidat untuk tidak tergiur berlaku curang dan mengerahkan kemampuan terbaiknya di mata masyarakat, menunjukkan bahwa mereka-mereka ini memang siap membawa perubahan positif daerahnya masing-masing. Mari kita mulai memberi gerakan diawal kemudian baru mengontrol, jangan beramai-ramai terjun ke jalan sebelum didahului usaha-usaha untuk terjun ke masyarakarat dalam mengedukasi masyarakat terhadap praktik pemilihan yang sehat. ‘Apa yang ingin kita bela jika yang dibela belum memahami darimana permasalahan yang menimpa mereka berasal?’ (***).

Related posts