by

Gempa Parittiga Bukan Akibat Tambang

Tim Selidiki Struktur Tanah Aktif

PANGKALPINANG – Faktor utama penyebab seringnya terjadi gempa bumi di wilayah Kecamatan Parittiga, masih terus diselidiki.
Meski begitu Tim Penyelidikan Pasca Gempa Bumi dari Badan Geologi Kementerian ESDM RI, Rahayu Robiana menegaskan, hubungan antara dua variabel antara daerah tambang dengan gempa bumi tektonik masih sangat kecil, hal ini dikarenakan energi yang dilepaskan pada saat gempa bumi yang terjadi di wilayah Babel masih dalam skala kecil.
Hal ini dijelaskannya dalam seminar “Mengenal Gempa Bumi dan Upaya Penyelamatan” Paparan Hasil Penyelidikan Gempa Bumi di Wilayah Desa Teluk Limau, Kecamatan Parit Tiga, dan Kecamatan Jebus Kabupaten Bangka Barat yang dilaksanakan di BPBD Babel, Jumat (13/4/2018).
Gempa bumi, katanya merupakan suatu hal yang belum bisa diprediksi kejadiannya sampai saat ini. Oleh karenanya, Ia meminta agar masyarakat tetap waspada.
“Secara korelasi tambang dengan gempa tektonik itu kecil, karena energi yang dihasilkan gempa terlalu besar, jadi kalau tambang ya sekitar itu, kalau ada peledakan sekitar itu, berbeda dengan gempa yang disebabkan alam,” jelasnya.
Gempa yang terjadi di wilayah Parittiga ini, menurutnya adalah gempa tektonik yang terekam atau interupsi magma lantaran adanya struktur tanah yang aktif.
“Walaupun berbeda dengan bencana gempa lain, tetapi inikan kejadiannya berulang, artinya memang ada struktur tanah yang aktif,” imbuhnya.
Disinggung kemungkinan terjadi lagi, Robi menegaskan berdasarkan karakteristik gempa, jika pernah pasti maka akan terjadi lagi, dan dengan skala yang rendah.
“Kapan terjadi sampai saat ini belum bisa diprediksi, entah besok entah tahun depan, kita belum tau, tapi yang pasti strukturnya ada,” tandasnya.
Ia mengimbau, masyarakat untuk memahami bahwa setiap korelasi terjadinya gempa bumi tektonik belum konsisten. Sehingga bila terjadi bencana gempa bumi, masyarakat jangan mudah panik.
“Jika gempa bumi yang terjadi berlangsung sekitar 20 detik ataupun lebih dari itu, segera waspada dan lihat kondisi wilayah sekitar, agar proses penyelamatan jiwa bisa berlangsung secara cepat dan tepat,” imbaunya
Badan Geologi Kementerian ESDM RI, menurutnya, terus melakukan edukasi kepada masyarakat di seluruh wilayah NKRI terkait KRB gempa bumi melalui kegiatan sosialiasi rutin seperti event-event yang banyak dihadiri oleh masyarakat. Selain itu, pihaknya juga terus menjalin kerjasama dengan luar negeri, dan mulai mengembangkan aplikasi terkait peringatan dini tentang potensi bencana alam ke masyarakat.
Pelaksana harian (Plh) Kepala BPBD Babel, Hermanto menjelaskan, gempa bumi berkekuatan 3,1 sampai dengan 4 SR (Skala Richter) memang pernah terjadi di wilayah Babel untuk daerah Permis, Jebus dan Belinyu.
Sampai saat ini, lanjut dia, upaya yang harus dilakukan untuk kesigapan menghadapi bencana alam.
“Kesiapan siagaan kita dengan cara struktural berupa kesiapan logistik pada saat bencana alam terjadi maupun non struktural berupa pemberian informasi kepada masyarakat mengenai potensi bencana alam,” terangnya. (nov/6)

Comment

BERITA TERBARU