Gapoktan Serdang Jaya Dusun Limus Panen Raya Padi Perdana

  • Whatsapp

DPPP Serahkan Dua Unit Alsintan

TOBOALI -Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Serdang Jaya II Dusun Limus, Desa Serdang Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, melakukan panen raya perdana padi sawah di atas lahan fungsional seluas 12 hektar, Senin (8/4/2019). Gapoktan ini merupakan binaan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Toboali.

Kepala Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DPPP) Bangka Selatan Suhadi mengatakan sangat mengapresiasi kegiatan panen raya ini. Menurutnya, keberhasilan petani tidak terlepas dari kerja sama dan pembinaan oleh BPP dan PPL dengan Indeks Pertanaman (IP) dari 1 kali tanam menjadi 2 atau 3 kali tanam setahun.

“Namun untuk mewujudkan tanam dan panen dua kali setahun diperlukan peningkatan SDM petani agar lebih maju dalam budidaya pertaniannya. Petani perlu didukung dengan peralatan atau mesin pertanian yang memadai untuk menunjang peningkatan produktivitas persawahannya,” ujar Suhadi, Selasa (9/4/2019).

Meski demikian, pihaknya juga mengarahkan petani menggunakan bibit padi unggul nasional dan lokal dalam budidaya. Dalam kesempatan itu, Desa Rias dan Serdang juga menerima dua unit combine alat mesin pertanian (Alsintan) mesin perontok padi yang merupakan bantuan pemerintah pusat guna mempermudah petani saat memanen padi.

“Bantuan combine ini sudah kita terima bulan Januari lalu dari pemerintah pusat, kemarin baru kita serahkan karena sudah masuk musim panen. Dua unit alsintan mesin perontok yang diberikan kepada dua desa itu karena masih belum memadai. Diharapkan petani semakin terbantukan, panen lebih mudah dan kesejahteraan petani semakin meningkat,” timpal Sekretaris DPPP Bangka Selatan, Rizal.

Dia mengatakan, dua unit mesin perontok itu sangat bermanfaat bagi Pemkab Bangka Selatan khususnya yang memang tengah fokus meningkatkan produksi pertanian. Bahkan, pemerintah setempat menargetkan swasembada beras dalam beberapa tahun kedepan. Untuk diketahui, nilai dua unit mesin ini sekitar 1,5 miliar dimana satu hari mampu produksi tiga hektar.

“Kami berharap pengelolaan alsintan itu dikelola sebaik mungkin sehingga bermanfaat bagi masyarakat. Namun, mesin perontok bantuan pemerintah itu tidak dapat digunakan petani secara cuma-cuma. Pengelolaan diserahkan pemerintah kepada unit pengelolaan jasa alsintan. Ada biaya pemeliharaan dan jasa pengoperasiannya, senilai 1,6 juta per hektar atau 400 ribu per petak,” jelasnya. (raw/10)

 

Related posts