by

Gakkum KLHK RI Cek Limbah Teluk Pikat

Tim Gakkum KLHK mengambil sampel air dan pasir Pantai Teluk Pikat Sungailiat yang tercemar limbah hitam, Jumat sore (13/7/2018). Tim juga mengimpun keterangan warga untuk mengusut pencemaran laut dan pantai serta mengusut asal limbah. (Foto: Zuesty Novianti)

Usut Asal Limbah Hitam
Gunakan Drone Selidiki Aktifitas Laut Sekitar

SUNGAILIAT – Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (Ditjen Gakkum KLHK RI) mendatangi Pantai Teluk Pikat, Jumat sore (13/7/2018) di Kelurahan Matras yang tercemar limbah hitam. Kedatangan tim KLHK RI ini untuk mengimpun keterangan dari warga serta mengambil sampel pencemaran pada air dan pasir Pantai Teluk Pikat dan sekitarnya.
Pantauan wartawan, tampak tim melakukan pengecekan detail dengan menggali pasir yang terkontaminasi serta batu dan air laut. Termasuk juga hulu air tawar di dekat lokasi Pantai Teluk Pikat yang ikut tercemar. Pengambilan sampel dilakukan dengan peralatan laboratorium didampingi warga dan Walhi Babel.
“Kami bergerak atas adanya aduan dari pihak masyarakat, yang menyampaikan ada limbah di sekitaran Matras. Kemudian Pak dirjen kami Pak Rasio Ridho Sani melakukan pengecekan,” ungkap Firdaus selaku Ketua Tim Pengecekan Limbah di Pantai Teluk Pikat sekaligus Staf Gakum KLHK RI di Pantai Teluk Pikat Matras di sela-sela pengecekan.
Pihaknya melakukan pengambilan sampel baik limbah padat seperti pasir maupun limbah cair dari air.
“Untuk memastikan siapa-siapa sih pelakunya. Ini kan anginnya kencang kita akan kembali lagi besok untuk melakukan video drone guna mengecek dari atas ada kegiatan apa saja di sini,” tukasnya.
Ia jelaskan, pihaknya akan membawa sampel ke laboratorium khusus untuk mengetahui limbah hitam yang diduga minyak tersebut apakah dari minyak bekas, pelumas bekas, minyak mentah atau solar. Akan dilakukan kerja dengan pihak Migas guna mengetahui kandungan minyak.
Ia sebenarnya berharap ada respon pihak terkait di daerah dengan cepat tiap ada kejadian seperti pencemaran ini. Pihak terkait dapat mengamankan sampel pencemaran karena apabila terlalu lama bisa membuat jejak-jejak pencemaran hilang.
“Kalau yang kita ambil sekarang kurang baik lah, kalau dari awal kan lebih baik. Sekarang kita hanya ambil dari pasir dan rumput dan air yang tersisa. Kalau yang bagus kan yang dari awal,” ujarnya didampingi Direktur Eksekutif Walhi Babel, Ratno Budi dan nelayan Matras.
Disinggung apakah sanksi bagi pelaku pencemaran sesuai Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang pengelolaan lingkungan hidup maka untuk pencemaran limbah B3 terdapat sanksi pidana. Sanksi pidana dapat berupa kurungan penjara dan denda baik bagi perorangan maupun badan usaha.
Ia meminta apabila masyarakat ataupun pemerintah daerah menemukan kejadian serupa maka pihak terkait yang memiliki sertifikasi mengambil sample utamanya Badan Lingkungan Hidup. Pengambilan sampel sejak awal semakin memudahkan pengungkapan sebab pencemaran serta pelakunya.
Sebelumnya pesisir Pantai Sungailiat sebelum lebaran Idul Fitri lalu tercemar limbah hitam sekitar 1 Km lebih. Pencemaran kemudian terjadi lagi sepekan lalu. Pihak Komisi III DPRD Bangka dan BLH Babel dan BLH Bangka sempat melakukan pengecekan ke lapangan. Pencemaran ini dinilai merusak ekosistem laut, merusak pantai dan mengganggu aktivitas nelayan. (2nd/6)

Comment

BERITA TERBARU