Opini

Gagasan Cendikiawan dan Akademisi untuk Aksi Nyata

Penulis: Ameliana Tri Prihatini Novianti, S.Si
SMK Negeri 1 Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, Babel

Penulisan opini ini, diawali dengan senyuman manis dari bibir penulis. Mengapa? Karena saat penulis membuat tulisan tentang Corona ini, penulis teringat bahwa empat hari mendatang, penulis dan guru-guru lain, utamanya yang bertempat tinggal lebih dari 70 kilometer dari sekolah secara legal diperbolehkan untuk tidak ke sekolah selama sekurangnya empat hari. Wadidaw… bukankah itu sesuatu yang wajib untuk disenyumi?

Eh, bagaimana dengan siswa-siswanya? Nah, siswa kelas XII yang sedang melaksanakan UNBK dan Ujian Sekolah tetap melaksanakan sesuai jadwal dengan memperhatikan protokol kesehatan. Siswa kelas X dan XI “lebih beruntung” karena selama kelas XII melaksanakan ujian, mereka belajar di rumah masing-masing melalui pembelajaran daring (dalam jaringan) yang diberikan oleh guru.

Corona telah membuat sebagian besar negara dari berbagai belahan dunia gugup. Terlebih ketika WHO (World Health Organization) mengumumkan bahwa Corona merupakan sebuah Pandemi yang sampai saat opini ini ditulis, telah menginfeksi sedikitnya 201.436 orang di 156 negara termasuk Indonesia.

Sebanyak dua warga Indonesia positif Corona diumumkan Presiden Jokowi pertama kali saat melakukan Press Conference tertanggal 8 Maret 2020, membuat Indonesia menyandang gelar darurat Corona. Enam hari kemudian, BNPB  mengubah status Indonesia dari baik-baik saja menjadi bencana nasional non-alam, dan status ini berlaku hingga 29 Mei 2020.

Mau bagaimana lagi, dunia memang sedang sakit karena ulah virus berukuran 400 micro ini. Lantas, untuk menghidari penularan dan menularkan, pemerintah menginstruksikan  kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas diluar rumah dan menghindari kegiatan yang mengumpulkan banyak orang. Hal ini berimbas pada tak sedikit karyawan yang diminta melakukan pekerjaannya di rumah, bahkan sampai ke ranah kegiatan pembelajaran di sekolahpun dintruksikan untuk “dirumahkan” saja.

Sebagai guru, utamanya guru Mapel Produktif Kompetensi Keahlian Multimedia yang bertugas di SMK Negeri 1 Kelapa, yang mana seharusnya pembelajaran untuk menuntaskan capaian kurikulum dilakukan pada ruangan laboratorium multimedia atau ruangan praktik/workshop, kebijakan “merumahkan” kegiatan pembelajaran yang biasanya dilakukan di sekolah memiliki efek dua sisi mata uang. Sisi pertama, secara pribadi saat ini penulis suka kegiatan ini, karena waktu mengajar yang fleksibel, dan kebetulan penulis sedang menyelesaikan best practice untuk seleksi lomba guru berprestasi tahun ini. Otomatis waktu penyelesaian best practice penulis bertambah.

Pages: 1 2 3 4

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

ads






To Top