by

Follower Sesat

Karya: Rusmin

Usai magrib, setiap malam jumat, bau kemenyan dan aroma kembang tujuh warna warni selalu menghiasi rumah Markudut. Aroma harumnya racikan kemenyan dari dupa, membakar jiwanya. Merasuk ke dalam jiwanya. Seluruh aliran darah dalam tubuhnya, seolah bertuliskan frasa balas dendam dan balas dendam.

###

Pagi itu awan berarak. Iringi langkah manusia dibumi yang mulai beraktivitas sesuai dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang ke kantor. Ada yang ke sawah. Ada pula yang ke pasar. Demikianlah sirkulasi kehidupan di dunia.
Tiba-tiba warga di areal persawahan kaget setengah mati. Teriakkan mereka mengejutkan seluruh penghuni kampung. Ada sekujur tubuh manusia di saluran air irigasi sawah. Wajahnya penuh luka. Di sejumlah tubuhnya ditemukan luka-luka.
Markudut kaget. Bahkan jantungnya mau copot ketika Pak RT menyampaikan berita duka tentang kematian istrinya di sawah. Tanpa menghiraukan narasi Pak RT lagi, Markudut dengan parang ditangan langsung menuju areal persawahan. Hatinya amat panas. Mendidih. Lelaki itu ingin melihat wajah seseorang yang diyakininya telah membunuh istrinya.
Sampai di areal persawahan yang dipenuhi lautan manusia, Markudut langsung pingsan. Parang yang mengkilat ditangannya langsung terlepas saat melihat mayat istrinya. Tak terpikir olehnya tentang wajah lelaki itu. Wajah yang dituduhkannya sebagai pembunuh istri tercinta.
Markudut tersadar ketika mayat istrinya telah usai dimakamkan. Hanya airmata penyesalan dari pipinya yang mengalir di makam istrinya. Airmatanya membasahi makam istrinya. Menggenangi makam istrinya. Airmata penuh dendam yang membara dari seorang suami.

###

Hingga hari ketujuh belum ada juga tanda-tanda tentang siapa pembunuh istrinya. Padahal beberapa orang warga telah dipanggil sebagai saksi oleh pihak yang berwenang. Namun aparat hukum belum menetapkan pembunuh istrinya.
“Kami sudah mendapatkan titik terang tentang kasus pembunuhan istri Saudara. Dengan bukti-bukti yang kami miliki, secepatnya kami akan segera tangkap pelakunya,” jelas Kepala Keamanan Kota kepada Markudut.
Lelaki itu hanya terdiam. Membisu. Mulutnya terkunci sehingga tak ada desis suara yang keluar. Markudut menahan amarah yang luarbiasa. Kalau bukan di kantor keamanan, mungkin meja yang ada di depan sudah digebuknya. Toh penjelasan dari Kepala Keamanan Kota sering bahkan teramat sering didengar di televisi rumahnya. Bahkan dari suara radio yang didengarnya di dangau sawahnya.
Markudut pulang dengan sejuta kekecewaan yang amat mendalam. Sepanjang perjalanan hanya frasa dendam dan dendam yang ada dalam jiwanya. Mengaliri darah mudanya. Membakar sekujur tubuh energiknya hingga ke otak cerdasnya.
“Nanti kamu rasakan pembalasanku yang sangat keji,” desisnya. “Bahkan pembalasan itu akan membuat orang Kampung tak berani macam-macam dengan aku,” pikirnya lagi.
Sebuah info didapat Markudut dari seorang temannya bahwa di Kampung Seberang kampung mereka ada seorang yang sangat ahli, akrab dipanggil Mbah Jangggut mampu mendatangkan arwah orang yang sudah meninggal.
“Mbah Janggut ini bisa memberikan solusi kepadamu, siapa pembunuh istrimu yang sebenarnya,” kata seorang temannya yang ikut merasakan keperihatinan Markudut.
“Caranya?” tanya Markudut dengan jiwa sejuta gelisah.
Sang teman mendekatkan mulutnya ke kuping Markudut. Komat kamit mulutnya. Buka tutup. Membisikan sesuatu. Wajah Markudut berbinar-binar. Ada rasa kebahagian yang terpancar dari wajahnya. Kesumringahan membalut mukanya. Senyumnya mengembang.

###

Bau kemenyan yang dibakar seorang lelaki tua dari dupa kunonya di belakang rumah Markudut sudah tercium hidung. Sejumlah kata-kata mantra terus didengungkan lelaki tua berbaju hitam itu dengan suara penuh wibawa. Mantra itu amat asing bagi Markudut. Tak pernah didengarnya di pengajian atau dalam ceramah-ceramah agama yang sering diikutinya. Tak pernah sama sekali. Sangat asing di telinganya.
“Ah, terserahlah. Yang penting pembunuh istriku terungkap,” pikirnya.
Aroma kemenyan yang terbakar sangat memekatkan hidung. Menyesakkan rongga-rongga hidung. Bagi yang tak kuat tentunya segumpal aliran anyir keluar dari hidung. Aroma kemenyan makin memekat. Asapnya mengitari halaman belakang rumah Markudut yang asri. Disinilah dia dan istrinya biasanya menghabiskan waktu sengganggnya berdua dengan bercerita dan berbagai kasih sayang sebelum menuntaskannya di ranjang kamar.
Sekilas muncul wajah ayu sang istri. Matanya sembab. Wajahnya penuh kedukaan. Bajunya penuh darah. Sekilas menghilang dan berganti wajah seorang lelaki. Mantra dari lelaki tua itu makin kencang. Sekencang hati Markudut yang ingin segera menebas kepala lelaki yang muncul sekilas bersama istrinya.
“Tak salah lagi. Dialah orangnya. Aku harus membalas dendam,” katanya dengan berdesis.
“Darah harus dibalas darah. Nyawa harus dibalas nyawa,” gumam Markudut dengan jiwa yang berbalut emosi.
Lelaki tua itu tiba-tiba membalikan badannya. Wajahnya menatap Markudut dengan tajam. Tak ada kata. Tak ada sama sekali. Tubuh Markudut roboh.
“Selesaikan apa yang harus diselesaikan. Dan bereskan apa yang harus dibereskan dalam rumah ini,” perintahnya.
Sekonyong-konyong muncul sejumlah orang yang bertindak sesuai dengan perintah lelaki tua itu. Termasuk menggotong tubuh Markudut yang telah membeku.

###

Warga kampung kembali digemparkan dengan berita penemuan mayat. Kali ini warga kampung yang hendak ke pasar menemukan mayat Markudut di pinggir kampung. Di jalan raya perbatasan dengan kampung sebelah.
Kesunyian menerpa pemakaman umum kampng usai mayat Markudut dikuburkan di samping makam istrinya. Tak ada lagi dendam yang membara. Tak ada lagi. Satu dua daun kamboja yang menjadi penghias sekaligus peneduh pemakaman umum itu gugur. Jatuh dimakam Markudut. (***)

Comment

BERITA TERBARU