Flexibel Working Space, Kebutuhan atau Keterpaksaan?

  • Whatsapp
Penulis: Nazif Azhari,
Kepala Seksi Kepatuhan Internal Kanwil DJPb Prov. Babel

Sudah menjadi rahasia umum bahwa penerapan flexible working space (FWS) dalam rangka perwujudan work-life balance merupakan isu besar bagi para pegawai dan sebagian besar organisasi, baik pemerintah ataupun swasta. Hal tersebut semakin mencuat ketika terjadi kondisi darurat, yaitu situasi pandemi Covid-19 melanda seluruh belahan dunia.

Pemberlakuan pembatasan sosial diberbagai tempat tentu berdampak signifikan pada pola kebiasaan individu, ritme kerja dan interaksi sosial. Disamping itu, setiap organisasi dituntut mampu beradaptasi agar dapat memastikan keberlangsungan tugas/fungsi ataupun bisnisnya. Tantangan terbesarnya adalah kesiapan organisasi untuk merespon perubahan situasi yang kritis tersebut dengan menciptakan inovasi atau kebijakan yang sesuai.

Read More

Bagi organisasi yang sudah mempersiapkan diri tentu situasi pandemi ini, menjadi momentum untuk berakselerasi mengimplementasikan FWS dalam upaya mempertahankan kelangsungan bisnisnya. Sementara bagi organisasi yang belum memiliki persiapan, tentu pandemi Covid-19 ini telah membuat proses bisnisnya sekarat dikarenakan adanya berbagai pembatasan sosial yang diterapkan pemerintah.

Disinilah letak perbedaan yang akan menjadi penentu keberhasilan. Organisasi yang sudah siap akan cepat melakukan recovery dan mampu melalui hambatan dengan mulus. Sementara bagi organisasi yang belum memiliki persiapan, maka dia terpaksa atau akan memaksa internal organisasi untuk beradaptasi, tanpa mengetahui dengan jelas apa yang seharusnya dilakukan dan bagaimana bertahan dari tekanan.

Sebagai contoh, kita akan mencoba mengukur kesiapan salah satu unit kerja Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam penerapan FWS berdasarkan persepsi para pegawainya. Sebuah organisasi yang besar biasanya akan dihadapkan pada berbagai perbedaan bidang tugas, fungsi dan latar belakang pegawai, sehingga perlu upaya-upaya khusus agar organisasi selalu adaptif dan selalu menjaga keberlangsungan pelaksanaan tugas fungsinya dengan mengedepankan produktivitas, namun tidak mengabaikan kualitas hidup pegawainya.

Persaingan global dan pergeseran mindset para pegawai untuk mengedepankan nilai kehidupan pribadi atau keluarga, telah mendorong para pegawai untuk memilih organisasi atau perusahaan yang dapat mengakomodasi kebutuhan tersebut. Hal ini telah mendorong organisasi maupun perusahaan besar untuk menawarkan isu work-life balance ini sebagai sebuah daya tarik tersendiri bagi para pekerja potensial dan talent, khususnya kaum milenial, untuk bersedia mengabdi pada oeganisasi tersebut.

Related posts