by

Filosofi Wisuda : Bijak Memaknai Perayaan Kelulusan Jenjang PAUD, SD, SMP, SMA & SMK

-Opini-171 views

Oleh: Ameliana Tri Prihatini Novianti, S.Si
Guru Multimedia SMK Negeri 1 Kelapa

Ameliana Tri Prihatini Novianti, S.Si

Wisuda dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna “peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat: para sarjana yang baru lulus menghadiri acara — bersama orang tua mereka”. Dari sini dapat dilihat bahwa wisuda merupakan acara sakral yang diperuntukkan sebagai penghargaan pada jenjang pendidikan pada strata tertentu setelah selesai menempuh pendidikannya tersebut.

Orangtua yang menghadiri acara wisuda anaknya tentu ia menghadiri acara kelulusan anaknya dari jenjang perguruan tinggi dengan membawa kebanggaan karena acara wisuda sarat dimaknai sebagai puncak keberhasilan pada jenjang pendidikan tinggi.

Seragam wisuda yang wajib dikenakan para sarjana yang akan di wisuda bernama Pakaian Toga yang terdiri dari jubah, Mortarboard (topi wisuda dilengkapi dengan tassel atau tali pendek berbahan kain), Sleber (kain yang melingkari pundak pada jubah toga dan menutupi dada), Samir (kalung wisuda) dan medali wisuda.

Pakaian toga pertama kali digunakan oleh Bangsa Etruskan yang hidup di Italia sejak 1200 SM dan berfungsi sebagai pakaian untuk menutupi tubuh dengan cara melilitkannya, berbentuk seperti jubah dengan panjang sekitar enam meter. Pada masa ini, toga dianggap satu-satunya pakaian yang layak digunakan ketika berada di luar rumah.

Kemudian, toga berkembang di Romawi Kuno sejak 717 SM pada masa Raja Roma Kedua yaitu Numapompilius berupa sehelai mantel wol tebal yang digunakan setelah memakai cawat atau celemek. Sama seperti Bangsa Etruskan, toga juga dianggap sebagai satu-satunya pakaian yang layak digunakan ketika berada di luar rumah. Seiring jalannya peradaban, pemakaian toga sebagai pakaian sehari-hari mulai bergeser menjadi pakaian resmi perayaan kerajaan dan seremonial termasuk acara kelulusan pada jenjang pendidikan tinggi.

Jubah toga di dominasi warna hitam karena banyak yang meyakini bahwa warna hitam melambangkan keagungan, oleh karena itu, warna hitam juga digunakan hakim pada jubahnya. Selain itu, jubah toga yang berwarna hitam menyimbolkan misteri kegelapan yang berhasil dikalahkan para sarjana yang menghadiri acara wisuda tersebut sekaligus diharapkan mampu membuka tabir kegelapan dengan ilmu pengetahuan yang selama ini didapatkan pada jenjang pendidikan tinggi.

Mortarboard atau topi toga biasanya berbentuk segi lima atau segi empat menyiratkan makna agar para sarjana yang menghadiri acara wisuda tersebut dapat berpikir dari berbagai sudut pandang secara logis, rasional, dan ilmiah. Tassel (tali pada mortarboard) disimbolkan sebagai otak yang dimaknai sebagai perpindahan pemikiran dari menggunakan otak kiri menjadi menggunakan otak kanan. Tassel juga dimaknai seperti tali pembatas buku, saat dipindahkan berarti para sarjana harus terus belajar dan menambah wawasan agar ilmunya semakin berkembang.

Pada jenjang pendidikan tinggi, prosesi seremonial wisuda dimulai ketika para hadirin berdiri saat rektor memasuki ruangan kemudian diikuti dengan prosesi lainnya. Salah satu hal yang menjadi inti dari seremonial ini adalah pemindahan tassel dari kiri ke kanan yang tidak dilakukan oleh sembarang orang tetapi dilakukan oleh orang yang memiliki kualitas ilmu yang tinggi seperti guru besar, rektor atau pejabat perguruan tinggi yang lain.

Sejak tahun 2014, terjadi pergeseran esensi wisuda sesungguhnya setelah banyaknya lembaga pendidikan PAUD, SD, SMP, SMA dan SMK yang juga menyelenggarakan wisuda saat kelulusan anak didiknya. Prosesi wisuda yang dilakukan pada jenjang tersebut sama dengan yang dilakukan pada jenjang perguruan tinggi dengan menggunakan pakaian toga lengkap dengan Mortarboard. Filosofi wisuda yang begitu sakral dan sarat makna nampaknya kurang tepat dilakukan pada jenjang PAUD, SD, SMP, SMA dan SMK. Acara wisuda diperuntukkan sebagai wahana kelegaan para mahasiswa yang telah menyelesaikan skripsi atau tugas akhir yang tidak mudah diselesaikan karena pembuatannya yang berstandar ilmiah sekaligus sebagai pemacu semangat mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan skripsi atau studinya. Jika jenjang PAUD, SD,SMP, SMA, dan SMK juga mengadakan acara wisuda pada kelulusannya, ditakutkan esensi wisuda yang sesungguhnya menjadi kurang bermakna. Siswa mungkin tidak akan merasa prosesi wisuda adalah hal yang istimewa dan harus diikuti karena mereka sudah pernah mengikuti prosesi wisuda pada jenjang PAUD, SD, SMP, SMA atau SMK.

Oleh karena itu, kata perpisahan, pelepasan, atau penyerahan sepertinya lebih cocok digunakan untuk merayakan kelulusan pada jenjang PAUD, SD,SMP, SMA dan SMK. Perpisahan, pelepasan atau penyerahan berarti berpissah, melepas atau menyerahkan sepenuhnya anak didik ke orangtuanya masing-masing setelah beberapa tahun dididik secara formal pada jenjang pendidikan tersebut.

Comment

BERITA TERBARU