Fenomena Kemerosotan Moral

  • Whatsapp

Oleh: Abrillioga
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung

Fenomena Degradasi atau disebut dengan kemerosotan, saat ini, menjadi sebuah isu dan topik yang hangat untuk diperbincangkan dan dibahas, karena bersifat subtansial atau urgent (penting) terkait dengan Moral. Bagaimana tidak? Kemerosotan moral yang ditunjukkan dalam beradab dan beretika harus sesuai dengan jalinan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, sesuai dengan pengamalan butir-butir Pancasila yang dicontohkan dalam sikap saling menghargai dan menghormati sesuai dengan adab dan moral bangsa. Itu, ditujukan kepada semua kalangan umur, baik anak-anak maupun orang dewasa harus memiliki sikap saling menghormati antarsesama sebagai wujud dari penyerasian nilai-nilai dalam kehidupan bermasyarakat guna menciptakan jalinan sosial yang damai dan tentram.

Muat Lebih

Untuk mengupas hal di atas, pada kesempatan kali ini, penulis lebih menitikberatkan tentang fenomena kemerosotan moral terkait dengan adab dan perilaku terhadap sesama. Mengingat fenomena degradasi moral ini, sudah banyak sekali dibahas dan menitikberatkan pada kelakukan seks bebas dan pergaulan remaja sesuai dengan data yang dikeluarkan oleh BKKBN pada sepanjang tahun 2018 tentang kasus Aborsi.

Beralih ke Fenomena Kemerosotan Moral, sebelumnya perlu kita ketahui terlebih dahalu tentang hakikat sebuah moral itu sendiri. Secara harfiah, pengertian moral adalah suatu hukum perilaku yang diterapkan kepada setiap individu dalam bersosialisasi dengan sesamanya, sehingga terjalin rasa hormat dan menghormati antar sesama. Terdapat juga sebuah Statement yang mengatakan bahwa moral adalah sesuatu yang berhubungan dengan prinsip-prinsip tingkah laku; akhlak, budi pekerti, dan mental, yang membentuk karakter dalam diri seseorang, sehingga dapat menilai dengan benar apa yang baik dan buruk.

Moral adalah produk yang dihasilkan oleh budaya dan agama yang mengatur cara berinteraksi (perbuatan, perilaku, dan ucapan) antar sesama manusia. Dengan kata lain, istilah moral merujuk pada tindakan, perilaku seseorang yang memiliki nilai positif sesuai dengan norma yang ada di suatu masyarakat. Pada hakikatnya, setiap manusia perlu memiliki moral dengan tujuan untuk mewujudkan harkat dan martabat kepribadian manusia melalui pengamalan nilai-nilai dan norma seperti salah satu contohnya moral dapat memberikan wawasan masa depan kepada manusia, baik sanksi sosial maupun konsekuensi dalam kehidupan, sehingga manusia akan penuh pertimbangan sebelum bertindak dan berbicara dikehidupan sosial.

Dalam pembagian moral pun bermacam-macam, namun sesuai dengan relasi permasalahan dewasa ini, dimana kemerosotan moral penulis beranggapan saat ini, kita mengalami fase “Lawfracy Moralitas” (Moral yang cacat) seperti pada Moral Etika dan Kesusilaan. Moral Etika dan Kesusilaan adalah semua hal yang berkaitan dengan etika dan kesusilaan yang dijunjung oleh suatu masyarakat, bangsa, dan negara secara budaya dan tradisi.

Wujud moral etika dan kesusilaan, misalnya menghargai orang lain yang berbeda pendapat, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Contoh; mengucapkan salam kepada orang lain ketika bertemu atau berpapasan. Namun, tidak dengan demikian. Penulis sendiri telah merasakan dan melakukan pengamatan secara objektif dengan langsung terjun ke lingkungan sosial. Dimana penulis berspekulasi, moralitas seakan kehilangan raganya saat ini. Budaya saling menjunjung tinggi rasa kesopanan dan menghargai antarsesama (terlibat dalam semua kalangan umur) dalam beretika sangatlah miris. Terlebih lagi bagi mereka para orang dewasa yang telah memiliki pendidikan cukup dan dikatakan sebagai panutan dalam beretikapun ternyata memiliki peran yang cukup andil dalam kemerosotan moral itu sendiri. Jika demikian? Bagaimanakah bisa mereka mampu untuk memberikan contoh yang baik bagi anak-anak seusia dibawah mereka. Hal ini perlu diingatkan dan ditegaskan, bahwa moral sebagai bentuk cerminan seseorang atau disebut sebagai personal branding, apakah seseorang dikatakan memiliki good attitude or bad attitude?

Kita tahu bahwa Indonesia bumi pertiwi kita sejak dahulu terkenal dengan keramah tamahannya dan sangat menjunjung tinggi sopan santun kepada semua orang. Selain itu, sebagai bangsa yang menjunjung tinggi budaya ketimuran bangsa Indonesia juga dikenal dengan moralitasnya yang sangat beradab. Akan tetapi, saat ini, seiring dengan berjalannya waktu bangsa kita terutama kalangan remaja sudah mengalami kemerosotan moral. Hal itu tampak pada kasus-kasus yang telah terjadi sampai saat ini. Seperti adanya tanda-tanda yang menunjukkan bahwa bangsa kita telah mengalami kemerosotan moral yaitu semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, menurunkan etos kerja, semakin rendahnya rasa hormat kepada antarsesama serta menguatnya budaya ketidakjujuran. Apabila hal itu tetap dibiarkan atau tidak ada upaya preventif dan represif untuk menangani dan mengatasi masalah yang penulis rasa sangat subtansial, maka peradaban bangsa indonesia berada dalam bahaya yang sangat besar.

Kemerosotan moral yang dialami masyarakat merupakan pertanda yang berujung pada kemunduran dan kehancuran Bangsa Indonesia. Perlu adanya langkah nyata dalam menanggulangi masalah kemerosotan moral bangsa Indonesia. Stertegi pendidikan agama dan moral yang efektif untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas, tampak harus segera dirumuskan. Selain itu, perlunya mengajak para pemangku kepentingan untuk memperhatikan pengembangan karakter masyarakat sebagai upaya mencegah terjadinya kemerosotan moral. Tentunya masalah ini, menjadi tugas kita semua dalam mengatasi masalah moral bangsa, sehingga bangsa indonesia terbebas dari kemunduran dan kehancuran bangsa.

Dalam hal ini, kita perlu merealisasikan sebuah ungkapan yang disampaikan oleh Imam Al Ghazali tentang pentingnya sebuah moral yang beradab “saya lebih menghargai orang yang beradab ketimbang berilmu, sebab berbicara tentang ilmu, iblispun lebih pintar daripada manusia”.

Oleh sebab itu, penulis berharap kita sebagai insan manusia yang memiliki hati dan perasaan, lebih baik kita memiliki sikap saling menjaga perasaan antarsesama, tidak peduli itu untuk ditujukan pada siapa, seekor hewanpun memiliki hati dan nurani. Bertutur kata dan beretikalah dengan bijak dan baik terhadap sesama demi menjaga rasa saling menyayangi satu sama lain. Terkadang kita berpikir bagaimana dan mengapa kita tidak dihargai orang lain, sedangkan kita sendiripun tidak bisa memulai terlebih dahulu untuk menghargai orang lain. Yuk, selfimprovment dan saling memperbaiki diri. (***)

Pos terkait