by

Fenomena Dilan, Zaadit dan Polarisasi Gerakan Mahasiswa

Oleh: Alghi Fari Smith, SST
Social Worker

Alghi Fari Smith, SST

Sosok Dilan, mampu menyedot perhatian banyak orang terutama kaula muda dan mahasiswa. Dilan merupakan judul dari sebuah novel yang kemudian jalan ceritanya diangkat ke layar lebar. Belum beberapa hari saja, jumlah penonton film Dilan membeludak saat film ini dilaunching pertama kali di bioskop kota-kota besar di Indonesia.

Lain halnya dengan Dilan yang merupakan sosok pelajar berseragam putih abu-abu, Zaadit adalah sosok mahasiswa yang menjadi buah bibir publik. Hal ini viral pasca ia mengeluarkan “kartu kuning” saat Jokowi menyampaikan pidatonya pada Dies Natalis di Universitas Indonesia baru-baru ini. Aksi yang dinilai sebagian masyarakat sebagai aksi heroik ini, dilakukannya sebagai bentuk kritik atas pemerintahan rezim Jokowi-JK.

Ketua BEM UI ini mengatakan bahwa simbol “kartu kuning” tersebut merupakan peringatan kepada pemerintah untuk segera menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di Indonesia. Fokusnya pada tiga hal, yaitu selesaikan kasus gizi buruk di Asmat, selesaikan pro kontra pengangkatan polisi aktif untuk jabatan Plt Kepala Daerah Jawa Barat dan Sumatera Utara yang dinilai sebagai bentuk dwi fungsi Polri dan kritik pada kebijakan Kemenristek RI tentang kebijakan pembatasan gerak organisasi eksternal di kampus.

Pembaca yang budiman, Dilan dan Zaadit menjadi fenomena di kalangan pemuda dan mahasiswa. Lantas, apa hubungannya dengan polarisasi gerakan mahasiswa?
Penulis melihat mahasiswa hari ini memiliki berbagai corak dalam menjalani dunia kampus. Ada mahasiswa yang cenderung jalan cerita hidupnya seperti Dilan, menghabiskan banyak waktu untuk memperjuangkan cintanya terhadap pacarnya. Ada pula mahasiswa yang seperti Zaadit yang memperjuangkan cintanya kepada rakyat Indonesia.

Terlepas dari itu semua, ada pula mahasiswa yang hanya fokus pada studi
dan tidak melibatkan diri dalam arus pergerakan mahasiswa, ada mahasiswa yang apatis terhadap dunia politik, ada mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang. Mereka menjalani rutinitas tanpa adanya peningkatan kualitas diri.

Ada pula mahasiswa kunang-kunang alias kuliah nangkring-kuliah nangkring.
mereka menghabiskan waktu dengan nongkrong bersama kawan-kawan dengan pembicaraan yang tidak berbobot (baca: hanya untuk senang-senang) dan lain sebagainya. Hidup adalah pilihan, mahasiswa memiliki kesempatan yang sama dalam memilih jalan cerita hidupnya.

Pembaca yang budiman, mahasiswa merupakan bagian daripada pemuda.
Di setiap zamannya, pemuda merupakan aset terbesar yang dimiliki oleh suatu bangsa. Kehadiran pemuda (baca: mahasiswa) begitu dinanti oleh publik dalam membawa perubahan dan solusi atas masalah negeri. Amirul Mukminin Umar bin Khottob berkata, “Dan setiap kali aku menemui masalah-masalah besar, yang ku panggil adalah pemuda.

Bung Karno pernah berucap, “Berikan seribu orang tua, niscaya ku cabut Semeru dari akarnya, dan berikanlah aku sepuluh pemuda niscaya ku guncangkan Dunia.
Hal ini senada dengan ucapan Syaikh Hasan Al Bana, “Di setiap kebangkitan, pemudalah pilarnya, disetiap pemikiran pemudalah pengibar panji-panjinya.” Sampai di sini sangat jelas bahwa peran pemuda begitu strategis dalam mengusung suatu perubahan.

Berbicara tentang mahasiswa, Sosiolog dan juga Wakil Rektor Universitas Ibnu Khaldun, Musni Umar menilai mahasiswa saat ini sudah menjadi kaum borjuis. Mereka cuma segelintir kalangan elitis yang kebetulan menimba ilmu di universitas. “Mahasiswa sekarang berbeda. Cenderung pragmatis. Kuliah saja biar cepat lulus dan dapat kerjaan yang bagus. Yang penting dia senang,” kritik Musni Umar.

Beliau menambahkan, ada jurang pemisah antara mahasiswa dan rakyat kecil. Mahasiswa bukan lagi golongan yang peka pada masyarakat miskin. Hal ini tidak lepas dari latar belakang mereka yang berasal dari golongan menengah ke atas. Hidup enak dari kecil dan dipisahkan dari masyarakat kecil. “Kini rasanya tak ada tahta di hati rakyat untuk para mahasiswa ini. Mereka terlalu hedon untuk memahami keadaan rakyat kecil,” kata Musni yang semasa mahasiswa pernah ditahan orde baru ini.

Gerakan mahasiswa memiliki romantisme pergerakan yang tercatat indah dalam sejarah Indonesia. Mereka selalu menjadi pemantik dan pengawal perubahan dalam setiap rezim. Mahasiswa memiliki peranan penting menumbangkan orde lama. Mereka saat itu lebih dikenal dengan Angkatan 66. Mahasiswa juga memiliki andil tumbangnya orde baru dan dikenal sebagai Angkatan 98.

Rezim sebelumnya dinilai gagal dalam menciptakan stabilitas ekonomi
dan politik hingga memunculkan gejolak di tengah masyarakat. Romantisme pergerakan mahasiswa itu kini hanya tinggal cerita. Sebagian mahasiswa hari ini cenderung pragmatis dan apatis terhadap kondisi Indonesia yang hari ini sedang terpuruk di semua lini.

Dalam tulisan ini, Penulis tidak sedang membahas apakah kartu kuning Zaadit tersebut baik atau buruk. Penulis mengangkat kisah Zaadit dengan tujuan agar fenomena Zaadit tersebut diharapkan dapat menjadi pemantik kembalinya gairah pergerakan mahasiswa dalam mengawal perubahan menuju kondisi negeri yang lebih baik.

Belajar dari pengalaman tersebut, gerakan mahasiswa kedepan hendaknya memiliki
4 pilar penguat berikut ini, supaya tidak mengalami “mandul” dalam pergerakannya. Pertama, dalam pergerakan mahasiswa hendaknya mereka memiliki master plan perjuangan yang jelas. Artinya, tidak boleh dalam melakukan pergerakan, mahasiswa hanya bermodalkan semangat saja. Master plan tersebut harus dituangkan dalam suatu manifesto pemikiran tentang bagaimana mengatur urusan politik/ pemerintahan, ekonomi, sosial/ budaya, kesehatan, hukum, pertahanan dan keamanan, pendidikan dan lain sebagainya dengan baik dan benar.

Sederhananya begini, ketika mencuatnya fenomena Zaaadit yang salah satu tuntutannya adalah untuk selesaikan kasus gizi buruk di Asmat, hendaknya pergerakan mahasiswa melakukan kajian mendalam untuk menemukan solusi atas masalah ini. Rasanya sangat aneh hal tersebut bisa terjadi di Asmat Papua, mengingat tanah yang mereka injak adalah “emas”.

Kasus gizi buruk ini, harus dilihat oleh pergerakan mahasiswa tidak hanya berbicara tentang kesehatan saja, melainkan ada yang keliru dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA) “gunung” emas yang ada di Papua. Bercokolnya PT. Freeport di Papua tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat Indonesia khususnya penduduk di Papua terutama Asmat. Ada apa dengan hal tersebut? Ini yang harus diperdalam dalam kajian
yang dilakukan gerakan mahasiswa guna menghasilkan manifesto pemikiran tentang bagaimana mengatur urusan pengelolaan SDA (ekonomi).

Pilar kedua yaitu gerakan mahasiswa hendaknya memiliki road map (baca: metode) untuk mewujudkan master plan (manifesto pemikiran tersebut). Dalam mewujudkan cita-citanya (baca: master plan), gerakan mahasiswa memiliki road map (metode) yang berbeda satu sama lainnya. Ada yang mengambil jalan sosialis komunis, kapitalis dan ada pula mengambil Islam sebagai rel perjuangan. Pergerakan mahasiswa sosialis komunis, mewujudkan visi (master plan/ manifestonya) dengan jalan kekerasan/ anarkisme. Hal ini sejalan dengan teori Karl Max yang menyatakan bahwa perubahan harus dilakukan dengan cara menciptakan kegaduhan, benturan di tengah masyarakat.

Pergerakan mahasiswa kapitalis dilandasi oleh kaidah berpikir sekuler yaitu memisahkan aturan agama daripada kehidupan. Artinya, dalam memandang suatu masalah, gerakan mahasiswa ini selalu berpikiran pragmatis (melakukan sesuatu apabila di dalamnya ada manfaat) tanpa memandang apakah hal itu dibolehkan atau tidak bernilai pahala atau dosa dalam ajaran agama. Sederhananya, gerakan mahasiswa jenis ini mudah dibelokkan arah perjuangannya bergantung pada jumlah materi (uang) yang diberikan oleh para kapitalis.

Gerakan mahasiswa ini bisa dibeli, dibayar untuk melakukan sesuatu yang menguntungkan para kapitalis. Misalnya, Si A memiliki lawan politik, maka sebagai kapitalis sejati ia akan gelontorkan sejumlah uang atau minimal nasi bungkus kepada gerakan mahasiswa untuk serang lawan politiknya. Gerakan mahasiswa tersebut kemudian melakukan aksi kampanye hitam atau membunuh karakter lawan politik dari A.

Gerakan mahasiswa yang terakhir yaitu gerakan mahasiswa Islam, yaitu mahasiswa yang menjadikan Islam sebagai dasar pergerakan. Gerakan mahasiswa Islam, tidak hanya sekedar nama, tapi ia menjadikan Islam sebagai way of life dan sumber solusi atas setiap persoalan yang ada. Bagaimana tidak, Islam memiliki seperangkat aturan yang lengkap dan mampu menjawab setiap persoalan di negeri ini. Dalam menjalankan metodenya (road map) mereka tidak menempuhnya dengan jalan kekerasan, anarkisme dan pandalisme. Mereka menggunakan jalan intelektual dalam melakukan pergerakan.

Pilar ketiga yaitu ikatan yang mengikat kader organisasi pergerakan mahasiswa tidak boleh didasari atas ikatan kekeluargaan, persahabatan, apalagi karena kepentingan. Semua itu merupakan ikatan semu yang justru akan menggiring pada bubarnya organisasi pergerakan mahasiswa. Ikatan yang kokoh adalah ikatan kepemimpinan berpikir yang dipilih oleh organisasi pergerakan mahasiswa itu sendiri. Dengan kata lain, road map dan master plan itulah yang akan membimbing, membina serta mengawasi pergerakan mahasiswa agar selalu berada pada gerbong dan relnya masing-masing.

Pilar keempat, yaitu gerakan mahasiswa harus memperbanyak dan massif melakukan diskusi “jalanan”, karena melalui diskusi jalanan tersebut merupakan ciri khas pergerakan mahasiswa dan mampu menyatukan visi misi perjuangan. Selain itu, melalui diskusi tersebut diharapkan dapat melahirkan solusi atas persoalan negeri ini. Setiap mahasiswa harus dipahamkan oleh masing-masing ketua pergerakan bahwa berbagai masalah yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh dua hal yaitu pemimpin dan kepemimpinan yang tidak amanah.

Sebagai penutup penulis ingin menyimpulkan bahwa polarisasi pergerakan mahasiswa saat ini terbagi menjadi beberapa bagian, diantaranya gerakan mahasiswa yang jalan cerita kadernya seperti fenomena Dilan (baca: fokus pada pacaran) dan seperti Zaadit yang mencintai rakyat Indonesia. Selain itu ada gerakan mahasiswa sosialis komunis, kapitalis dan gerakan mahasiswa Islam. Pembaca ingin pilih pergerakan mahasiswa yang mana?

Pembaca yang budiman, sebagai mahasiswa muslim hendaknya memiliki kepemimpinan berpikir yang Islami dan ini harus diemban oleh setiap gerakan mahasiswa yang menginginkan kondisi yang lebih baik. “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” QS. Al Baqoroh: 208.

Islam memiliki seperangkat aturan yang lengkap dan mampu menjawab setiap persoalan. “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. Qs. Al A’rof: 96.Wallahu’alam. [****].

Comment

BERITA TERBARU