Feminisme dan Kesetaraan Gender

  • Whatsapp

Oleh : Meria Astuti
Sekum Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat UBB

Berbicara tentang feminisme tidak lepas kaitannya dengan perempuan. Jadi, apa itu perempuan? Secara epistemologi perempuan berasal dari kata per-empu-an “ahli/mampu”. Disini, perempuan merupakan seorang yang mampu melakukan sesuatu. Secara aksiologi perempuan merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki manfaat bagi semesta lain, seorang tokoh feminis.
Mansour fakih mengatakan bahwa manusia baik laki-laki maupun perempuan mempunyai ciri biologis (kodrati) tertentu. Dalam konsep gender, dikatakan bahwa perbedaan suatu sifat yang melekat baik pada kaum laki-laki maupun perempuan hasil konstruksi sosial dan kultural, misalnya perempuan itu dikenal lemah lembut, kasih sayang, anggun, cantik, dan perlu perlindungan. Sementara laki-laki dianggap kuat, keras, rasional, jantan, perkasa, dan melindungi. Padahal, sifat-sifat tersebut merupakan sifat yang dapat dipertukarkan. Berangkat dari asumsi inilah kemudian muncul berbagai ketimpangan diantara kaum laki-laki dan perempuan.
Kontruksi sosial yang membentuk perbedaan antara laki-laki dan perempuan itu pada kenyataannya mengakibatkan ketidakadilan terhadap perempuan. Pembedaan peran, status, wilayah, dan sifat mengakibatkan perempuan tidak otonom. Perempuan tidak memiliki kebebasan untuk memilih dan membuat keputusan baik untuk pribadinya maupun lingkungan, karena adanya pembedaan-pembedaan tersebut. Berbagai bentuk ketidak-adilan terhadap perempuan itu adalah subordinasi, marginalisasi, stereotipe, beban ganda dan kekerasan terhadap perempuan.
Dari ketidaksetaraan gender tersebut, muncul suatu gerakan perempuan untuk menerapkan keadilan harkat dan martabat perempuan dan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan serta berdampingan antara laki-laki dan perempuan.
Berikut sabda Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya, wanita tercipta dari tulang rusuk (yang bengkok). Sesungguhnya, jika engkau ingin meluruskannya, niscaya ia akan patah. Maka dari itu, maafkanlah, niscaya kamu akan bisa hidup dengannya.”(HR.Ahmad)”.
Berdasarkan hadits tersebut, dapat disimpulkan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk pria (yang bengkok). Namun ironisnya, banyak orang terutama pria, yang menyalah artikan makna dan maksud hadits tersebut. Bagi pria, hadits tersebut sering kali dijadikan sebagai dalil dalam mendiskriminasi dan menomor duakan wanita, akibatnya sejak zaman dulu sampai sekarang, posisi wanita senantiasa terdiskriminasi. Tidak akan ada wanita jika tidak ada pria, dan pria adalah penguasa wanita.
Sedangkan bagi wanita, hadits tersebut seakan menjadi “penjara” yang membuatnya harus tunduk dan pasrah dibawah kekuasaan pria. Padahal, yang sebenarnya, hadits itu bukanlah untuk mendiskriminasi atau memprioritaskan salah satunya (pria dan wanita), tetapi untuk menyadarkan manusia bahwa mereka saling menyempurnakan, saling memiliki, dan saling membutuhkan satu sama lain. Selain itu, untuk menunjukkan kepada pria agar bersikap wajar terhadap kaum wanita. Sebab, wanita memiliki perbedaan dalam beberapa aspek, seperti karakter, kebiasaan dan tendensi kecenderungan.
Wanita diciptakan dari tulang rusuk pria, ini artinya keberadaan wanita tidak bisa dipisahkan dari pria. Wanita diberi kelebihan oleh Allah SWT. Singkatnya, wanita adalah penyempurna pria. Pergerakan perempuan/ fenimisme bermula dari kesadaran akan subordinasi dan ketertindasan perempuan, feminimisme islam berupaya untuk memperjuangkan apa yang disebut islam qurani yang sangat memperhatikan pembebasan manusia, baik perempuan maupun laki-laki dari pembudakan tradisionalisme, otoritarianisme, tribalisme, rasisme, seksisme, perbudakan atau lain-lain yang menghalangi manusia mengaktualilasikan visi qurani. Tujuan islam qurani adalah untuk menegakkan perdamaian yang merupakan makna dasar islam. Tanpa penghapusan kesetaraan, ketidak sejajaran dan ketidak-adilan, yang meliputi kehidupan manusia, pribadi maupun kolektif, tidak mungkin untuk berbicara tentang perdamaian dalam pengertian yang diinginkan Al-Qur’an.
Menyikapi dari ketidaksetaraan gender tersebut, menjadi tonggak awal pergerakan perempuan yang ada di Amerika Serikat pada abad ke-19 yang berasal dari sebuah gagasan dari para penulis pencerahan. Marry Wollstonecraft, menulis sebuah buku A Vindication of the Rights of Women (1792) yang menyerang ketergantungan perempuan kepada laki-laki sebagai hasil pengkondisian sosial dan alasan yang digunakan kaum laki-laki untuk membenarkan pengingkaran terhadap hak-hak perempuan.
Gerakan fenimisme islam dalam sejarah islam sendiri, khususnya Indonesia, berlangsung dalam beberapa cara, pertama, melalui pemberdayaan terhadap kaum perempuan, yang dilakukan melalui pembentukan pusat studi wanita di perguruan-perguruan tinggi, pelatihan-pelatihan dan training-training gender, melalui seminar-seminar maupun konsultasi-konsultasi. Kegiatan seperti ini biasanya dilakukan oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakan (LSM) yang memiliki konsen dengan persoalan-persoalan keperempuanan. Seperti P3M (penghimpunan, pengembangan pesantren dan masyarakat), Rifka An-Nisa WCC ( Women Crisis Centre ), Yasanti (Yayasan Annisa Swasti) Dan lain-lain. Selain itu, lembaga-lembaga dalam konsen ini juga dikenal mengkritisi kebijakan-kebijakan negara yang dinilai merugikan keberadaan perempuan.
Kedua, melalui buku-buku yang ditulis dalam beragam tema, ada yang melalui fiqh pemberdayaan sebagaimana dilakukan Masdar Farid Mas’udi dalam bukunya, Hak-Hak Reproduksi Perempuan, yang ditulis dengan gaya dialog, melalui sastra, baik novel cerpen sebagaimana tampak dari karya-karya Nawal el-Sadawi seperti, Perempuan di Titik Nol, Memoar Seorang Dokter Perempuan dan lain-lain atau Tsitsi dengan novelnya Warisan dan sebagainya.
Ketiga, melakukan kajian historis tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam sejarah masyarakat Islam yang berhasil menempatkan perempuan benar-benar sejajar dengan laki-laki dan membuat mereka mencapai tingkat prestasi yang istimewa dalam berbagai bidang, baik politik, pendidikan, keagamaan, dan lain-lain. Karya-karya Fatima Mernissi yang berjudul Ratu-ratu Islam yang Terlupakan, Karya Ruth Roded yang berjudul Kembang Peradaban, karya Hibbah Rauf Izzat yang berjudul Wanita dan Politik dalam Pandangan Islam, merupakan sebagian contoh dari gerakan feminisme jenis ini.
Keempat, melakukan kajian-kajian kritis terhadap teks-teks keagamaan, baik Al-Qur’an maupun hadits, yang secara literal menampakkan ketidak setaraan antara laki-laki dan perempuan. Jadi, fenimisme merupakan suatu pergerakan perempuan yang memerangi ketidak adilan terhadap hak keperempuanan dan eksistensi dari gerakan fenimisme ini telah mendapat perhatian khusus dari aspek islam dan terbukti terealisasi di Indonesia.(****).

Related posts