Estafet Demokrasi di Tangan Milenial

  • Whatsapp

Oleh: IRSYADINNAS
Statistisi Pemda Belitung Timur

Istilah generasi milenial yang sering kita dengar akhir-akhir ini di berbagai media telah menjadi wacana yang mengarustama dalam banyak ruang diskusi public. Namun pertanyaannya, apa sebenarnya generasi milenial ini? Terminologi ini pertama kali diperkenalkan oleh William Strauss dan Neil Howe dalam buku mereka berjudul The Fourth Turning, yang diterbitkan pada tahun 1997 lalu. Sejak itu, istilah ini banyak digunakan pada publikasi ilmiah terutama penelitan bidang psikologi, budaya, sosial, dan bahkan politik.

Teori generasi yang diusung oleh Strauss dan Howe ini, membagi generasi ke dalam beberapa babak sesuai tahun kelahiran manusia yang berpijak kepada perubahan mendasar dari karakter dan perilaku generasi. Sebagai batasannya, didefinisikanlah generasi X yang lahir pada Tahun 1960-an sampai dengan Tahun 1980, lalu Generasi Y yang lahir pada rentang Tahun 1980-an sampai dengan 1995, dan Generasi Z yang lahir di atas Tahun 1995. Dari pengkategorian tersebut, Generasi Y inilah yang sekarang lebih dikenal dengan generasi milenial. Disebut demikian karena generasi ini punya ciri khas tentang kemampuannya beradaptasi dan berinteraksi dengan teknologi digital yang berkembang pesat akibat disrupsi teknologi, bahkan bisa dikatakan jika generasi X hanya memandang teknologi sebatas instrumen untuk memudahkan kehidupan mereka. Lain halnya dengan generasi Y yang bahkan melihat teknologi sebagai bagian dari kehidupan mereka. Ini berarti bahwa bicara tentang generasi milenial, artinya tidak lepas dari kebiasaan hidup mereka yang sangat bergantung kepada teknologi informasi dan digital.

Jika kita kaitkan hal di atas dengan isu bonus demografi yang akan dihadapi oleh Bangsa Indonesia pada tahun 2020 mendatang, dan akan mencapai puncaknya pada Tahun 2030 nanti, dimana penduduk usia produktif akan jauh lebih banyak dibandingkan nonproduktif, yaitu orang tua dan anak-anak, pada masa tersebut, berdasarkan prediksi Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk usia produktif diproyeksikan berada pada grafik tertinggi sepanjang sejarah, mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk Indonesia yang sebesar 297 juta jiwa. Ini berarti bahwa generasi milenial akan mendominasi jumlah penduduk pada rentang waktu tersebut dan akan menentukan nasib dan arah perkembangan bangsa Indonesia ke depan.

Melihat fakta bahwa generasi milenial akan menentukan wajah perkembangan peradaban bangsa ke depan, maka hal ini menjadi menarik untuk didiskusikan, karena mengingat tahun 2019 ini merupakan tahun politik, sehingga suara generasi milenial sangat diperhitungkan dalam kontestasi Pemilu. Jika kita cermati data yang dirilis oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), jumlah pemilih milenial di Indonesia telah mencapai 70–80 juta jiwa dari 190-an juta pemilih, dengan kata lain, sekitar 35-40 persen pemilih didominasi oleh generasi milenial. Ini berarti bahwa, generasi milenial akan sangat mempengaruhi hasil Pemilu dan menentukan siapa pemimpin bangsa ini di masa depan.

Pertanyaan pentingnya kemudian adalah, dengan jumlah pemilih generasi milenial yang mendominasi tersebut, apakah berkorelasi juga secara positif dengan tingkat partisipasinya dalam Pemilu? Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa, proses Pemilu di Indonesia masih dilakukan secara manual, atau setidaknya belum ada wacana untuk mengadaptasi teknologi digital sebagai perangkat yang mendukung pelaksanaan Pemilu. Artinya, Pemilu pada tahun ini dan mungkin sampai dengan beberapa tahun ke depan masih mengandalkan metode yang bersifat konvensional, yaitu harus datang langsung ke bilik suara, dan mencoblos kertas suara. Hal ini tentu saja sangat bertolak belakang dengan cara hidup generasi milenial yang semuanya ingin serba instant dan berbau teknologi.

Catatan kelam sejarah perkembangan demokrasi bangsa ini, bahkan menyebutkan bahwa generasi muda dulu seringkali dianggap sebagai kelompok masyarakat yang sangat tidak peduli dengan dunia politik. Meskipun argumentasi itu bisa dipatahkan jika melihat perkembangan demokrasi Indonesia dewasa ini, dimana sudah banyak generasi milenial yang bahkan terjun langsung ke dunia politik, misalnya dengan menjadi tim sukses atau bahkan tidak sedikit yang berani mengajukan diri untuk ikut serta menjadi calon di bursa pemilihan legislatif, atau paling tidak sebagai simpatisan partai politik.

Melihat kenyataan bahwa Pemilu di Indonesia masih dilakukan secara konvensional, maka sudah selayaknya menjadi kekhawatiran bersama bahwa akan adanya potensi masalah yaitu rendahnya partisipasi generasi milenial pada Pemilu. Hal ini sangat mungkin terjadi, bukan karena dunia politik dan demokrasi tidak memiliki daya pikat bagi kaum milenial, akan tetapi lebih kepada proses pemilu yang bagi mereka sudah ketinggalan zaman dan tidak sesuai dengan cara hidup mereka.

Asumsi ini, diperkuat dengan fakta yang sangat jelas bisa kita lihat berkembang di media sosial, dimana pengguna aktifnya didominasi oleh kaum milenial, yang sangat ekspresif menarasikan preferensi dan pandangan politiknya. Fakta ini menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan fundamental dari cara generasi muda berpartisipasi dalam dunia politik. Jika dulunya generasi muda mengekspresikan pandangan politiknya dengan agenda yang terencana, misalnya turun ke jalan untuk berdemonstrasi, sampai dengan aktivitas yang cukup ekstrim, yaitu membakar ban bekas di jalan agar pandangan politik mereka didengar oleh lembaga politik dan pemerintah. Berbeda halnya dengan ekspresi politik generasi milenial dewasa ini, yang bisa dilihat sebagai sesuatu yang baru, ekspresi politik genersi milenial cenderung lebih lunak dan spontan, misalnya melalui internet dan media sosial menyuarakan gerakan anti golput atau mengkampanyekan hashtag/tagar yang positif di berbagai media sosial demi Pemilu berkualitas dan diharapkan mampu membawa dinamika politik yang sehat dan dinamis. Ini berarti kaum milenial juga punya ketertarikan dengan isu politik, tetapi jika instrumen yang digunakan untuk berpartisipasi dalam Pemilu masih menggunakan cara konvensional, maka menilik kembali pertanyaan di atas, apakah akan menarik partisipasi milenial untuk ikut memilih?

Menjadi sebuah hal penting untuk dipikirkan dan dicarikan solusinya, Lembaga politik dan bahkan pemerintah dipaksa untuk mau dan mampu menyiapkan jalur partisipasi alternatif yang sesuai dengan cara hidup generasi milenial yang sangat bergantung pada teknologi digital. Perlu instrumen alternatif untuk membuat kaum milenial tertarik berperan aktif di dunia politik dan demokrasi, tentu saja hal ini dilakukan bukan dengan cara menghapus proses politik dan demokrasi yang telah berkembang sebelumnya, lalu menggantikan dengan hal yang baru, akan tetapi dengan memberikan alternatif lain yang menarik generasi milenial untuk berpartisipasi aktif di dunia politik.

Alternatif yang mungkin bisa diupayakan oleh Pemerintah untuk menyiapkan jalur partisipasi bagi kelompok masyarakat milenial ini, misalnya melalui pengadaaan instrumen Pemilu secara online, bahwa setiap pemilih bisa memberikan hak suaranya melalui media yang berbasiskan online. Pemilih tidak perlu repot untuk mengunjungi Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan mencoblos kertas suara, cukup dengan menyampaikan pilihannya secara online. Bayangkan jika praktik penyelenggaraan Pemilu secara online ini dijalankan, inovasi ini akan membawa perubahan yang signifikan tidak hanya pada proses Pemilu saja, tetapi secara jangka panjang, akan merubah pola komunikasi politik antara pemilih dan institusi politik, bahkan bukan tidak mungkin hal ini akan mampu mereduksi praktik dan transaksi money politic, atau jual beli suara, yang pada akhirnya akan membawa arah perkembangan demokrasi kita semakin adil dan beradab.

Sebagaimana telah disinggung di awal ulasan ini, tahun 2019 merupakan momentum politik, yang puncaknya telah diadakan pesta demokrasi Pemilu pada 17 April lalu. Ini berarti partisipasi generasi milenial juga sangat menentukan maju mundurnya perkembangan demokrasi bangsa ini. Founding Father atau Bapak Pendiri Bangsa ini, Bung Karno pernah berkata “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.” 10 generasi milenial untuk 1000 orang tua. Menutup diskursus ini dengan pertanyaan sekaligus mengetuk nurani milenial, sudah siapkah kamu menyambut tongkat estafet demi keberlangsungan hidup demokrasi Indonesia di masa yang akan datang? Kamu, Ya Kamu, Milenial !(***).

Related posts