Esensi dan Citra Kepemimpinan Menuju Perubahan

Oleh: Muhammad Tahir
Ketua Komunitas Aksara Muda Babel

Muhammad Tahir

Sebuah simbol dalam strutur organisasi adalah pemimpin, sehingga dapat dikatakan ketua, direktur, dan manejer, baik itu skala organisasi Mahasiswa, organisasi Masyarakat, organisasi legal formal dan non legal formal, semuanya mencangkup kedalam organisasi. Namun, dalam pembahasan ini, penulis mengajak pembaca setia untuk mengetahui esensi kepemimpinan organisasi yang sebenarnya itu, seperti apa terlepas dari tipe-tipe kepemimpinan, dalam diri maunusia telah memiliki fitrah yang diberikan kepada Allah SWT yakni sebagai mahluk sempurna disertai menjadi kholifah dimuka bumi ini.

Citra seorang pemimpin dalam memimpin sebuah organisasi yang efektif ditunjukkan pada dirinya sendiri dan para pengikutnya. Logikanya seperti ini, ketika seorang pemimpin memiliki kredibilitas, dan loyalitas yang tinggi terhadap apa yang ia lakukan, maka orang-orang yang menjadi pengikutnya akan mengikuti apa yang dilakukan seorang pemimpin yang meliliki kredibilitas dan loyalitas yang tinggi tersebut, begitupun sebaliknya ketika seorang pemimpin organisasi tidak memiliki kredibilitas dan loyalitas yang tinggi, maka tak heran jika para pengikutnya akan bersifat dan bertindak seperti apa yang dilakukan oleh pemimpinnya. Kemana arah kepala ular menuju, maka ekor akan selalu mengikutinya. Hal ini kerap sekali terjadi dalam dinamika organisasi apa pun bentuk dan rupa organisasinya, sehingga dalam menjalankan struktur dan admistrasi organisasi tidak berjalan secara sistematis dan efektif. Maka, perlu penekanan terhadap pemimpin agar dapat mengaktualisasikan diri dalam menjalankan tanggung jawab dengan berprilaku dan bertindak layaknya seorang pimimpin yang mampu mempengaruhi dan merangkul serta memiliki jiwa budi pekerti yang baik, dan jangan menjadi seorang pemimpin perangai seperti bos yang hanya menggunakan telunjuk untuk memerintah pengikutnya atau bawahannya.

Penulis menawarkan beberapa kriteria pemimpin yang baik dari segi tingkah laku dan tata cara berbicara dengan anggota dalam organisasi tersebut. Pertama, kita membicarakan dari segi tingkah laku, pemimpin adalah tonggak dari organisasi ia adalah cerminan dan panutan untuk anggotanya, ketika pemimpin bertingkah laku baik sesuai budi perkerti, maka organisasi tersebut dipandang oleh masyarakat luas baik, begitu pun sebaliknya ketika seorang pemimpin mentingkan laku tidak baik, maka masyarakat luas memandang organisasi tersebut tidak baik. Namun apa yang seharusnya dilakukan seorang pemimpin agar ia dan organisasinya dipandang baik oleh masyarakat luas.

Pertanyaan yang menarik sehingga menggugah pembaca budiman bertanya-tanya, apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pemimpin untuk membangkitkan citra pemimipin dalam organisasi. Hal utama yang dilakukan oleh pemimpinn yakni memiliki IMAN, ISLAM, TAQWA, dan IHSAN. Keempat hal tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan dalam konteks apapun karena iman, islam, taqwa, dan ihsan memiliki kredibilitas masing-masing.

Ironisnya, pemimpin hari ini gencar dalam kekuasaan dan ketenaran (eksistensi) dalam mengambil simpatik orang lain, agar ia memiliki ektabilitas yang tinggi dan bangga dengan hal itu, sehingga ia dengan besar hati yakin bahwa ia adalah pemimpin yang layak untuk seseorang yang dipimpinnya dalam organisasi. Tak hanya itu, malah pemimpin hari ini menggunakan kekuasaannya dengan harta benda semata untuk mempertahankan status quo untuk selalu mendapatkan kedudukan yang ia duduki saat ini.

Kemudian, layakkah pemimpin seperti ini menjadi cerminan dalam memimpin organisasi? oh tentu saja, jawaban ini akan menjadi dua persepektif. Asumsinya, ia menjawab tidak dan bahkan ada yang menjawab iya. Penulis mencoba membangun dengan argument “Tidak” terlebih dahulu sebelum ke arah jawaban “Iya”. Dalam tulisan di atas bahwa citra pemimpin pada dasarnya dilihat dari ke-Imanannya kemudian ke-Islamannya, selanjutnya ke-Taqwaannya dan Ihsannya. Bagi pemimpin yang mencari ketenaran dan kekuasaan kemudian ia tergiur dengan kepemimpinan tersebut, apakah mencontohkan ke-Imanan seseorang, melihat ke-Imanan seseorang ketika ia orang yang tidak serakahh dengan hal apa pun baik itu harta, benda, jabatan, dan kekuasan. Begitu pun dengan ke-Islaman, ke-Taqwaan, dan Ihsan yang memang sudah dijelaskan tidak dapat dipisahkan atau saling berkaitan.

Thomas Hobbes, selaku seorang filsuf barat yang mencetuskan Homo Homini Lupus yang berarti “Manusia Adalah Serigala Bagi Sesama Manusianya”. Bahwa manusia itu memiliki ego dan super ego dalam dirinya, maka tidak dapat dilepaskan bahwa manusia itu memiliki rasa ingin berkuasa dalam berkelompok dan bermasyarakat. Menjalankan kepemimpinan seperti itu, maka sah-sah saja ketika memimpin sebuah organisasi, manusia menginginkan kekuasaan dan ketenaran bagi dirinya untuk berkehandak sesuka hatinya.

Namun, disini Penulis bertanya bahwa apakah pemimpin yang baik adalah pemimpin yang haus akan kekuasaan? Apakah pemimpin ajang mencari ketenaran? Apakah pemimpin sebuah simbol penindasan? Dengan tegas penulis mengatakan pemimpin bukan seperti itu. Namun, pemimpin itu adalah sebuah panggilan bagi dirinya dan amanah untuk memimpin organisasi sesuai dengan esensi dan citra kepemimpinan demi menuju perubahan yang lebih baik. (****).

No Response

Leave a reply "Esensi dan Citra Kepemimpinan Menuju Perubahan"