Erzaldi: Polemik KIP Matras Endingnya di ESDM

  • Whatsapp

RAKYATPOS.COM,PANGKALPINANG – Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Erzaldi Rosman menegaskan berupaya untuk menyelesaikan polemik masyarakat nelayan dengan mitra PT Timah terkait penambangan di perairan Matras, Sungailiat Kabupaten Bangka.

Read More

Agar tak berlarut-larut, Erzaldi mengaku akan segera mengirimkan surat ke Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) sesuai permintaan masyarakat nelayan Matras.

“Nelayan datang untuk minta bertulis surat ke ESDM, karena kewenangan untuk menghentikan aktivitas KIP dan mencabut itu (IUP-red) ada di Kementerian ESDM,” kata Erzaldi saat jumpa pers di rumah dinasnya, Selasa malam (1/12/2020).

Surat yang dikirimkan nantinya tersebut, ia membeberkan, berisikan kajian dari tim Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Babel atas perintahnya.

“Tim sudah kita turunkan untuk mengecek kalaupun ada kealpaan dari aktivitas penambangan tersebut. Dan ini akan dilampirkan dalam surat yang akan kami kirimkan ke ESDM,” jelasnya.

Hanya saja, belum dipastikan kapan surat itu dikirimkan, mengingat waktu yang dibutuhkan oleh tim yang mengkaji persoalan tersebut.

Meski demikian, Erzaldi tetap mendorong untuk dilakukannya dialog kembali antara nelayan dengan PT Timah agar persoalan yang terjadi tidak berlarut-larut.

“Ini sudah coba sampaikan bahwa misalnya hal ini masih berlarut-larut dan belum diputuskan. Kami minta agar segera dibuka pintu dialog, seperti hal apa yang harus dilakukan PT Timah kepada nelayan karena mereka memang mereka tidak bisa melaut, berarti mereka tidak punya penghasilan. Ini yang tidak bisa kita biarkan,” ujarnya.

Menurut Erzaldi, kondisi nelayan Matras saat ini tetap pada penolakannya tidak menginginkan adanya aktivitas KIP. Nelayan, katanya, tidak melaut dan berjaga di tenda yang didirikan dengan pengawalan dari pihak kepolisian.

“Tetapi, saya minta jangan anarkis. Kita harap dalam persoalan matras, agar PT Timah yang agresif bukan pemprov karena masalah nelayan ini menganggap belum ada sosialisasi,” harapnya.

Lebih lanjut dikatakan Erzaldi, dalam persoalan ini pemerintah daerah ingin Babel kondusif. Dimana nelayan bisa mencari nafkah dengan melaut, penambang bisa makan dengan aktivitasnya hingga kelestarian lingkungan tetap terjaga.

“Untuk apa menambang kalau lingkungannya rusak, kelak lebih susah lagi kita tetapi bukan kita antitambang selama masih ada tambang ambil lah, selama tidak merusak. Menambang dengan baik dan benar, serta nelayan pun masih bisa melaut maka saya sampaikan tadi, dialog lebih bagus. Tentunya dengan dialog secara terbuka dan tidak diwakili. Saya ingin membuat Babel kondusif. Yang ilegal kita hentikan, yang legal silakan jalan selama ketentuan dilaksanakan,” imbuhnya.

Related posts