Erzaldi Orasi Ilmiah di Wisuda Stikes Citra Delima

  • Whatsapp

PANGKALANBARU – Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman, Rabu (30/10/2019) pagi, menyampaikan Orasi Ilmiah di Acara Wisuda Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Citra Delima Babel.

Materi yang disampaikan Gubernur dalam Acara Wisuda VIII Diploma III Kebidanan, Sarjana Keperawatan, dan Profesi Ners, Stikes Citra Delima, di Ballroom Soll Marina Hotel Bangka, Pangkalanbaru, Kabupaten Bangka Tengah tersebut, adalah “Pendidikan dan tantangan global Pembangunan Sumber Daya Manusia Kesehatan di Era Revolusi Industri 4.0 tahun 2019”.

“Ada pertanyaan yang harus kita jawab bersama terkait pendidikan dan tantangan Global dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia Kesehatan secara menyeluruh,” kata Gubernur.

Saat ini, dijelaskannya, dunia telah memasuki era revolusi industri generasi ke empat (Revolusi Industri 4.0) yang ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi serta perkembangan sistem digital, kecerdasan artifisial, dan virtual.

Dengan semakin konvergennya batas antara manusia, mesin dan sumber daya lainnya, kata Gubernur, teknologi informasi dan komunikasi tentu berimbas pula pada berbagai sektor kehidupan, salah satunya yakni berdampak terhadap sistem pendidikan di Indonesia.

Perubahan era ini, lanjut Gubernur, tidak dapat dihindari oleh siapapun, sehingga dibutuhkan penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang memadai agar siap menyesuaikan dan mampu bersaing dalam skala global.

“Peningkatan kualitas SDM melalui jalur pendidikan mulai dari pendidikan dasar dan menengah hingga ke perguruan tinggi adalah kunci untuk mampu mengikuti perkembangan Revolusi Industri 4.0,” ujar dia.

Keberhasilan suatu negara dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0, diulas Erzaldi, turut ditentukan oleh kualitas dari pendidik seperti Guru dan Dosen. Para Guru dan Dosen dituntut menguasai keahlian, kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru dan tantangan global.

Dalam situasi seperti itu, ditambahkannya, setiap lembaga pendidikan harus mempersiapkan oritentasi dan literasi baru dalam bidang pendidikan. Literasi lama yang mengandalkan baca, tulis dan matematika harus diperkuat dengan mempersiapkan literasi baru, yaitu literasi data, teknologi dan sumber daya manusia.

Secara definisi, diuraikan Gubernur Erzaldi, literasi dimaksud: 1) Literasi data adalah kemampuan untuk membaca, analisa dan menggunakan informasi dari data dalam dunia digital; 2) Literasi teknologi adalah kemampuan untuk memahami sistem mekanika dan teknologi dalam dunia kerja; 3) Literasi sumber daya manusia yakni kemampuan berinteraksi dengan baik, tidak kaku, dan berkarakter.

“Untuk menghadapi era revolusi industri 4.0, diperlukan pendidikan yang dapat membentuk generasi kreatif, inovatif, serta kompetitif. Hal tersebut salah satunya dapat dicapai dengan cara mengoptimalisasi penggunaan teknologi sebagai alat bantu pendidikan yang diharapkan mampu menghasilkan output yang dapat mengikuti atau mengubah zaman menjadi lebih baik. Tanpa terkecuali. Indonesia pun perlu meningkatkan kualitas lulusan sesuai dunia kerja dan tuntutan teknologi digital,” papar Gubernur.

Pendidikan 4.0, masih kata dia, adalah respons terhadap kebutuhan Revolusi Industri 4.0 di mana manusia dan teknologi diselaraskan untuk menciptakan peluang-peluang baru dengan kreatif dan inovatif.

Perlu Menjawab Tantangan Global

Sebagai generasi milenial, dikatakan Gubernur Babel, Erzaldi Rosman, maka wisudawan/wisudawati perlu menjawab tantangan global dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan.

Tantangan yang sangat gampang terlihat dan sangat dirasakan, sambung Erzaldi, adalah terbukanya persaingan global dalam memperoleh kesempatan kerja, yang ditandai dengan arus masuknya tenaga kerja kesehatan asing, baik tenaga medis, perawat, bidan ke pangsa kerja antar Negara; Kompetisi dalam pemanfaatan peluang kerja semakin ketat, Sistem Penilaian yang transparan; Masih banyak sekolah/kampus yang masih lambat merespon kebutuhan pendidikan di era revolusi Industri 4,0 yang menuntut sekolah/kampus untuk secepatnya berbenah diri dalam persaingan pendidikan di dunia digital.

Berikutnya, masih menurut Erzaldi, Perubahan paradigma berpikir dan pengambilan keputusan yang harus cepat dan responsif terhadap perubahan dan perkembangan tehnologi digital, baik siswa, mahasiswa dan dosen perguruan tinggi; Pendidikan dan pembelajaran yang selama ini masih mengandalkan tatap muka langsung, digantikan dengan tatap muka menggunakan media atau tehnologi digital seperti Video Conference, Webinar, Email dan lain-lain.

Berbagai tantangan tersebut, atas pandangan dia, seharusnya menjadi pemicu bagi Wisudawan/wisudawati untuk tidak malas, dan terus menumbuhkan jiwa kompetisi positif dalam mengejar kesempatan yang ada.

“Marilah kita wujudkan Indonesia Cinta Sehat sebagai investasi bangsa, menuju bangsa yang sehat dan bermartabat melalui semangat, “Bersama kita bisa dan Bersama Bergerak Maju menuju BABEL SEHAT dan Babel Berkah”, ” ajak Erzaldi.

Sebelumnya, dalam laporannya, Ketua Pembina Yayasan Citra Delima Babel Hendra Kusumajaya menyampaikan, kegiatan ini, diikuti 111 Wisudawan/Wisudawati, terdiri dari Prodi Diploma 3 Kebidanan 6 orang, Prodi Ilmu Keperawatan kelas reguler 22 orang, Prodi Ilmu Keperawatan kelas Konversi 52 orang dan Prodi Profesi Ners 31 Orang.

Stikes Citra Delima saat ini, diungkapkannya, memiliki tiga Program Studi yang telah Terakreditasi B, yaitu DIII Kebidanan, Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners. Saat ini, juga dalam proses persiapan akan mengadakan program studi Sarjana Kebidanan. (rell/3)

Related posts