Erzaldi Nilai ICDX Curang

  • Whatsapp

Kontribusi tak Sebanding Keuntungan
Taufik: Kami Daerah Penghasil Kok Jadi Miskin?
Dirut ICDX: Saya Tahu Politik tentang Timah

JAKARTA – Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel) Erzaldi Rosman Djohan, menilai bisnis dan permainan transaksi timah yang dilakukan oleh ICDX (Indonesia Commodity and Derivative Exchange) bagi Babel, tidak adil. Belum lagi, keuntungan yang didapatkan oleh ICDX baik melalui buyer (pembeli) dan produsen masing-masing sebesar 0,6 persen, tak sebanding dengan kontribusi yang diberikan kepada daerah penghasil timah, Provinsi Babel.
Hal itu disampaikan Erzaldi kepada Rakyat Pos di Bandara Soetta (Soekarno-Hatta) Cengkareng, Senin (20/11/2017). Ia mendukung Komisi III DPRD Provinsi Babel yang ingin mendorong pendapatan daerah Babel dari kontribusi ICDX.
“Pertemuan DPRD segera terbuka dan ikut mendorong juga agar ada perubahan di ICDX itu. Dan apa yang sudah disampaikan ini silahkan saja. Tetapi perubahan yang dilakukan itu, tentunya dapat memberi manfaat yang besar bagi Bangka Belitung,” ujar Erzaldi menyikapi pertemuan Komisi III DPRD Babel dengan direksi ICDX kemarin.
Namun demikian Erzaldi menilai jika BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) Provinsi Babel dilibatkan dalam sistem pergudangan timah seperti keinginan Komisi III, hal itu merupakan langkah nyata yang kecil bagi kepentingan Provinsi Babel.
Gubernur mengaku masih menyusun konsep yang apik agar ICDX melibatkan aktivitas yang lebih besar bagi BUMD Babel dan dapat memberi keuntungan besar kepada masyarakat Babel.
“Bayangkan, produsen dan buyer 1,2 persen, pantas gak yang didapat ICDX, sedangkan kita di daerah tidak dapat apa-apa. Harus ada keterlibatan BUMD di situ. Kalau soal gudang kecit (kecil) dan DPRD harus terus berjuang. Intinya, disepakati dulu. Dulukan (rencana kerjasama) BUMD, kenapa didorong baru mau. Gak fair (adil) itu,” pungkasnya.
Sebelumnya, Komisi III DPRD Babel melakukan pertemuan dengan pihak ICDX di Gedung Capitol, Senen, Jakarta Pusat. Pertemuan tersebut, guna mempertanyakan kontribusi ICDX sebagai bursa timah terhadap Provinsi Babel agar dapat meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah).
Di hadapan Dirut (Direktur Utama) ICDX Lamon Rutten dan direksi lainnya, Ketua Komisi III DPRD Babel, Toni Purnama dan sejumlah anggota komisi mempertanyakan kontribusi bagi Provinsi Bangka Belitung. bagi para anggota dewan, ICDX selaku bursa pertimahan harusnya menjadikan BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) Bangka Belitung menjadi anak angkat ICDX.
Politisi PPP (Partai Persatuan Pembangunan) itu juga mengatakan, peran BUMD Babel bisa untuk resi gudang. Selain itu, Komisi III mempertanyakan janji ICDX untuk membuat kantor perwakilan di Bangka Belitung.
“Dari sisi gudang harusnya bisa memberi manfaat dengan menyerahkannya kepada BUMD Bangka Belitung. Kita juga mempertanyakan ke mereka (ICDX) soal janji mereka ada kantor perwakilan di Bangka Belitung. Jadi, jangan lagi ekslusif tapi inklusif,” imbuhnya.
Apalagi lanjut Toni, dengan wacana holdingnya PT Timah bukan lagi Persero, Komisi III akan mengawal proses tersebut guna mengimbangi percepatan yang diusung oleh Gubernur Babel Erzaldi Rosman. “Kalau ICDX tidak dapat berkontribusi, kita akan laporkan ini ke Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi) dan Presiden RI Joko Widodo,” ancam Toni.
Sementara anggota Komisi III Ahmad Mughni dalam pertemuan tersebut mengatakan, Provinsi Babel mempersilahkan keberadaan ICDX jika bermanfaat untuk masyarakat Babel.
“Tapi persoalan bisnis, tidak jauh dari profit. Ini harusnya bukan hanya kepentingan bisnis saja, tapi untuk masyarakat Bangka Belitung.

Read More

Karena apa yang dilakukan ICDX, berpengaruh besar bagi pelaku, pengusaha dan masyarakat Babel.

Seharusnya keuntungan yang didapat ICDX juga didapatkan masyarakat Bangka Belitung.

Timah ini menyangkut hajat hidup masyarakat Babel,” tuturnya.

Sekretaris Komisi III
Taufik Mardin menambahkan, DPRD Babel berulang-ulang kali telah menyampaikan kontribusi yang harus diberikan ICDX bagi Provinsi Babel. “Padahal kami juga jenuh berulang-ulang.

Harusnya, kontribusi bagi masyarakat Babel dilakukan secara kontinu dan jangan bersifat accidentil. Kita hargai yang dilakukan ICDX dengan telah membantu saat Bangka Belitung terkena musibah banjir. Tapi, harus ada kontribusi secara kontinu,” katanya.
“Kami daerah penghasil kok jadi miskin?

APBD kita sangat minim, seharusnya ada komunikasi yang baik antara ICDX dengan Pemerintah Provinsi Bangka Belitung, itu yang kita harapkan,” tambahnya.
Menanggapi keluhan yang disampaikan oleh Komisi III DPRD Babel tersebut, Dirut ICDX Lamon Rutten
menyampaikan, ia tidak mengetahui adanya janji-janji yang disampaikan oleh Komisaris Utama ICDX Fenny Wijaya dua tahun yang lalu kepada Provinsi Babel.
“Kami tidak tahu janji apa.

Ongkos transaksi di ICDX hanya 0,6 persen.
Kalau 10.000 rupiah kami hanya enam rupiah (pertransaksi perkilo). Royalti itu besar dibandingkan keuntungan kami.

Saya tidak tahu kontribusi selama ini.

Biar nanti akan kami perlihatkan activity kami di Babel. Timah akan habis dua generasi

Sampai sekarang, soal sektor timah kami akan bicara dengan AETI. Kami akan membantu dengan teknologi baru tapi sampai sekarang menunggu kebijakan,” kata Lamon.
Ia berjani akan membuka komunikasi yang apik dengan Pemda, demi kemajuan
Provinsi Babel. Selain itu, ia juga berkomitmen membuka kantor perwakilan ICDX di Babel. ICDX juga katanya, saat ini sedang menyoroti Babel dalam sektor lada.
“Kami mau komunikasi dengan pemerintah provinsi, untuk pembangunan provinsi. Kami di ICDX juga akan menyorot sektor lada, kami mau kerjasama gudang. Kalau janji (kantor perwakilan) sudah dua tahun, kami minta maaf.

Saya tahu banyak politik tentang timah,” tukasnya.
“Kita akan buka kantor di Pulau Bangka. Tapi, karena disana juga sudah ada gudang dan kami belum memilih tempatnya. 2018, masih ada prosedur yang harus dilengkapi. Kita juga sudah melihat-lihat tempat,” pungkas Lamon menambahkan. (ron/6)

Related posts