Erzaldi Minta Ekspor Lada ke Vietnam Dibatasi

  • Whatsapp
Gubernur Babel, Erzaldi Rosman berbincang dengan petani di Desa Terentang, Kecamatan Kelapa.(foto:ist)

Kembalikan Kejayaan Muntok White Pepper

PANGKALPINANG- Gubernur Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Erzaldi Rosman meminta agar eksportir lada untuk mengurangi atau bahkan tidak lagi mengirim lada ke Vietnam. Hal ini, kata dia, karena lada Babel kerap dijadikan bahan campuran lada Vietnam dan dikemas dengan brand Vietnam.

“Saya melihat masih ada ekspor lada ke Vietnam, nggak apa-apa lah, tapi kalau bisa dikurangi,” kata Erzaldi, Senin (6/7/2020).

Dalam webinar perdagangan lada Muntok White Pepper dengan tajuk Penyusunan Program dan Kegiatan Terpadu dalam Upaya Mengembalikan Kejayaan Lada di Ruang Vidcon Kantor Gubernur Kepulauan Babel, Selasa (7/7/20), Erzaldi pun kembali menyinggung akan hal ini.

Baca Lainnya

Dalam seminar online ini, ia menegaskan bahwa Muntok White Pepper bukan hanya menjadi komoditas tetapi juga identitas Bangka Belitung. Oleh karenanya, pemerintah akan berupaya mengembalikan kejayaan lada putih ini.

Erzaldi menegaskan, Muntok White Pepper yang merupakan lada terbaik dan menguasai pasar dunia, pada 20 tahun terakhir ini secara perlahan tersingkir di mata dunia akibat produktivitasnya yang menurun dan berbagai permasalahan yang membuat para petani enggan menanam lada.

“Salah satu upaya mengembalikan kejayaan lada ini, dengan mendorong produktivitas dan memberikan nilai tambah kepada petani sehingga lada ini menjadi komoditas yang kembali menjanjikan,”‘ tegas Erzaldi saat membuka webinar.

Dia menambahkan, berbagai upaya dan strategi telah dilakukan dalam upaya mengembalikan kejayaan lada Babel. Walaupun disadari, katanya, pemerintah dalam hal ini hanya sebagai fasilitator dan tidak bisa mengatur harga, namun pemerintah tetap mengambil langkah kebijakan.

“Para petani sebagai peran utama dalam hal ini harus mendapat perhatian dan nilai tambah dengan meningkatkan kemakmurannya. Beberapa bantuan telah disalurkan dari mulai bibit, pupuk, maupun pelatihan mengenai cara menanam baik dan benar yang diperbaharui dan disesuaikan dengan situasi terkini,”katanya.

Selain bantuan, pemerintah kata dia, juga memiliki strategi bisnis dengan program hilirisasi lada, sistem resi gudang, dan lainnya melalui pengelolaan oleh BUMD PT BBBS dan lembaga lain seperti BP3L dan dewan rempah.

“Ke depan pemda bersama Kementerian Perdagangan RI akan mendorong kantor pemasaran bersama dan mengupayakan pendirian gudang di negara tujuan ekspor,” imbuhnya.

Oleh sebab itu, dia meminta kepada para eksportir lada agar kompak. “Perlu adanya pembatasan impor, khususnya ke negara Vietnam. Intelijen pasar juga diperlukan sehingga dapat membaca situasi pangsa pasar,” ingatnya.

Erzaldi turut juga mendorong agar pengiriman lada melalui pelabuhan yang ada di Babel. Para importir diminta untuk memperhatikan kesejahteraan petani.

“Kita tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya petani. Merekalah orang-orang yang pertama sekali harus mendapat nilai tambah dari lada ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Utama BUMD PT BBBS, Saparuddin yang menjadi moderator dalam webinar mengatakan kegiatan dilaksanakan dengan fokus pada cara perdagangan lada ini bisa terkontrol.

Dengan pertemuan ini nantinya, kata dia, diharapkan dapat mendiversifikasi pasar dan produk sehingga dapat menambah lebih banyak lagi negara- negara sebagai pangsa pasar lada Babel.

Dalam kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Institut Pertanian Bogor, Lukman Braga dan Kementerian Perdagangan RI, serta diikuti oleh Dinas Pertanian, Dinas Perdagangan, BP3L, Dewan Rempah Babel dan importir lada.(nov/rls/10)

Related posts