Ekspor Timah Meroket, Sampai Kapan?

  • Whatsapp

Oleh: Berlian Sitorus
Statistisi Madya BPS Babel

Berlian Sitorus

Ekspor timah kembali meroket. Berdasarkan rilis BPS 1 Maret 2017, nilai ekspor Timah meningkat 292,04 persen. Hanya dalam tempo sebulan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah mengekspor 6.181 ton logam timah senilai US$129,4 juta.
Sampai saat ini, ekspor Timah masih mendominasi ekspor Babel meskipun penambangan dan kapal isap Timah telah di tolak di banyak tempat. Tak hanya aktivis lingkungan, kelompok nelayan pun sudah jamak dan sering melakukan aksi penolakan. Namun, nyatanya ekspor Timah tak kunjung surut. Sampai kapan Timah digerus dari perut bumi Serumpun Sebalai ini?
Memang dari sisi pendapatan, bisnis Timah ini sangat menggiurkan. Sampai sekarang, diperkirakan masih ada puluhan ribu usaha tambang dan penggalian di Bangka dan Belitung. Sayangnya, bekas galian-galian dibiarkan begitu saja tanpa reklamasi sehingga permukaan bumi Laskar Pelangi ini berlubang di sana-sini.
Namun, kerusakan yang tak kelihatan kabarnya lebih parah. Karena eksploitasi Timah berlangsung tak hanya di darat, melainkan juga di Laut. Ratusan kapal isap beroperasi di sekeliling Bangka Belitung. Dari pinggir pantai sampai kedalaman 20 meter kabarnya sudah habis digarap. Sekarang, kapal isap mulai menggarap kedalaman hingga 40 meter. Maka, kerusakan Terumbu karang di bawah laut sana kian luas.
Maka, pertanyaannya sekarang adalah sebandingkah pendapatan dari ekspor Timah dengan kerusakan lingkungan ini? Rusaknya daratan berdampak banjir, sementara hancurnya ekosistem laut mengurangi populasi ikan. Belum lagi kemungkinan tercemarnya ikan yang kita konsumsi.
Di sisi lain, tentu muncul pertentangan tentang apa yang terjadi kalau ekspor Timah benar-benar dihentikan. Hancurkah perekonomian Babel? Tahun 2016 lalu, misalnya, ekspor Timah Babel bernilai 973,3 juta USD. Maka, kalau seluruh bisnis Timah dihentikan sekarang, Provinsi Babel berpotensi kehilangan pendapatan sekitar Rp13 triliun per tahun.
Jumlah itu setara dengan 20 persen PDRB Babel. Atau, secara sederhana boleh dikatakan bahwa penduduk Babel akan kehilangan seperlima pendapatannya. Nah, kalau hanya kehilangan seperlima pendapatan tentu masih aman dengan berbagai strategi. Masyarakat (perekonomian) perlu dipersiapkan untuk kondisi kehilangan sebagian pendapatan. Ibaratnya, pegawai yang memasuki masa pensiun diberi waktu enam sampai dua belas bulan untuk mempersiapkan diri (MPP).
Persiapan apa yang perlu dilakukan? Menurut penulis ada dua pilihan pada masa persiapan ini. Pertama, adalah pengencangan ikat pinggang secara makro. Artinya, anggaran belanja daerah coba di turunkan sampai 80 persen untuk mengimbangi berkurangnya pendapatan dari Timah.
Apakah mungkin memangkas anggaran sampai 20 persen. Jawabnya, mungkin. Hanya butuh komitmen kuasa pengguna anggaran untuk efisien dan efektif. Kita tahu bahwa selama ini masih ada temuan kebocoran anggaran. Jika tak ada lagi anggaran yang di korupsi, tentu akan terjadi penghematan cukup besar.
Persiapan kedua adalah mencari sumber pendapatan baru. Memang hal ini relatif lebih sulit, perlu inovasi. Namun, potensi SDA dan SDM Babel ada. Perkebunan lada, karet dan sawit masih berpeluang untuk direvitalisasi.
Nah, sedikit terkait dengan wawasan lingkungan, kita semua yang tinggal dan hidup di alam ini punya tanggungjawab untuk menjaga lingkungan. Kalau bukan kita siapa lagi? Paus Fransiskus mengingatkan bahwa “alam itu rapuh dan tidak punya kemampuan membela diri terhadap eksploitasi yang dilakukan oleh manusia”. Jadi, kita semua bertangungjawab dalam menjaga dan memelihara, mengolah dan mengelola alam semesta sebagai rumah bersama (Keluarga Berwawasan Ekologis). Mari bersiap menghentikan ekspor Timah.(****).

Pos terkait