Eksistensi Buku dalam Pusaran Digitalisasi

  • Whatsapp

Oleh: Syahrezy Fajar
Mahasiswa STISIPOL Pahlawan 12 Sungailiat-Bangka

Syahrezy Fajar

Era kemajuan zaman atau yang lebih dikenal dengan istilah modernisasi, nampaknya telah mengubah paradigma atau cara pandang serta kebiasaan masyarakat dunia dalam segala aspek kehidupan, termasuk kebiasaan yang tergolong basic seperti halnya membaca. Buku dahulunya merupakan instrumen penting dan wajib dimiliki oleh orang-orang, khususnya yang berada dalam pusaran akademisi. “You can find magic wherever you look. Sit back and relax, all you need is a book”. Kamu dapat menemukan “keajaiban” dimanapun, yang kamu butuhkan hanyalah sebuah buku. Sepenggal kalimat tentang buku yang diutarakan Theodor Seuss Geisel atau yang lebih dikenal dengan Dr. Seuss, seorang penulis berkebangsaan Amerika. Kalimat sarat makna yang menjelaskan betapa pentingnya buku dalam menunjang eksistensi manusia yang bermuara pada peningkatan pengetahuan seseorang yang membacanya.
Buku sudah dianggap sebagai “jendela dunia” yang berperan dalam mencerdaskan isi kepala orang yang membacanya. Buku juga dianggap sebagai platform utama seseorang dalam memperoleh dan menggali informasi, menjadi pijakan edukasi serta media pengembangan diri. Namun, kebiasaan itu sedikit demi sedikit sudah mulai terkikis dan tidak lagi dibudayakan secara intens. Tak bisa dipungkiri bahwa kehadiran internet atau yang lebih sering dikenal dengan era digitalisasi yang di dalamnya mengandung “surga informasi” telah membuat banyak dari masyarakat global berpindah hati dan tidak lagi menggunakan buku sebagai first priority. Ada banyak situs yang menawarkan beragam informasi dan wawasan sesuai kebutuhan pengguna. Apalagi di dalam situs tertentu turut menyediakan buku-buku yang berbentuk elektronik (e-book) sesuai kebutuhan pengguna yang dapat diunduh kapan dan dimana saja dengan mudah ke dalam smartphone mereka.
Selain lebih mudah dan lebih murah, dengan menggunakan jasa internet tersebut, seseorang bisa mendapatkan berbagai variasi e-book yang dapat dibuka dengan aplikasi tertentu dalam satu perangkat. Jadi, satu perangkat dapat memuat puluhan bahkan ribuan e-book dalam perangkatnya sekaligus secara efektif dan efisien. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan buku yang secara harga biasanya tidaklah murah, terkadang sulit untuk mendapatkan buku sesuai dengan yang diinginkan oleh pembaca, dan tidak efisien dalam hal penyimpanan, karena membutuhkan dimensi ruang yang cukup luas. Hal inilah yang kiranya menyebabkan banyak dari orang-orang yang memilih bermigrasi dari buku yang berbentu cetak ke buku virtual (e-book).
Akan tetapi, dibalik berbagai kemudahan yang ditawarkan, e-book ternyata memiliki dampak yang kurang baik terhadap pemahaman dan daya ingat pembaca. Sebuah penelitian yang dilakukan Joan Ganz Cooney di Sesame Workshop menemukan bahwa buku lebih efektif ketimbang e-book dalam membangun literasi pada anak-anak. Hal ini dikarenakan dengan membaca buku anak-anak bisa fokus pada cerita sehingga meningkatkan pemahaman terhadap bacaan. Membaca buku juga diyakini dapat meningkatkan konsentrasi daya ingat dan konsentrasi pembaca, karena pada saat membaca buku seseorang biasanya akan menggunakan nalar untuk berimajinasi dalam mengaplikasikan bahan bacaan tersebut ke dalam otaknya. Sementara itu, pada saat kita membaca e-book dilayar smartphone, kita cenderung membaca lebih cepat, sehingga menyebabkan informasi yang didapatkan tidak melekat sempurna. Paparan cahaya yang dihasilkan perangkat tersebut juga berpengaruh terhadap kenyamanan seseorang ketika membaca. Ketika cahaya yang dihasilkan dari perangkat tersebut sudah berada dalam level mengganggu kenyamanan mata seseorang maka titik fokus dalam membaca juga akan menurun drastis.
Buku dan e-book bukanlah sesuatu yang harus kita pilih salah satu diantaranya. Kita membutuhkan keduanya agar bisa menyeimbangkan antara kebutuhan pemahaman nalar secara utuh dengan kemudahan akses yang dibalut secara efektif dan efisien. Mencari mana yang terbaik di antara keduanya bukanlah sesuatu yang bijak untuk dilakukan karena pada dasarnya hal ini tergantung pada karakter tiap orang. Ada sebagian orang yang merasa buku lebih mudah dipahami, sebab apa yang ia baca dapat melekat lebih lama dibanding saat ia membaca buku virtual (e-book). Namun, di sisi yang lain sebagian orang juga menganggap bahwa e-book lebih cocok dengan mereka dibanding buku dengan alasan lebih praktis dan sebagainya. Tak ada yang salah dengan itu karena setiap orang tentu punya pilihan dan kecocokan tersendiri yang tidak bisa di monopoli oleh siapapun.
Buku rasanya masih menjadi “jendela dunia” yang memberikan wawasan dan pengetahuan yang luas terhadap pembacanya. Namun, harus diakui di era digitalisasi ini, buku tidak lagi menjadi “aktor tunggal” dalam mencerdaskan setiap manusia yang membacanya. Invasi internet belakangan ini telah membuat zaman bertransformasi menjadi era serba one click. Kolaborasi antar keduanya diharapkan dapat membentuk dan menciptakan pemikiran yang lebih kompleks, sehingga kita yang sekarang dan dimasa yang akan datang tidak lagi buta dan tuli informasi. Tak peduli apa dan bagaimanapun, instrumen yang digunakan, karena hal yang paling penting adalah MEMBACA itu sendiri. Dengan membaca kita dapat meng-upgrade informasi yang kita terima menjadi sebuah wawasan dan pengetahuan yang pastinya akan berguna bagi kita kelak. (***).

Related posts