Ekonomi di Tengah Virus Corona

  • Whatsapp

Ketiga, shock ekonomi selanjutnya akan datang dari sisi permintaan dan penawaran domestik (domestic demand and supply). Kebijakan pencegahan dan penanganan corona di Indonesia saat ini memang masih sebatas imbauan untuk menjaga jarak dan menghindari keramaian (social distancing). Aktivitas masyarakat yang banyak berinteraksi secara langsung akan semakin dikurangi. Ini akan berdampak langsung pada kegiatan ekonomi khususnya pada tenaga kerja sektor informal dan pedagang-pedagang kecil seperti aktivitas di pasar. Ringkasnya, wabah corona akan menggerus perekonomian dan pendapatan masyarakat semua lapisan masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah dan masyarakat rentan. Tergerusnya pendapatan akan membuat daya beli menurun, sehingga konsumsi akan tertekan. Menurunnya konsumsi artinya mengurangi permintaan terhadap barang-barang. Dampaknya akan langsung direspon oleh dunia usaha dengan mengurangi produksi, sehingga supply dan demand akan terganggu. Akibatnya pertumbuhan ekonomi akan tersendat.

Prediksi McKibbin dan Fernando dari Australian National University sebagaimana yang dimuat dalam artikel yang berjudul Stimulus di Tengah Corona yang ditulis Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri, menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah wabah COVID-19 diperkirakan akan turun sebesar 1,3 persen. Dalam skenario terburuk bahkan bisa mencapai 4,7 persen dari kondisi awal.

Read More

Dampak kepada Daerah

Imbas wabah Corona terhadap ekonomi lokal khususnya di Pulau Bangka perlahan tapi pasti mulai dirasakan. Seperti yang disampaikam di awal, tertekannya kegiatan ekspor dan impor juga berdampak buruk terhadap kegiatan ekonomi lokal. Babel yang komoditasnya hampir 80 persen adalah komoditas ekspor merupakan wilayah yang sangat rentan. Shock ekonomi eksternal akibat Corona sudah mulai menggerus pendapatan masyarakat Bangka khususnya yang bekerja di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan pertambangan. Harga-harga komoditas seperti timah, karet, kepiting rajungan, dan sawit yang tadinya sempat naik sekarang kembali merosot drastis. Padahal sektor-sektor tersebut merupakan mata pencaharian utama sebagian besar masyarakat Babel.

Kondisi ini akan menciptakan semacam backwash effect atau efek yang berantai. Turunnya harga-harga komoditas membuat pendapatan dan daya beli menurun sehingga produksi akan terganggu. Jika kondisi ekonomi ini tidak dimitigasi dengan baik, maka penulis khawatir kita akan sulit melalui situasi ini, dan bisa-bisa terjun bebas ke dalam krisis dan resesi seperti tahun 1998. Semoga bukan ini yang terjadi. Tidak ada yang menginginkan ini terjadi. Namun hal tersebut tentu saja bisa terjadi jika langkah-langkah pencegahan dan penanganan wabah dan stimulus ekonomi tidak berjalan efefktif dan tidak tepat sasaran.

Related posts