Ekonomi di Tengah Virus Corona

  • Whatsapp

Oleh: Ari Wibowo, M.E.  – Pengajar Program Studi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi UBB

Sudah hampir dua bulan ini, dunia disibukkan dengan persoalan pencegahan dan penanganan Virus Corona atau COVID-19. Virus ini sudah menyebar ke berbagai negara dan pelosok dunia. Laporan terbaru menyebutkan bahwa di Italia yang sudah melakukan kebijakan lockdown dari minggu-minggu yang lalu angka kematian akibat infeksi corona sudah mencapai 4.825 dan dalam sehari angka kematian mencapai 793 orang.

Setelah beberapa bulan membuat kegaduhan terutama di negeri Tiongkok, kini kemunculan corona juga menghantui negara-negara lain, tak terkecuali Indonesia. Saat ini, penyebaran corona memperlihatkan peningkatan yang signifikan dari semenjak teridentifikasinya pasien pertama di Depok. Kondisi ini pastinya akan terus berlanjut jika kebijakan pencegahan dan penanganan yang dilakukan tidak berjalan efektif. Semakin tinggi tingkat penyebaran infeksi ini tentunya akan memberikan dampak terhadap perekonomian dan aktivitas-aktivitas ekonomi masyarakat.

Baca Lainnya

Corona harus dilihat bukan lagi sebagai penyebaran penyakit menular biasa, tapi sebagai wabah atau pandemik global. Karena jangkauannya yang luas, virus ini dapat memberikan tekanan atau shock yang besar kepada ekonomi global, nasional, maupun lokal.

Pertama, biaya untuk penanganan yang dibutuhkan untuk memerangi corona akan sangat besar. Penanganan virus ini memerlukan fasilitas yang memadai baik dari segi kapasitas maupun kualitasnya. Tersedianya kapasitas rumah sakit yang cukup disaat skenario terburuk terjadi harus menjadi standar protokol penanganan corona. Kapasitas rumah sakit yang besar tidak akan efektif jika tenaga medis yang tersedia tidak memadai. Oleh sebab itu, ketersediaan dan kesiapsiagaan tenaga medis beserta peralatannya seperti masker, hand sanitizier, dan obat-obatan juga harus diantisipasi sesuai dengan skenario terburuk (worst scenario). Upaya tersebut memerlukan anggaran yang tidak sedikit namun wajib dilakukan karena kalau tidak dilakukan dengan standar maksimal kerugian dibelakang hari akan semakin besar. Hal ini tentunya memberikan tekanan pada kebijakan fiskal atau keuangan negara.

Kedua, kebijakan lockdown beberapa negara sepertinya akan terus berlanjut sampai wabah ini betul-betul penyebarannya terhenti secara massif. Selama waktu tersebut, secara tidak langsung otomatis beberapa negara akan memberlakukan sistim close economy atau ekonomi tertutup. Tertutup dalam artian kegiatan ekspor impor akan dikurangi (atau dihentikan sama sekali) dan tidak boleh ada pergerakan barang maupun manusia dari dan ke wilayah tersebut. Dampaknya jika close economy ini diberlakukan, yang pertama tentunya akan memberikan tekanan terhadap nilai tukar. Sekarang sudah mulai terlihat rupiah semakin melemah dan menembus angka tertinggi selama era setelah krisis 1998. Ini terjadi karena kegiatan ekspor dan impor kita mulai tertekan dan menyebabkan harga beberapa komditas ekspor menurun drastis. Rentetan dampak selanjutnya akan mudah diprediksi yakni akan terjadi inflasi atau kenaikan harga barang secara perlahan.  Namun, masyarakat tak perlu khawatir, pemerintah tentunya tak akan membiarkan hal ini terjadi, akan ada tim-tim ekonomi terbaik yang akan mencari alternatif kebijakan yang akan diambil dengan kalkukasi yang matang, semoga.

Related posts