Eid People Power

  • Whatsapp

Oleh: ARES FAUJIAN
Penulis Senior Karya Muda Belitung/ Humas IKA UNY Cab. Belitong

Mereka kerumunan. Kadang terstruktur. Tak menampik mereka juga sistematis. Perjalanan mereka begitu dramatis dalam mencapai aspek logis maupun antilogis. Lalu, siapakah mereka? Apa sih mau orang-orang ini? Ini adalah ranah khusus buat yang mau tahu dan penasaran dengan people power. Siap? Yuk basmalah!

People Power adalah istilah khusus untuk menyebutkan suatu wujud gerakan masyarakat yang mendukung tokoh, tujuan, kepentingan dan ihwal lain akan keinginan yang diimplikasikan dengan praktik nyata hingga maya. Dari kompetisi, kontravensi hingga aksi, sorak-sorai kelompok satu visi ini rela berbondong-bondong turun ke jalan demi menyuarakan rasa yang terpendam serta sebagai bentuk eksistensi diri bahwa mereka benar-benar ada dan tak main-main.

Secara harfiah, People Power berasal dari dua kata dalam Bahasa Inggris, yaitu People dan Power. People berarti orang-orang (masyarakat) dan Power berarti kekuatan atau kekuasaan. Sehingga bisa dieksplisitkan bahwa People Power berarti kekuasaan/kekuatan orang-orang atau kekuatan dari suatu masyarakat.

Dalam fenomena sosial sub politik, People Power memiliki makna yang lebih dan berwujud gerakan nyata. Identifikasi makar pun tak pelik dari istilah People Power. Karena People Power tumbuh dan berkembang karena adanya kepentingan, dan biasanya sebagai aspirasi konkret akan ketidakpuasan atau tidak menutup kemungkinan untuk merebut suatu tahta kekuasaan.
Itulah esensi dari People Power yang hit saat ini. Namun kali ini Penulis tidak akan membahas People Power yang beraroma politik. Ini adalah Eid People Power! Eid People Power? Apa lagi nih? Eid People Power adalah istilah khusus untuk menyebutkan gerakan masyarakat yang relevansinya terhadap khidmah ramadhan dan pasca ramadhan. Saking khusyuknya, ada yang semakin bertambah iman dan taqwanya. Namun ada juga yang malah malang merana karena menuruti gengsinya. Semoga Anda adalah bagian terbaik dari maksud dan tujuan tulisan ini. Aamiin.

Eid atau dalam arti Bahasa Indonesia disebut Id (Ied) atau Idul Fitri (lebaran). Menurut Hadi Mulyanto seperti yang dilansir NU Online, kata Id memiliki arti kembali dan kata Fitri bisa berarti buka puasa untuk makan dan bisa berarti suci (bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan). Dalam KBBI, Idul Fitri adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Euforia perayaan Idul Fitri ini dilaksanakan satu tahun sekali setelah umat Islam membersihkan diri dengan ibadah-ibadah wajib dan sunah menuju kembalinya suci insan manusia dari segala perbuatan dosa selama bulan puasa.

Fenomena sosial Eid People Power ditandai dengan aksi turun ke jalan dengan menikmati keniscayaan hati akan keberkahan agung-Nya kuasa Tuhan. Di pagi hari, dengan pakaian terbaik menghadap Sang Khalik setelah mensucikan diri dengan mandi, wudu dan memakai wewangian, umat muslim berkoloni serta bergerilya dengan mendatangi lokasi-lokasi salat id yang telah matang dipersiapkan. Dengan mengucapkan kalimat-kalimat takbir, saling mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri, saling berbagi kebaikan (rizki), saling memaafkan dan berbalas kunjung rumah. Inilah misi konkret Eid People Power yang di idam-idamkan masyarakat Islam di berbagai penjuru dunia dengan visi “kembali Fitri dengan peningkatan ketakwaan” via pensucian diri di bulan Ramadhan.

Persiapan “Goes to Eid People Power” pun tidak main-main. Orang-orang rela melakukan ibadah-ibadah yang tak biasanya seperti shalat tarawih, khatam Qur’an hingga iktikaf pada bulan Ramadhan. Karena untuk kembali Fitri itu, ihwal yang tidak mudah, sehingga butuh niat, keteguhan, konsistensi, serta hati anti riya’ serta anti jumawa. Takbiran pun menjadi animo seremonial wajib tanda makna sebelum esoknya Eid People Power turun aksi memadati setiap sudut jalanan. Namun dibalik itu, ada juga sebagian masyarakat yang lebih memilih menjadi jemaah bazar dan pusat hiburan lainnya serta rela membarukan atribut lebaran (yang berlebihan) dengan berhutang atau bergadai karena gengsi atau biar terlihat wow. Astagfirullah. Semoga pembaca tulisan ini adalah orang-orang yang diberikan kemudahan hidayah dan inayah oleh-Nya.
Dahsyatnya Eid People Power tak lekang oleh waktu dan konstan dari masa ke masa sejak zaman Rasulullah SAW pada masa Perang Badar tahun 2 Hijriah hingga saat ini. Selain turun ke jalan, mereka melengkapi momentum kesempurnaan harinya dengan ditandai gejala-gejala sosial lain seperti pulang kampung (mudik), berkumpul dengan sanak keluarga, bernostalgia dengan sahabat, membayar zakat fitrah dan zakat profesi, hingga gejala-gejala sosial tersebut takkan lengkap tanpa pernak-pernik ketupat beserta aneka kuliner pendukung lainnya yang menjadi simbol kepastian absah pasca Eid People Power telah resmi digalakkan.

Eid People Power telah menjadi babak baru pada bulan Syawal ini. Puncak akhir gerakan ini ditandai dengan habisnya masa liburan Idul Fitri, kembalinya arus balik mudik, halal bi halal di tempat kerja, dan kesempurnaan khazanah maknanya yang diakhiri dengan puasa sunah enam hari pada bulan Syawal yang memiliki pahala setara dengan puasa selama satu tahun. Hal ini ditegaskan dalam ungkapan Syekh Abdullah bin Abdul al-Bassam dalam tulisan Khoirul yang dilansir NU Online (Rabu, 05/06/2019), yaitu “Hadis berpuasa enam hari di bulan Syawal merupakan hadis yang shahih. Hadis ini memiliki periwayatan lain di luar hadis Muslim. Selain hadis Muslim yang meriwayatkan hadis berpuasa enam hari di bulan Syawal antara lain; Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzi”. Oleh karena itu, hadis berpuasa enam hari ini tergolong dalam hadis mutawatir.

Memasuki bulan Syawal yang penuh dengan animo kemenangan setelah berpuasa di bulan Ramadhan dan kembalinya bersih manusia seperti bayi yang baru saja dilahirkan. Tak lupa Penulis ingin menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada keluarga, teman, sahabat, umat Islam dan non-Islam, serta para pembaca yang telah setia menjadi penikmat literasi tulisan penulis. Penulis merasa selama ini banyak kekurangan, kesalahan, dan kekhilafan yang dalam hal ini luput dari kontrol diri baik itu lisan, pikiran, tulisan dan perbuatan. Dengan segala kerendahan hati ini, secara pribadi Penulis meminta maaf dan kepada Allah SWT Penulis mohon ampun. Semoga Ramadhan dan momen Idul Fitri ini bisa mensucikan kita dari hal-hal buruk agar terjadi perubahan kebaikan dalam dunia dan tentunya sebagai alur dan jalur mudah menuju syurga-Nya Allah SWT nantinya. Aamiin Aamiin Aamiin Yaa Robbal’alaamiin. Mari kita berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dan mari kita wujudkan Eid People Power tanpa nafsu dan anarkis hati dihari yang Fitri.

Taqqobbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, kulla ‘amin wa antum bikhoir. Happy Eid Mubarak 1440 H. Allahu Akbar!(***).

Related posts