Edukasi Berita Hoax Kepada Masyarakat Melalui Program KKN

  • Whatsapp
Penulis: Delviero Naufal
Mahasiswa Fakultas Hukum UBB

Penyebaran Covid-19 di Indonesia sampai saat ini, masih mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Hal ini, dibuktikan dengan terus miningkatnya pasien positif  Covid-19 di tiap daerah. Sampai saat ini, pemerintah masih berusaha keras untuk menanggulangi pandemi ini, agar segera berakhir, sehingga semua orang bisa beraktivitas seperti sedia kala.

Salah satu upaya pemerintah dalam penanganan Covid-19 adalah meminimalisir dan menindak  pelaku pembuat dan penyebar berita bohong atau sering kita sebut berita hoax. Arti hoax adalah informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi sebenarnya. Arti hoax adalah salah satu hal terburuk yang pernah ada dalam sejarah penggunaan media sosial. Keberadaan internet sebagai media online membuat informasi yang belum terverifikasi benar dan tidaknya tersebar cepat. Hanya dalam hitungan detik, suatu peristiwa sudah bisa langsung tersebar dan diakses oleh pengguna internet melalui media sosial.

Pemanfaatan media sosial saat ini, berkembang dengan luar biasa. Media sosial mengizinkan semua orang untuk dapat bertukar informasi dengan sesama pengguna media tersebut. Perilaku penggunaan media sosial pada masyarakat Indonesia yang cenderung konsumtif, membuat informasi yang benar dan salah menjadi bercampur aduk.

Berbagai cara telah dilakukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat yang peduli dengan maraknya penyebaran berita hoaks di kehidupan masyarakat. Dalam upayanya Pemerintah misalnya telah membuat pagar hukum dengan menyetujui lahirnya Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektonik, memblokir situs-situs yang di nyatakan telah menyebarkan hoaks, menangkap sindikat penyebar hoaks hingga membentuk lembaga siberkreasi yang berfokus dalam menangani hoaks. Tidak hanya itu, masyarakat juga turut serta dalam menekan peredaran hoaks dengan memberikan klarifikasi terhadap hoaks. Tetapi sampai saat ini, penyebaran berita hoax masih sering ditemui, terutama ketika hal tersebut berkaitan dengan negara.

Baca Lainnya

Salah satu hal yang menyebabkan masih maraknya penyebaran berita hoax di kalangan masyarakat adalah kurangnya edukasi tentang bagaimana cara beretika di media sosial, cara mencarikan kebenaran terhadap suatu berita dan apa akibat yang di dapatkan terhadap pelaku penyebaran berita bohong tau hoax.

Mahasiswa sebagai generasi yang dianggap memiliki kecerdasan intelektual tinggi, serta pemikiran yang terbuka dan wawasan yang luas Sudah seharusnya menjadi promotor terdepan dalam menangkal tersebar luasnya hoax. Permasalahan yang sudah mengakar hingga menjadi perbincangan internasional ini, tidak akan bisa jika hanya diselesaikan oleh satu pihak. Maka untuk itulah perlunya peran pemuda sebagai agen pencegahan berita hoax.

Disinilah sesungguhnya peran seorang mahasiswa sebagai kaum terpelajar dengan tidak mudah tergiring oleh opini yang beredar di media sosial. Tidak mudah percaya pada informasi yang sedang diperbincangkan di masyarakat. Karena, sebagai mahasiswa yang baik haruslah memiliki sikap kritis dalam melihat setiap persoalan yang terjadi disekelilingnya. Serta tidak boleh apatis atau menerima apa adanya tanpa menganalisis dan haruslah menelaah terlebih dahulu setiap berita yang dikonsumsinya sebeum disebarluaskan. Sudah menjadi kewajiban besar mahasiswa dalam membawa masyarakat menuju perubahan kearah yang lebih baik. Dalam Menjaga kenyamanan masyarakat seperti terkait maraknya berita hoax yang berkembang di masyarakat tentang virus Covid-19.

Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), Penulis berpendapat hal ini dapat dimanfaatkan mahasiswa sebagai wadah yang mengantarkan mereka untuk melakukan pengabdian kepada masyakarat langsung. Hal ini juga dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk melakukan sosialisasi pencegahan berita hoax kepada masyarakat secara langsung dengan mengadakan acara sosialisasi kepada Ketua RT dan perangkat desa setempat. Karena pandemi Covid-19 masih belum berakhir, maka tidak boleh mengumpulkan massa terlalu banyak dan juga tentunya tetap mengutamakan protokol kesehatan dengan benar. Serta harapannya kemudian dari ketua RT dan perangkat desa tersebut dapat menyebarluaskan materi yang sudah disampaikan tersebut ke masyarakat lain. Ataupun mahasiswa bisa melakukan sosialisasi pencegahan berita hoax dari rumah ke rumah warga agar pembahasan yang di berikan bisa lebih jelas di pahami.

Disinilah mahasisiwa sebagai agen perubahan dan sebagai agen control sosial masyarakat dapat memberikan suasana disiplin, aman, tentram ditengah maraknya hoax corona. Demi membantu mewujudkan Negara Indonesia yang lebih baik lagi.

Menggeliatnya arus tekhnologi ibarat dua mata pisau, di satu sisi memiliki segi yang positif dan di sisi lain dapat melukai kita sendiri. Generasi muda berperan sangat penting dalam perkembangan teknologi dan media sosial. Hal ini disebabkan kehidupan  mereka yang seakan tidak pernah bisa dilepaskan dari pengaruh media sosial.

Seperti yang pernah dikatakan oleh Presiden Sukarno dalam pidatonya  “Kalau pemuda sudah berumur 21-22 tahun sama sekali tak berjuang untuk tanah air dan bangsa nya, pemuda begini lebih baik digunduli saja kepalanya“. Berjuangnya pemuda pada masa lalu, tentunya berbeda dengan pemuda pada masa sekarang yang sudah hidup dengan tekhnologi yang serba modern. Namun semangat perjuangan mereka harus terus-menerus diwarisi oleh generasi muda.

Dengan diadakaannya program KKN bagi Mahasiswa diharapkan mahasiswa dapat menjadi tangan kangan dari Pemerintah dalam melakukan edukasi tentang bahanya penyebaran berita bohong kepada masyarakat desa, karena penyebaran berita hoax in, dapat merugikan negara dan masyarakat. Selain itu, yang harus diketahui adalah bagi penyebar hoax, dapat diancam Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE (UU ITE) yang menyatakan “Setiap orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik yang Dapat diancam pidana berdasarkan Pasal 45A ayat (1) UU 19/2016, yaitu dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 miliar.(***).

Related posts