Dul Ketem Perintah Herman Bakar Hutan

  • Whatsapp
Terdakwa Abdullah alias Dul Ketem dan Herman saat menjalani sidang perdana kasus Karhutla di PN Sungailiat, kemarin. Keduanya dijerat pasal berlapis. (Foto: Zuesti Novianti)

SUNGAILIAT – Pengusaha pasir timah dan mineral ikutan warga Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Abdullah alias Dul Ketem, Selasa kemarin (28/1/2020) akhirnya duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri (PN) Sungailiat. Dul Ketem bersama anak buahnya, Herman menjadi terdakwa dan menjalani sidang perdana dalam kasus pembakaran hutan dan lahan gambut di kawasan hutan produksi Dusun Temberan, Desa Air Anyir, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka.

Dalam sidang yang dipimpin ketua majelis hakim Fatimah didampingi anggota Dewi dan Arif Kadarmo, kedua terdakwa mendengarkan pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fengki Indra didampingi Rizal Purwanto dari Kejari Bangka.

Read More

JPU menyebutkan, kejadian pembakaran hutan dan lahan yang diduga dilakukan oleh kedua terdakwa terjadi pada bulan September 2019 di kawasan hutan produksi Desa Air Anyir.

Menariknya, aksi pembakaran hutan dan lahan tersebut pertama kali diketahui oleh Kapolda Babel yang saat itu dijabat Brigjen Pol Istiono ketika sedang melakukan patroli lewat jalur udara menggunakan helikopter untuk memantau kebakaran hutan yang terjadi Pulau Bangka.

Patroli itu dilakukan Kapolda Babel pada tanggal 23 September 2019. Dan saat helicopter melintas di Kecamatan Merawang, Kapolda melihat ada aktivitas pembakaran hutan dan lahan disertai kepulan asap.

Setelah itu, Kapolda memerintahkan anggota dari Polda Babel dan Polsek Merawang untuk turun kroscek ke lokasi. Kemudian didapati lahan seluas 3 hektar diduga telah dibakar dengan sengaja oleh kedua terdakwa.

Tak lama kemudian, Kapolda Babel bersama pihak terkait lainnya turun ke lapangan dan menemukan 1 unit alat berat berupa PC mini, digunakan untuk mengangkat dan memindahkan batang pohon yang ada di sekitar lokasi.

Tak cuma itu, petugas mendapati seorang pekerja bernama Herman yang mengaku diperintahkan oleh terdakwa Dul Ketem untuk melakukan pembukaan lahan dan membakar lahan seluas 3 hektar di lokasi dimaksud.

Karenanya, atas perbuatan itu kedua terdakwa dijerat Pasal 78 ayat 3 jo Pasal 50 ayat 30 huruf d Undang undang Nomor 41 tahun 1999 jo Pasal 55 ayat 5 ke 1 KUHP dan Pasal 92 ayat 1 huruf d jo Pasal 17 ayat 2 huruf a UU Nomor 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Pengerusakan Hutan, jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Namun, terhadap dakwaan yang dibacakan JPU, baik terdakwa Abdullah maupun Herman menyatakan keberataan.

“Keberatan yang mulia karena tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya,” kata terdakwa Dul Ketem di hadapan majelis hakim.

Atas sikap itu, majelis hakim meminta kuasa hukum terdakwa Abdullah dan Herman, yakni Budiono untuk menuangkan keberatan kedua terdakwa terhadap dakwaan JPU dalam eksepsi pada persidangan Selasa mendatang.

Sebelum persidangan ditutup, Dul Ketem juga meminta kepada majelis hakim untuk melakukan sidang lapangan di lokasi yang didakwakan.

“Konsultasikan dengan kuasa hukumnya nanti kuasa hukumnya yang akan mengajukan hal itu ke kita, karena dalam persidangan ini ada tahapannya,” kata Fatimah.

Terkait nota keberatan yang disampaikan terdakwa Abdullah dan Herman usai Penuntut Umum membacakan dakwaan dimuka sidang, kuasa hukum terdakwa menilai dakwaan JPU tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.

“Oleh karena itu kita menggunakan hak kita untuk melakukan eksepsi terhadap dakwaan tersebut,” kata Budiono usai sidang.

Selain itu, ia juga akan meminta kepada majelis hakim untuk dilakukan sidang lapangan guna meninjau secara langsung lokasi dugaan karhutla yang menjerat kedua kliennya. (2nd/1)

Related posts