by

Dua Srikandi yang Ingin Mengabdikan Diri

Oleh: Istiya Marwinda,S.IP
Fasilitator Dewasa Forum Anak Bangka Selatan/Alumni Universitas Nasional 

Istiya Marwinda,S.IP

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018 berlangsung di 171 daerah, ada 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Pada saat ini, terdapat tiga daerah di Provinsi Bangka Belitung ikut melaksanakan Pilkada di bulan Juni 2018 mendatang. Terdapat dua calon kandidat kepala daerah berjenis kelamin perempuan yang akan mewakili suara perempuan di Bangka Belitung. Dua calon yang sudah terekomendasi oleh usungan beberapa partai ini, merupakan calon kandidat Walikota Kota Pangkalpinang dan juga calon kandidat Bupati Belitung. Dua bakal calon yang akan terjun ke panggung politik ini akan bersaing dengan beberapa pasangan calon lain yang notabennya laki-laki.

Isu gender tidak lagi menjadi halangan bagi kaum perempuan untuk bisa mendapatkan hak yang sama di kancah perpolitikan. Dalam hal ini, Pilkada adalah ruang bebas bagi siapun yang ingin di pilih dan memilih. Proses ini mutlak sesuai dengan sistem yang sedang kita anut yaitu demokrasi. Tidak ada skat pembatas antara kaum perempuan ataupun  laki-laki untuk menikmati dunia demokrasi.  Tidak merendahkan kualitas kaum laki-laki dan juga tidak menganggap kaum laki lebih hebat dari perempuan. Tidak ada yang bisa menutup kemungkinan bahwa perempuan juga mampu menjadi lebih hebat dari laki-laki. Tidak ada yang dibedakan dari kedua jenis kelamin ini untuk soal politik.

Dengan mampu melaksanakan peran seorang perempuan secara lahiriah, perempuan juga sekaligus secara bersamaan tidak segan-segan melakukan perbuatan yang juga biasa dilakukan laki-laki. Jadi, pada kesimpulannya perempuan juga memenuhi potensi besar dalam aktifitas apapun. Pentingnya partisipasi politik perempuan tidak hanya dalam bentuk pemenuhan 30 %  keterwakilan perempuan yang hanya sebagai syarat semata seperti halnya pemilu legislatif. Melainkan betul-betul berdaya saing, berkesempatan yang sama dalam konteks kemajuan daerah.

Dengan adanya dua kandidat calon yang akan terjun ke panggung politik Pilkada serentak di bulan Juni 2018 mendatang, memberikan pembuktian bahwa Bangka Belitung mengalami partisipasi politik perempuan yang meningkat. Bila wanita atau perempuan selalu di indentifikasikan sebagai kaum feminis, lantaran bukan menjadi penghambat bagi seroang perempuan. Watak feminisme yang melekat justru akan menjadi cara yang cukup baik dalam dunia perpolitikan yang ambisius terkesan keras dan menakutkan. Ikut campur perempuan dalam hal perpolitikan akan menambah kepekaan dalam perbaikan suatu daerah. Seperti contoh isu perempuan dengan berbagai problematikanya yang kurang di respon akan menjadi terobati dengan campur tangan kaum wanita.

Munculnya dua srikandi Bangka Belitung yang sudah berani secara tegas ingin mengabdikan diri sebagai agen kepercayaan masyarakat. Dilihat dari pencalonan salah satu perempuan tangguh dari negeri laskar pelangi, Belitung yang dikendarai oleh partai politik berlambang ka’bah yang sebelumnya adalah seorang anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung. Beliau merupakan aktor perempuan yang sudah terbukti mampu menjadi srikandinya Belitung sebagai wakil rakyat Belitung dalam menyuarakan kehendak rakyat sebagai legislator. Dan selanjutnya adalah sorang pengusaha dan juga berpendidikan dikenal sebagai ibu yang tegas dan penyayang ini merupakan salah satu kandidat calon walikota yang dikendarai oleh partai politik berlambang pohon beringin.

Mereka adalah perempuan politik yang memiliki keberanian memperjuangkan keterwakilan dalam sistem politik di Indonesia. Keterwakilan perempuan yang berlangsung ini juga menghampus isu gender yang selalu menjadi penghambat keberlangsungan demokrasi. Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise bahwa penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat di daerah masih diperlukan peningkatan pengintegrasian gender. Melalui penguatan kelembagaan, perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, penganggaran, pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan, program, dan kegiatan yang responsif gender.

Maka dari itu, segala tindakan yang feminism tidaklah buruk untuk di campurtangankan pada sistem politik ataupun demokrasi. Ini akan menjadi partisipasi yang sangat positif bagi perkembangan dan kemajuan kaum perempuan. Dan juga menyelamatkan perempuan dari segala bentuk diskriminasi. Kaum perempuan harus dijauhkan dari segala bentuk penindasan. Menaikkan derajat perempuan dengan hasil kerja dan sebuah karya nyata akan mampu mendobrak kemajuan daerah.(****).

Comment

BERITA TERBARU