Dua Penambang DAS Nibung Tersangka

  • Whatsapp
Tim gabungan melakukan penertiban kegiatan tambang Ilegal pasir timah di lokasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Desa Nibung Kecamatan Koba, Bangka Tengah. Tampak para penambang diberi himbauan agar mengentikan aktifitas penambang di wilayah DAS. (foto: Tamimi)

Dikenakan Pasal 158 UU Minerba
Ancaman Maksimal 10 Tahun Penjara

KOBA – Polres Bangka Tengah menetapkan dua tersangka dalam kasus penambangan Ilegal pasir timah di lokasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Desa Nibung Kecamatan Koba, Bangka Tengah.
Dua tersangka berinisial FH (29) dan PI, merupakan warga Desa Nibung Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah.

“Kita menetapkan dua tersangka pelaku tambang ilegal di DAS Desa Nibung berinisial FH dan PI. Sedangkan saksi ada empat orang yang diminta keterangan,” ujar Kabag Ops Polres Bangka Tengah AKP. Andi Purwanto saat dikonfirmasi Rakyat Pos, Kamis (10/10/2019).

Dikatakannya, dua tersangka diproses secara hukum karena memang sudah membandel. Padahal langkah prentif dan preventif telah dilakukan.

“Terakhir kita juga melakukan pemasangan spanduk bersama Timgab pada tanggal 2 Oktober 2019. Kemudian keesokan harinya beraktivitas lagi,” ungkapnya.
Ia menambahkan ada enam pelaku diamankan malam itu dengan tiga mesin. Setelah pemeriksaan, baru ditetapkan tersangka dua orang dan empat saksi.

“Tersangka dikenakan Pasal 158 Undang-undang nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara dengan ancaman maksimal 10 tahun penjara,” tukasnya.
“Sebelumnya sudah kita peringatkan secara baik-baik, tetapi tidak digubris, bahkan kita pasang spanduk larangan namun malah di cabut dan di buang. Saya berharap tidak lagi melakukan penambangan di DAS, selain merusak lingkungan akan berdampak negatif,” sambungnya.

Senpi & Sajam dalam Ponton TI

Terpisah, Satuan Polisi Air Polres Bangka Selatan menemukan 1 pucuk senjata api rakitan dan 3 butir amunisi call 5,56 mm pada penertiban, Jumat pekan lalu.

Senpi tersebut tersangkut di baling baling perahu sekitar 75 meter saat melintas di lokasi penertiban. Barang bukti tersebut terbungkus plastik diikat dengan tali dan sebotol air mineral yang berfungsi sebagai pelampung. Demikian dijelaskan Kabag Ops Kompol Rusnoto didampingi Kasatpolair IPTU Bambang Bekti dalam Konfrensi Pers yang digelar di Polres Basel Selasa (8/10/2019).

Selain senpi rakitan, polisi juga menemukan sebungkus rokok yang berisi pirex dan jarum suntik yang diduga digunakan untuk menghisap sabu. Tak hanya itu, petugas juga mendapati 9 senjata tajam yakni 6 pisau, 1 golok, 1 parang serta 1 tombak. “Kita menemukan 1 senpi rakitan, pirex diduga untuk sabu, serta 9 sajam di ponton yang sudah tidak ada lagi orangnya dan sudah kita amankan,” jelas Bambang.

Pada hari itu, sebanyak 37 unit ponton ilegal yang beroperasi di perairan kolong laut perbatasan Desa Kepoh dan Desa Tukak ditertibkan Jumat (4/10/2019) pagi sekitar pukul 07.00 WIB.
Saat penertiban oleh Satpolair Polres Basel, ponton tersebut sudah tidak bekerja lagi. Para penunggu ponton sebanyak 41 orang dikumpulkan. Kasatpolair IPTU Bambang Bekti memberikan himbauan kepada para penunggu ponton agar segera bergeser dan tidak menambang di kawasan tangkap nelayan.

“Kita tidak bisa melakukan penangkapan karena ponton tidak bekerja, tidak ada BB pasir timahnya sehingga kita minta mereka segera bergeser, jika masih di sana dan kita temukan bekerja berikut BB nya tentu akan kita tindak,” tegas Bambang dalam Konfrensi Pers Selasa (8/10/2019).

Aktivitas puluhan TI ponton ilegal di perairan kolong laut Toboali sejak beberapa bulan terakhir kembali dikeluhkan nelayan Desa Kepoh dan nelayan Tukak. Bahkan belum lama ini, nelayan telah melayangkan surat audensi ke DPRD Basel guna melaporkan aktivitas ilegal tersebut. (ran/raw/6)

Related posts