by

Dramaturgi Kehidupan Pengemis

-Opini-94 views

Oleh: Berlian Saputra
Alumni FISIP UBB & Penikmat Kajian Sosial Internasional

Berlian Saputra

Seperti yang diungkapkan oleh Erving Goffman sebagai salah satu tokoh sosiologi kontemporer, bahwa dunia adalah panggung sandiwara. Ungkapan ini sebagai salah satu bukti bahwa kehidupan dunia penuh drama. Panggung sandiwara kehidupan tersebut terbagi menjadi 2 yaitu panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Memang dalam kehidupan di dunia ini, para aktor individu sering kali menampilkan diri, memainkan peran mereka untuk menyesuaikan berbagai situasi dan kondisi tertentu melalui panggung depan dan panggung belakang. Banyak sekali peristiwa atau kejadian yang tak terduga melalui dramaturgi. Kapanpun dan dimanapun, masyarakat di belahan dunia akan memainkan drama mereka secara berproses. Akan tetapi, masyarakat dunia sering kali merasa tertipu atau terjebak dengan penampilan mereka di panggung depan dibandingkan dengan kehidupan mereka yang sebenarnya.
Penulis mengambil salah satu contoh masalah sosial yang berada di perkotaan dan sudah membudaya sejak lama yaitu kehiudpan para pengemis. Bagaimana kehidupan dramaturgi dikaitkan dengan masalah sosial pengemis di dunia? Pengemis merupakan salah satu contoh kasus dramaturgi yang marak terjadi dimanapun. Mengingat lapangan pekerjaan yang sempit dan penghasilan tidak menentu atau kecil, sebagian masyarakat beralih untuk menjadi pengemis. Profesi pengemis sebagian banyak digandrungi oleh masyarakat kelas bawah dan cara modern yang efisien. Pekerjaan pengemis dapat dikatakan pekerjaan yang ringan dan mudah, hanya sambil duduk berjam-jam dan menadah tangan ke atas langsung dapat beberapa lembaran uang. Para pengemis biasanya memulai aksi mereka di tempat-tempat keramaian.
Siapa sangka bahwa pendapatan pengemis dapat melebihi pendapatan para buruh/karyawan lainnya. Mereka dapat membeli rumah, mobil, perhiasan, memilki rekening tabungan, dan lain sebagainya sebagai kemewahan diri mereka. Para pengemis pun memulai bergaya di atas panggung sandiwara kehidupan dengan melakukan dan menghalalkan berbagai cara agar mendapat uang lebih banyak. Mulai dari penampilan yang kumal dan lusuh, pura-pura cacat fisik, dan menggendong anak kecil agar meminta belas kasihan dari orang-orang sekitar yang sedang lewat.
Mereka pun sengaja memanfaatkan panggung depan mereka agar tidak ketahuan kondisi status sosial mereka yang sebenarnya. Kenyataannya, negara seperti Indonesia para pengemis bisa meraup untung sebesar Rp.200 ribu-Rp300 ribu dalam sehari jika kondisinya memang ramai, tetapi jika sepi pendapatan pengemis hanya berkisar puluhan ribu. Tak dapat dipungkiri bahwa negara Indonesia dengan biaya hidup yang murah meskipun para pengemis dapat untung yang lumayan besar. Jika dikalkulasikan dalam waktu sebulan, maka pendapatan pengemis Indonesia berkisar 6-9 juta rupiah. Sungguh diluar dugaan dan tak habis pikir. Di panggung depan mereka berpenampilan sebagai pengemis, sedangkan di panggung belakang mereka berpenampilan sebagai orang kaya.
Tidak hanya di negara Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain yang menjadi tujuan mengemis dengan mengandalkan negara-negara maju. Memang kerap terjadi, di negara-negara maju para imigran sengaja datang ke perkotaan untuk mengemis dikarenakan biaya hidup mereka habis dan kehilangan pekerjaannya. Di negara maju biasanya biaya hidup yang mahal dan pekerjaan dengan gaji yang tinggi membuat kesempatan para imigran untuk memulai beraksi jadi pengemis. Seperti negara Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Australia, dan Arab Saudi. Di sisi lain, negara-negara maju tersebut tak terlepas dari terdapatnya dibawah garis kemiskinan. Di Amerika Serikat saja misalnya, pasangan suami istri Jason Pancoast dan Elizabeth Johnson sebagai pengemis terkaya dari negara bagian Oregon yang bisa menghasilkan uang 30-40.000 USD dalam setahun. Sungguh angka yang lumayan fantastis bukan? Apalagi negara penghasil minyak bumi, Arab Saudi. Para pengemis di Arab Saudi biasanya meminta disaat orang-orang datang ke masjid untuk shalat. Dengan pendapatan perbulan berkisar belasan juta rupiah.
Melihat fenomena pengemis kaya seperti ini bukan hal yang biasa. Namun yang terpenting adalah selagi masih diberi kesehatan jasmani dan rohani, ada baiknya melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kriteria masing-masing selain mengemis. Karena mengemis bukan suatu cara untuk mendapatkan belas kasihan dari orang-orang dan uang banyak. Lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah. Itu yang terbaik!(****).

 

Comment

BERITA TERBARU