Dosen Stisipol Nilai Pernyataan Amri Provokasi

  • Whatsapp
foto: ilustrasi

PANGKALPINANG – Pernyataan Wakil Ketua DPRD Babel, Amri Cahyadi, mengenai ornamen China dibongkar dipandang sebagai pernyataan provokasi.
“Pernyataan itu merupakan pernyataan provokasi yang bisa menodai kerukunan dan keberagaman masyarakat di Bangka Belitung,” kata Ahmad Fikri Rahman, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Pahlawan 12 Sungailiat, kemarin.
Fikri menyebutkan bahwa ornamen-ornamen china yang tersebar di Babel merupakan salah satu simbol kerukunan antar suku dan budaya masyarakat di Babel. Keberadaannya tidak terlepas dari nilai-nilai sejarah nenek moyang sejak puluhan tahun silam.
Oleh karena itu, Fikri mengatakan bukan hal aneh jika banyak terdapat ornamen-ornamen budaya lain seperti etnis china menghiasi di Babel. Semua merupakan peninggalan yang keberadaannya sudah membumi di Babel sejak puluhan tahun lalu.
“Kita harus berkaca pada nilai sejarah masuknya etnis china masuk ke Bangka Belitung sejak masa kolonial belanda dulu. Saat etnis china masuk ke Bangka Belitung dulu, mereka tidak hanya membawa fisik, tapi kulturnya ikut masuk,” katanya lagi.
“Jadi tidak perlu heran kalau banyak ornamen etnis china atau budaya lain tersebar di berbagai wilayah Bangka dan Belitung, bahkan menurut saya ornamen-ornamen itu kini menjadi simbol sosial kerukunan masyarakat,” sambungnya.
Fikri menjelaskan bahwa seyogyanya keragaman etnis, agama, maupun budaya yang ada di Provinsi Bangka Belitung mampu dijadikan modal untuk kemajuan masyarakat Babel yang majemuk.
“Menurut saya perbedaan yang ada saat ini, perbedaan budaya, suku, agama itu sangat bisa menjadi modal untuk mempererat persatuan masyarakat dan kemajuan daerah,” urainya.
Sekalipun Bangka Belitung dihiasi berbagai etnis suku dan budaya, Fikri tidak pernah melihat bahwa keragaman tersebut menjadi pemicu konflik masyarakat Babel, malahan dengan keanekaragaman tersebut masyarakata tetap berdampingan secara harmoni.
Ia mengharapkan, bahwa apa yang selama ini sudah berjalan dengan baik di Babel, bisa terus berjalan mengisi ruang persatuan dan kesatuan Babel kedepannya.
“Jadi jangan jadikan ornamen-ornamen tersebut sebagai masalah. Karena Bangka Belitung dari dulu sudah dinominasi dengan keragaman yang berbeda-beda. Tentu dengan keragaman itu masyarakat bisa berdampingan dan bergotong royong tanpa menimbulkan konflik sedikit pun,” tutup Fikri.
Seperti diberitakan, Wakil Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Amri Cahyadi menilai ada upaya masif yang dilakukan oleh Negara China untuk melakukan aneksasi (pencaplokan) kultural di wilayah Babel.
Hal itu disampaikan dia, mengingat banyaknya ornamen-ornamen China yang dibangun di wilayah Babel dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.
“Sepertinya sudah ada upaya masif untuk melakukan pencaplokan secara kultural, dimana dengan banyaknya pembangunan ornamen-ornamen China di Kepulauan Bangka Belitung yang berupa puluhan gapura, gerbang, tempat pemujaan patung, dan simbol-simbol China,” kata Amri di ruang kerjanya, Kamis (9/1/2020).
Menurut dia, pembangunan ornamen-ornamen itu hanya sebuah kamuflase untuk meningkatkan pariwisata di Babel. Padahal versi dia, hal itu merupakan salah satu upaya Negara China untuk menganeksasi wilayah Babel secara kultural.
“Ini kan ornamen-ornamen yang seolah-olah dibangun di sini dalam bentuk bantuan atau sumbangan dari China untuk meningkatkan pariwisata. Seolah-olah begitu. Tetapi ini sebetulnya upaya pencaplokan secara kultural, sehingga mereka (China-red) bisa klaim bahwa Indonesia sudah banyak dimasuki oleh China,” ujarnya.
Adanya upaya pencaplokan di wilayah Babel ini, diungkapkan dia, sama kondisinya dengan Kepulauan Riau tepatnya di Laut Natuna yang saat ini diklaim sepihak oleh Negara China, sehingga kejadian ini menimbulkan keprihatinan dalam dirinya.
“Saya prihatin atas upaya pencaplokan secara fisik yang dilakukan oleh China terhadap kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia di Natuna,” ucapnya.
Karenanya, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPP Babel ini mengimbau dan meminta keras agar pemerintah daerah dapat menginventarisir dan membongkar ornamen-ornamen tersebut yang diduga merupakan bantuan atau sumbangan dari Negara China.
“Mengajak pemerintah kita, dimulai dari pemerintah provinsi bersepakat untuk melakukan pembongkaran terhadap ornamen-ornamen yang dibangun di wilayah kita, kecuali rumah-rumah ibadah. Beda kalau rumah ibadah, rumah ibadah kan memang ada aturannya,” tukas Amri.
“Oleh karena itu, mari kita sadar, dan sekali lagi saya mengimbau kepada pemerintah daerah kita khususnya pemerintah pusat untuk mencermati ini, jangan sampai kita tetap bisu, diam dengan upaya-upaya yang secara masif untuk melakukan penjajahan di daerah kita ini,” pungkas mantan Calon Wakil Bupati Bangka ini. (ron/6)

Related posts