by

Distamben Tak Pernah Keluarkan Izin, Sunfo Terancam 10 Tahun Penjara

Denda 10 Miliar

SUNGAILIAT – Perbuatan penampungan timah oleh salah satu bos timah di Belinyu Lie Sun Fo alias Sunfo dinyatakan ilegal. Hal ini terkuak dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Sungailiat yang mengagendakan keterangan ahli dari Dinas Pertambangan Energi dan Sumber Daya Mineral (Distamben SDM) Babel.

Ahli dari Distamben SDA Babel, Erphan Murtedi dihadapan majelis hakim persidangan yang dipimpin Oloan E. Hutabarat didampingi hakim anggota Benny dan Narendra, mengatakan, kesaksiannya dalam sidang terkait penampungan tanpa izin oleh terdakwa Sunfo. Yang mana menurut catatan Distamben Babel, terdakwa tidak pernah mengajukan Izin Usaha Pertambangan (IUP) untuk penampungan timahnya.

“Tidak pernah sama sekali mengajukan izin,” kata Erphan menegaskan Sunfo tak pernah memiliki izin ataupun mengajukan izin.

Padahal sesuai Undang-Undang nomor 44 tahun 2009 tentang Minerba yang kemudian diturunkan PP 23 tahun 2010 untuk izin penampungan secara khusus tidak eksplisit tetapi implisit dalam izin usaha pertambangan.

Dia jelaskan, bila memiliki IUP operasi produksi maka otomotis dari hasil tambang berhak melakukan penampungan hasil penambangan. Kalau memiliki izin operasi produksi pengolahan pemurnian maka wajib memiliki gudang untuk menampung bahan yang akan menjadi bahan baku untuk melakukan pemurnian itu, termasuk bahan jadi hasil olahan pemurnian itu.

“Hal ini menyangkut perizinan yang masuk ke izin usaha pertambangan. Oleh saudara tersangka (Sunfo) itu artinya dia tidak mengantongi sama sekali izin usaha pertambangan. Ataupun ia tidak bekerjasama dengan pemegang izin usaha pertambangan, kalau dia bekerja sama berarti dia mitra, maka masih sah, timah yang di dia itu dari pemegang IUP,” jelasnya.

Untuk pembelian timah juga harus ada perjanjian kerjasama. Pembelian itu harus dari IUP yang legal dan tidak bisa membeli dari IUP ilegal. Perbuatan Sunfo dalam penampungan timah secara ilegal bertentangan dengan pasal 161 Undang-Undang nomor 4 tahun 2009 yang ancamannya maksimal 10 tahun penjara dan denda maksimal Rp10 miliar.

“Kasus ini sudah lama, saya pada saat itu tahun 2017 masih bidang yang mengurusi masalah perizinan pertambangan. Kalau dia menampung timah dia wajib memiliki IUP produksi. Kalau dia membeli dari pihak lain harus memiliki perjanjian kerjasama dengan pihak lain, namun pihak tersebut harus memiliki izin. Terdakwa tidak pernah mengajukan IUP, dulunya juga tidak pernah mengajukan.” tutupnya.

Menanggapi keterangan ahli ini Sunfo yang tidak didampingi pengacara sejak persidangan menerima. Sidang yang digelar sore hari ini kemudian ditunda kembali Selasa pekan depan dengan agenda keterangan saksi-saksi lainnya dihadirkan jaksa penuntut umum.

Sebelumnya Sunfo yang merupakan warga Belinyu dalam perkara pidana kepemilikan timah ilegal diringkus tim gabungan Dirkrimsus Polda Babel bersama Polres Bangka. Tim gabungan menggerebek gudang penampungan pasir timah milik Sun Fo di kampung Kapitan, Kelurahan Mantung Belinyu dengan menyita barang bukti sebanyak 1.471 kg atau 1.4 ton pada Sabtu (3/6/2017) malam.

Saat penggerebekan, polisi tidak menemukan pemilik pasir timah tersebut karena berhasil melarikan diri dan hanya mengamankan barang buktinya saja. Lama menyandang status DPO, terdakwa Sunfo akhirnya menyerahkan diri ke Mapolres Bangka pada bulan April 2018.

Lantaran menyandang riwayat sakit lever, penyidik mengalihkan status penahanan terdakwa Sun Fo dari tahanan rutan menjadi tahanan rumah. Begitu juga saat terdakwa dan barang bukti dilimpahkan penyidik Polres Bangka ke Penuntut Umum Kejari Bangka. Status penahanan terdakwa dialihkan menjadi tahanan rumah dengan alasan terdakwa memiliki riwayat sakit lever hingga terdakwa disidangkan ke meja hijau PN Sungailiat status tahanannya dialihkan menjadi tahanan rutan.(2nd/6)

Comment

BERITA TERBARU