by

Disdik Akui Sistem Zonasi Banyak Protes Orang Tua

Banyak Orang Tua Ingin Anaknya di Sekolah Negeri

Yahyan

KOBA – Dinas Pendidikan Kabupaten Bangka Tengan (Bateng) mengakui, penerapan sistem zonasi oleh Pemerintah Pusat dalam Pendaftaran Penerimaan Siswa Baru (PPDB) di Bangka Tengah banyak mendapat protes dari para orang tua siswa.

Hal itu disebabkan masih besarnya harapan orangtua siswa untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tertentu.

“Protes itu, karena banyak orang tua yang menginginkan anak-anaknya di sekolah negeri lantaran menurut mereka biaya di sekolah swasta lebih mahal. Padahal di negeri juga kena biaya untuk beli seragam, buku dan sebagainya,” ujar Kabid Pendidikan Menengah Pertama Dinas Pendidikan Bateng, Yahyan saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (10/7/2018).

Dikatakannya, hal itu didasari oleh enggannya orangtua menyekolahkan anaknya di sekolah swasta meskipun sekolah itu menurut zonasi lebih dekat dengan tempat tinggal.

“Makanya, ada orang tua yang sampai melapor hal itu ke dewan bahkan sampai ke pak Bupati. Namun kita tetap tidak bisa, karena itu merupakan aturan dari Kemendikbud,” ucapnya.

Menurutnya, penerimaan siswa baru tidak bisa harus di sekolah negeri semua, karena daya tampung sekolah itu terbatas dan keterbatasan fasilitas maupun SDM tambahan di sekolah negeri.

“Daya tampung tiap sekolah ini terbatas, kalau dipaksakan tetap tidak bisa, harus ada ruangan baru dan penambahan guru lagi. Kalau guru honorer justru akan menambah biaya lagi, sedangkan anggarannya tidak ada untuk itu,” terangnya.

Untuk Kecamatan Koba sendiri katanya, jumlah Sekolah Menengah Pertama hanya ada Lima SMP dan mampu menampung sebanyak 623 siswa yang lulus SD.

Selain itu, untuk di Kecamatan Koba sendiri dalam penerimaan siswa baru dibagi menjadi dua zona, dimana zona satu dapat menampung 516 siswa, sedangkan zona dua bisa menampung 108 siswa.

“Zona satu ini meliputi SMP 1 Koba, SMP Stania, SMP Muhammadiyah, dan MTs Al Muhajirin. Sedakan zona dua hanya SMP 2 koba saja,” tuturnya.

Sedangkan jumlah kelulusan siswa SD pada zona satu lebih banyak daripada daya tampungnya yakni selisih delapan siswa. Sementara pada zona dua justru kekurangan sembilan siswa.

“Di zona satu kelulusan SD sebanyak 524 siswa dan daya tampungnya 516 sedangkan zona dua kelulusannya 99 siswa, daya tampungnya 108 siswa. Nanti domisili siswa zona satu yang dekat ke zona dua kita alihkan agar bisa cukup,” jelasnya.

Ia berharap agar para orangtua ataupun wali murid dapat mengikuti aturan tersebut dan menyekolahkan anaknya kejenjang selanjutnya.

“Meskipun ada protes dari orangtua siswa, tetapi kita berharap mereka tetap memperhatikan pendidikan anaknya dan terus melanjutkan pendidikannya jangan gara zonasi ini masa depan anakn dikorbankan,” pungkasnya. (ran/3).

Comment

BERITA TERBARU