Diprotes, PT. Ranati Tutup Jalan Umum

  • Whatsapp
SAVE TANJUNG TINGGI – Pamplet bergambar dan bertuliskan Save Pantai Tanjung Tinggi kini marak di media social. Salah satunya pamplet ini yang memprotes dan menolak rencana dialihkannya jalan penghubung desa ke belakang Hotel Lor In oleh pengembang PT Ranati. Para pelaku menolak rencana itu, anggota dewan pun menyatakan tidak setuju karena jalan merupakan fasilitas publik. (Foto: Ist/Bastiar Riyanto)

Para Pelaku Wisata dan Dewan tak Setuju
Edi Nestapa: Itu Fasilitas Publik

 

Sijuk – Rencana PT. Ranati untuk mengalihfungsikan jalan umum depan Hotel Lor In di Desa Tanjung Tinggi, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung, menuai protes dari berbagai elemen masyarakat.
Jalan pusat sepanjang 500 meter yang menghubungkan Desa Keciput dan Desa Tanjungtinggi itu, rencananya akan dialihkan oleh pihak perusahaan ke belakang Hotel Lor In. Dan jalan penghubung desa itu akan ditutup bagi kendaraan umum. Sebagai gantinya PT. Ranati membangun jalan baru di belakang hotelnya.
Rencana pengalihan jalan ini sejak Oktober 2018 lalu, sudah dibahas antara PT. Ranati selaku pemilik konsesi objek wisata Tanjung Tinggi, bersama Pemerintah Desa Tanjung Tinggi, Pemerintah Kabupaten Belitung dan Pemerintah Provinsi Bangka Belitung. Jalan yang berbatasan dengan bibir pantai dan Hotel Lor In ini rencananya akan disulap menjadi lokasi pengembangan pariwisata, area rileksasi, jogging track, sepeda dan pusat jajanan.
“Pengalihan jalan itu tidak mudah, prosesnya panjang karena itu jalan pusat dan membutuhkan perizinan,” kata Camat Sijuk, Abdul Hadi kepada Rakyat Pos, Selasa (04/12/2018).
Menurut Abdul, pembangunan jalan baru oleh PT. Ranati kualitasnya harus sama dengan jalan yang akan dialihfungsikan. Ia tidak mempermasalahkan pemindahan jalan itu, asalkan masyarakat tidak berkeberatan dan jalan Tanjung Tinggi terbuka untuk umum.
“Tanjung Tinggi tidak dijadikan area privat. Selama ini, Pantai Bilik Tanjung Tinggi seperti tidak terurus. Siapa yang bertangungjawab terhadap kawasan wisata itu, pemerintah atau pengembang PT. Ranati?” tanyanya.
Namun, Abdul.Hadi mengingatkan jika di areal wisata Tanjung Tinggi ada sekitar 40 pedagang yang menjajakan barang dagangannya. Mulai dari makanan, minuman, oleh-oleh hingga souvenir.
Kekuatiran jika salah satu icon pariwisata Belitung dijadikan area privat dan tertutup untuk umum, menjadi alasan para pelaku pariwisata menolak rencana PT. Ranati memindahkan jalan tersebut. Penolakan pun menjadi marak di media sosial.
Seorang pelaku pariwisata, Dharmawan menyebutkan terlalu banyak aturan yang dilanggar atas nama pembangunan, dan terlalu banyak tanah rakyat yang dikuasai oleh segelintir orang.
“Masih ada waktu untuk kita selamatkan aset masyarakat di jalan raya Tanjung Tinggi untuk tidak dikuasai oleh pengusaha,” kata Engon panggilan Dharmawan.
Lantas, Engon membandingkan pengembangan pariwisata Belitung dengan Bali yang sudah lama mendunia. “Bali tidak pernah menutup fasilitas publik baik jalan maupun pantai,” tandasnya.
Hal senada disampaikan Edi Nasapta, Anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung. Edi pun merasa miris dengan rencana pemindahan jalan untuk pengembangan pariwisata. Menurutnya, penutupan jalan umum di Tanjung Tinggi untuk pengembangan pariwisata bukanlah solusi.
Edi justru meyakini pengalihan jalan itu akan menghilang keaslian dan daya tarik dari pariwisata Belitung dan kunjungan wisatwan akan menurun. Karena itu ia menegaskan tidak setuju dengan rencana itu.
“Semestinya Pantai Tanjung Tinggi ini dikemas rapi, bukan pemindahan jalan, karena itu fasilitas publik,” tegas politisi Gerindra ini.
“Itukan, akan merugikan banyak orang yang seharusnya orang lebih cepat sampai tujuan, tapi dibuat lambat karena harus jalan memutar,” pungkasnya. (yan/1)

Related posts